Multaqa Ulama Aswaja DIY, Umat Islam Adalah Umat Yang Mulia

Gunung Kidul DIY, (Shautululama) – Alhmadulillah Ahad, 26 Januari 2020 telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Yogyakarta dengan sukses lancar. Multaqa kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hadid Karangmojo, Gunung Kidul, DIY yang diasuh oleh Ustadz Yusuf Ismail Al Hadid.

Dalam pemaparannya Ustadz Yusuf Ismail Al Hadid, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hadid Karangmojo, Gunung Kidul, DIY, menceritakan pengalaman dakwahnya di daerah rawan aqidah ini. Ustadz Yusuf Al-Hadid, demikian beliau biasa dipanggil, adalah penggerak dakwah Islam di daerah yang rawan pemurtadan. Pengalamannya bersentuhan dengan dunia missionaris pada masa lalu menjadikannya paham betul dengan berbagai agenda pemurtadan.

Multaqa Ulama Yogyakarta pada kesempatan ini mengambil tema: 2020 Tahun Umat Islam “Refleksi 2019 dan Proyeksi Masa Depan Umat Islam 2020”.

Hadir dalam acara ini para ulama beserta muhibbinnya. Baik dari Gunung Kidul, Bantul, Sleman dan wilayah DIY lainnya. Yang menjadikan acara ini lebih Istimewa, ulama-ulama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur juga ikut hadir.

Mauidhah hasanah dan tausiyah gilir berganti disampaikan. Ustadz Edi Subroto selaku Ketua Forum Komunikasi Ulama menyampaikan bahwa keberkahan akan terwujud jika Islam diterapkan.

Hal ini dipertegas oleh shohibul bait Ustadz Yusuf Al-Hadid bahwa menerapkan Islam memerlukan keberanian. Umat Islam harus berani, karena ketika Islam tidak diterapkan maka umat Islam akan mengalami keterpurukan.

KH Harun Al-Rosyid, Pengasuh PP Al Hikmah Gunung Kidul, secara detail menjelaskan fakta kerusakan yang ada. Beliau memberikan dua puluh tiga daftar problematika yang dihadapi oleh umat ini terutama generasi penerus mereka.

Problematika ini muncul karena kemungkaran-kemungkaran bebas berkembang. Perkembangan kemakrufan kalah cepat dengan perkembangan kemungkaran. Kemungkaran berkembang mengikuti deret ukur. Sedang kemakrufan tertatih-tatih mengikutinya.

Oleh karena itu, dakwah harus digiatkan. Umat Islam harus mampu menjadi penggerak. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan agar seorang muslim dapat menjadi penggerak. Pertama adalah kedekatannya kepada Allah SWT. Kedua keikhlasan dalam mengajak kepada kemakrufan. Kemudian yang Ketiga yang harus benar-benar diperhatikan ikthtiar dalam melakukan perubahan harus mengikuti juklak dan juknis dari Allah SWT.

Suasana Multaqa Ulama Yogyakarta semakin hangat dan bergairah dengan hadirnya pembicara dari Depok Jawa Barat. Ustadz Aly Arinal Haq, Pengasuh Majelis Nurul Qolbi Depok dan KH Muhyidin dari PP An Nur Pamijahan, Bogor.

Kondisi memperihatinkan dalam semua aspek kehidupan diulas tuntas oleh Ustad Aly. Sembari beliau menekankan bahwa kita adalah umat nabi yang mulia SAW. Maka tidak sepantasnya jika kita hidup dalam kenistaan dan kenestapaan.

Baginda Nabi Muhammad SAW mewariskan tiga hal. Jika peninggalan beliau dipegang teguh maka niscaya umat ini akan kembali mulia. Karena kunci perbaikan umat ini tidak lain adalah kunci yang dipergunakan untuk memperbaiki umat yang telah datang lebih dahulu. Demikian KH Muhyidin menjelaskan.

Ketiga hal itu adalah Al-Qur’an, Ulama dan Kepemimpinan. Kepemimpinan ini wujud riilnya adalah imarah, imamah atau khilafah. Tanpa ketiga hal ini maka umat Islam akan selamanya terpuruk.

Maka kesadaran dan perjuangan untuk mewujudkannya harus terus ditanamkan dan diazzamkan oleh tiap pribadi umat Islam. Sebagaimana ditekankan oleh Abah Narko Abu Fikri dari PP Nurul Qowiy Sleman Yogyakarta.

Acara yang penuh dengan keakraban dan kekeluargaan berakhir menjelang tengah malam. Meski isi kajian cukup berbobot namun terasa mudah dicerna.

Terlebih dengan hadirnya tim Kumandang Sholawat dengan busana dan bahasa Jawa. Menambah sumringahnya acara. [Yus]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …