Multaqa Ulama Aswaja Banten, Sertifikasi Da’i Upaya Alihkan Kegagalan Tangani Krisis yang Mendera Negeri Tercinta

0
288

Banten, (shautululama) – Negeri kita, sebagaimana negara-negara di berbagai belahan dunia turut merasakan dampak yang luar biasa pandemi Covid-19 saat ini. Namun dampak pandemi tersebut terasa semakin berat dan kompleks karena kurang optimalnya penanganan pandemi tersebut di negeri kita tercinta. Jumlah korban akibat wabah ini semakin hari bukan semakin berkurang. Pandemi ini semakin hari semakin tidak terkendali, fakta itu antara lain ditunjukkan oleh grafik penderita covid tidak mengalami perbaikan dari hari ke harinya.

Bahkan menurut Kemenkes Wordometer tanggal 16 September Pukul 16.00 WIB yang lalu, jumlah kasus baru yang tercatat sejumlah 3.963 kasus. Kasus harian baru (new case daily) ini, jumlahnya jauh melampaui total komulatif kasus negara Slovenia (3.831 kasus), Jordania (3.677 kasus), Myanmar (3.502 kasus) dan Tailand (3.480 kasus). Alhasil hal ini tentu berdampak secara signifikan pada penurunan kegiatan masyarakat terutama aktivitas ekonomi yang mulai mengalami angka pertumbuhan negatif.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Sayangnya, mereka yang seharusnya paling bertanggung jawab atas masalah ini bukannya lebih serius menangani wabah tersebut, justru mencoba mengalihkan kekacauan dengan terus menciptakan kegaduhan-kegaduhan baru. Kegaduhan-kegaduhan yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian umat dari buruknya kinerja mereka kepada hal-hal yang sungguh demi Allah, justru semakin mengundang murka Allah SWT, seperti program sertifikasi da’i yang diinisiasi oleh Kementerian Agama.

Atas dasar inilah, para Ulama Banten sebagai wasatul anbiya’ kemudian berijtima’, bermusyawarah dan tukar pendapat dalam acara Multaqa Ulama Aswaja Banten pada Ahad, 20 September 2020. Multaqa tersebut adalah bukti nyata kepedulian, concern dan perhatian para ulama terhadap umat Islam dan bangsa ini. Acara yang dilaksanakan secara online ini, alhamdulillah lebih dari 80 ulama turut bergabung untuk menyamakan visi misinya menghadapi problematika umat yang sedang dihadapi.

KH. Ali Mustofa menuturkan bahwa saat ini politik belah bambu umat Islam sangatlah kental, caranya adalah melalui pengklasifikasian Islam menjadi Islam Radikal dan Islam Moderat. Hal inilah yang mendasari program sertifikasi da’i yang diwacanakan oleh rezim. Program sertifikasi jelas akan membatasi kewajiban dakwah yang disyariatkan oleh Allah, maka program tersebut menjadi keharusan untuk ditolak bersama oleh umat Islam.

Senada dengan pernyataan tersebut, KH. Yasin Muthohhar mengingatkan bahwa keutamaan ulama hanya akan diberikan kepada ulama yang mengamalkan ilmunya untuk menolong agama Allah. Tentunya resiko yang mengintai tidaklah kecil, sehingga agar keutamaan tersebut tidak lepas kepada para ulama, maka harus siap menanggung penderitaan di Jalan Allah tersebut.

Lebih tegas lagi, KH. Mansyur Muhiddin menyampaikan bahwa perjuangan melawan kedzaliman harus termotivasi oleh kesadaran akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Justru dorongan inilah yang terkuat dibandingkan motivasi-motivasi lainnya dan akan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dalam setiap langkahnya.

Mengenai tindakan penolakan yang harus dilakukan, KH. Buya Rahmad Noer menekankan bahwa Umat sebagai pemilik kekuasaanlah yang nantinya akan menilai dan mencari kebenaran itu sendiri. Oleh karenanya, jangan pernah letih untuk memahamkan umat akan cahaya Allah yang saat ini hendak dipadamkan oleh musuh-musuh-Nya. Secara fitrah manusia, Islam sebagai diin yang diturunkan oleh Allah dan dibawa oleh Rasulullah Saw akan senantiasa mendapat tempat di hati umat.

Senada dengan hal itu, KH. Tb. Zamakhsyari juga menekankan akan pentingnya upaya terus menerus para ulama untuk memahamkan umat terhadap cahaya Islam. Di sinilah pentingnya kesatuan langkah dan tindakan setiap ulama di seantero negeri tercinta ini agar tak kenal lelah memahamkan dan mengarahkan umat sehingga menjadi penolong dan penegak syariat Allah dalam bingkai Khilafah.

Apapun perlakuan dan makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir penjajah dan antek-anteknya kepada umat Islam, fokus penerapan syariah dan khilafah tidak boleh teralihkan sedikitpun. Karena metode inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Itulah kurang lebih penegasan Kyai Asfarin Fajri. Khilafah sebagai sistem pemerintahan yang dicontohkan oleh Rasulullah bukanlah fantasi belaka.

Kyai Drs. Fathoni menceritakan fakta sejarah, dimana Sunan Gunung Jati membawa Al-Qur’an dan mengajarkan pada masyarakat di wilayah ini. Masyarakat dengan suka cita menerima dan mempersonifikasikan Al-Qur’an laksana intan. Sehingga wilayah tersebut dinamakan Ketiban Inten yang akhirnya disebut dengan Banten. Dituturkan pula bahwa Kesultanan Banten terafiliasi dengan Kesultanan Demak, Aceh dan juga Khilafah Utsmani yang saat itu berpusat di Turki. Jejak sejarahnya sampai sekarang masih ada berupa Meriam Ki Amuk yang menjadi saksi perlawanan Banten atas Tentara Belanda.

Alhadulillah tsumma alhamdulillah di sepanjang acara, Banten diguyur hujan yang sudah agak lama tidak turun. Alhasil, sinyal komunikasi sering agak terganggu. Namun demikian, biidznillah acara multaqa ini berjalan dengan sukses. Semoga guyuran hujan yang merata seantero Banten ini menjadi pertanda keberkahan acara tersebut.