Multaqa Ulama Aswaja Banten, “Kapitalisme Sudah Kolap, Saat Khilafah Kembali Memimpin Dunia”

Banten, (shautululama) – Forum Politik Ulama Aswaja (FPU Aswaja) Banten, Ahad, 10 Mei 2020, mengadakan acara “Daring Multaqa Ulama Aswaja Banten”. Pertemuan Ulama Aswaja Banten ini digelar melalui sarana media online (daring) untuk membahas persoalan umat, khususnya pandemi corona. Ini dilakukan para ulama sebagai bentuk ihtimam pada kondisi umat Islam saat ini. Turut serta melalui media webinar dan streaming secara langsung di kanal You Tube FPU Channel, 70 an Ulama dan Tokoh masyarakat Banten.

Para ulama memahami bahwa pandemi Covid 19 yang diawali dari Wuhan Cina ini, semata-mata Allah turunkan bukan tanpa sebab dan kosong dari hikmah, hanya saja perlunya kesiapan umat Islam yang dipelopori oleh para ulama untuk menyambut hikmah tersebut, menuju kebangkitan Islam.

Sebagai pemateri pembuka, Ustad Dr. Hadi Sucipto memaparkan dampak Covid 19 bagaimana mampu meluluhlantakkan kesombongan negara-negara adidaya. Krisis ekonomi diambang mata bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan krisis ekonomi tahun 1997, dimana efeknya meluas dari berbagai sendi kehidupan bahkan sampai kepada bidang kesehatan. Dari sinilah, ada kesempatan terbuka lebar bagi kaum muslimin untuk memaparkan lebih jauh untuk memahamkan umat bahwa Islam sebagai solusi dan agar demokrasi Kapitalisme yang bobrok ini dibuang ke tong sampah peradaban, paparnya menyimpulkan.

Perlu juga difahami kesombongan Cina yang berupaya menyelesaikan sendiri wabah yang bermula dari mereka, namun alih-alih mampu menyelesaikannya bahkan tersebarnya wabah dari negeri mereka makin meluas ke negara-negara lainpun tak terelakkan. Di sinilah penyakit perpecahan yang timbul berupa sekat nasionalisme terkuak. Ternyata terpecahnya kaum muslimin di berbagai negara bukan makin memperkuat posisi mereka, malah memperlemahnya. Namun demikian, KH. Tb. Zamakhsary memandang bibit persatuan tersebut berangsur-angsur memulih. Tinggal langkah selanjutnya adalah menjalin persatuan dalam bentuk riil yaitu Daulah Khilafah.

Senada dengan hal tersebut, KH. Mansyur Muhiddin sangat menganjurkan ukhuwwah yang lebih riil dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Sehingga agenda jangka pendek dan jangka panjang bagi kaum muslimin adalah Penegakan Syariah dan Khilafah dan ulamalah yang harus memandu umat menuju cita-cita mulia tersebut dengan ilmunya, tegas beliau.

Tentunya perjuangan penegakan Khilafah adalah perjuangan politik kaum muslimin. Kaum muslimin dengan keimanannya didorong untuk mewujudkan politik yang menerapkan hukum-hukum Allah. KH. Muhammad Ma’mun menegaskan bahwa mahkota ibadah adalah menegakkan yang haq dan menghancurkan kebathilan melalui jalur politik. Oleh karenanya, sosok Khalifah yang menjadi penerap dan penegak hukum Allah harus dirumuskan lebih cermat dan seksama agar hanya hukum Allah saja yang benar-benar diterapkan

Lantas bagaimana dengan kerusakan yang sudah terlanjur dipersembahkan oleh Kapitalisme? KH. Ahmad Suhaemi justru memandang bahwa Corona layaknya tentara Allah yang membersihkan kerusakan-kerusakan tersebut. Ulama yang kerap disapa Kyai Eces ini menegaskan bahwa tentara Allah senantiasa melakukan pemaksaan pada umat manusia agar mereka mengakui dosa-dosa maksiat yang mereka lakukan dan akhirnya menjadi ketaqwaan. Hal tersebut dipertegas melalui fakta yang dipaparkan oleh KH. Ali Mustofa, dimana dampak wabah pandemi Corona ini mampu menyingkap dan membungkam kesombongan dan kepongahan negara adidaya sehingga nampaklah ketidakberdayaan mereka.

Jika merenungi pandemi Corona akan nampak betapa banyaknya hikmah yang memperlihatkan arah perubahan menuju Islam. KH. Fathul Adim mencontohkan salah satunya adalah betapa kaum muslimin kini lebih khusyuk menjalankan ibadah puasa dibandingkan Ramadhan sebelumnya, akibat diterapkannya lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran wabah. Hal tersebut justru membawa suasana kondusif persiapan umat menuju perubahan Islam.

Kapitalisme yang saat ini diterapkan makin nampak kebobrokannya, setidaknya sifat ideologi ini yang tidak pernah memiliki sifat memanusiakan manusia. KH. Abu Hanifah, memaparkan betapa tidak pernah ada di benak para pemimpin dalam sistem kehidupan Kapitalisme untuk mengurusi rakyat sebaik-baiknya. Hal ini berbeda dengan Islam mengurus rakyat dalam kondisi buruk termasuk kondisi wabah. Dalam kondisi wabah, Islam melakukan karantina agar tidak ada keluar masuk wilayah wabah. Negara menanggung kebutuhan pokok rakyat dalam isolasinya. Lebih dari itu, melalui semangat ukhuwwah Islamiyyah, bagi kaum muslimin yang mampu akan menginfakkan hartanya untuk membantu pemenuhan kebutuhan rakyat dalam wilayah karantina tersebut.

Keunggulan ideologi Islam atas ideologi buatan manusia tidak terbantahkan lagi. Maka sudah sewajarnya masa depan dunia akan bergeser kepada Islam dan Kaum Muslimin. Hal ini pun sangat diyakini oleh kaum kuffar yang nampak dari prediksi National Intelligence Council yang menyimpulkan bahwa 2020, arus perubahan akan menuju kepada Khilafah dan akan menjadi kekuatan baru dunia.

Pandemi wabah Corona yang melanda dunia saat ini tentunya membawa kabar bahagia bagi kaum muslimin. Karena di balik hal ini terdapat berkah berupa bangkitnya kekuatan Islam, Seruan Syariah yang lebih dahsyat yaitu tegaknya Khilafah Ala Minhajjin Nubuwwah. Semoga Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir tanpa Khilafah, tutup KH. Yasin Muthohhar.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Ulama Aswaja Palu Sulteng, Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Melegalkan Seks Bebas

Palu, Sulteng (Shautululama) – Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen Dikbudristek) Nomor 30 Tahun …