Multaqa Ulama Aswaja Bandung Raya, Waspadai Gerakan Deislamisasi

Bandung, (shautululama) – Seruan ulama kembali menggema di bawah pegunungan batu kapur daerah Cipatat Kab. Bandung Barat para ulama dan tokoh umat berkumpul di Pesantren Miftahul Ulum, Balekambang Cirawa Mekar Cipatat Kab. Bandung Barat. Sebuah pesantren di bawah asuhan KH. Ade Thursofa M.Pd.

Hadir memenuhi undangan panitia tidak kurang dari 70 ulama dan tokoh umat yang hanif, mereka hadir dari beberapa daerah diantaranya Bandung, Cimahi dan Kab. Bandung Barat.

Semua serukan semangat perjuangan membela kesucian ajaran agama Islam, dengan memberikan pernyataan yang membahas tema:”Waspadai Upaya Desakralisasi Ajaran Islam”.

Acara dibuka dengan lantunan sholawat yang dibawakan oleh Ustad Asep Ridwan, Ustad Caca dan Ustad Haris, tepat pukul 08.30

Kemudian acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Ustad Ardiansyah tepat pukul 09.00. Berikut disampaikan kalam minal ulama, antara lain:

Ustad Usep Mimin, sebagai tuan rumah beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para ulama, para peserta multaqa. Semoga acara yang dilaksanakan pada kesempatan ini penuh dengan berkah. Beliau juga sampaikan, semoga acara ini bisa menambah wawasan dan kesadaran para peserta bahwa hegemoni asing dan aseng yang ingin mereduksi ajaran islam melalui para antek penguasa di negeri ini, harus diwaspadai.

Berikutnya, Ustad Furqonuddin A.Md, Pengasuh Majlis Ta’lim Sahabat Sholih. Beliau sampaikan bahwa desakralisasi ajaran islam lahir dari rahim sekulerisme, liberalisme dan pluralisme. Mereka berupaya menjauhkan ajaran islam dari pemeluknya. Padahal ajaran islam itu lebih tinggi daripada ajaran lain produk manusia. Jika ada tokoh yang mengatakan “Ayat konstitusi di atas Ayat Suci”, ini tentu ketidakpahaman mereka.

Kalimat minal ulama selanjutnya disampaikan oleh Ustad Salman Iskandar, Pakar Sejarah. Beliau mengungkap bahwa historis khomsah qonun atau lima asas /aturan sejak tahun 1717M, tharekat mashon bebas merancang khomsah qonun untuk dijadikan asas berbangsa dan bernegara di seluruh dunia. Mereka adalah Yahudi dan Nashrani yang berupaya untuk menerapkan 5 asas, diantaranya adalah: monotaisme, humanisme, nasionalisme, demokrasi, sosialisme.

Lebih lanjut beliau sampaikan, dari asas ini para pendiri bangsa merumuskan Pancasila seperti yang kita ketahui saat ini. Ketika disebut-sebut Pancasila itu digali dari hasanah budaya bangsa itu adalah hoak atau berita bohong. Meski dalam fakta sejarah tercatat peran tokoh-tokoh umat islam ikut mewarnai berdebatan menetapkan dasar negara ingin dengan syariat islam. Namun pada akhirnya mereka dikhianati oleh para tokoh sekuler dan nasionalis.

Ustad Asep Wendi, Pengasuh Pesantren Tahfidz Darut Tholibin Cihanjuang, sebagai pemateri berikutnya menyampaikan, “Upaya desakralisasi ajaran islam mesti di awan dengan menyampaikan islam yang seutuhnya. Islam yang mengatur segala aspek kehidupan, dengan mengajak umat untuk mengkaji islam secara kaffah”.

Lalu dilanjutkan dengan Ustad Athoilah Muslim Al Hafidz, Pimpinan Ponpes PPQ. Beliau menyatakan bahwa ungkapan Ketua BPIP terkait desakralisasi ajaran islam itu sudah benar.  Karena beliau layaknya syetan dari golongan manusia berbicara tentang kesesatan. Dalam Al Quran Surat Ibrohim ayat 21-22, menyebutkan bahwa syetan punya karakteristik mengajak kepada kesesatan dan berlepas diri dari pengikutnya di Yaumil Qiyamah.

KH. M. Hafidz Abdurrahman, Suka Sari pada sesi kalimah minal ulama menyampaikan bahwa dalam upaya desakralisasi ajaran islam yang dilakukan penguasa dengan kebijakannya, dibantu pengusaha dengan dananya dan ulama Su’. Dengan pernyataannya ini, membuat ajaran islam menjadi samar di tengah-tengah umat islam. Untuk mengatasi hal ini, maka sampaikan islam dengan sebenar-benarnya, jangan takut dngan narasi ancaman penguasa kepada pendakwah islam kaffah.

Kiayi Cinta ka Alam, Tokoh Bandung Barat menyampaikan bahwa, upaya perubahan sistem thogut kepada sistem islam memerlukan peran serius umat islam untuk memperjuangkannya. Tokoh yang usianya kini telah mencapai 80 tahun, siap perjuangkan khilafah hingga tegak

Kalimah minal ulama terakhir disampaikan oleh Ustad Luthfi Afandi SH.MM, Ulama Aswaja Bandung. “Upaya desakralisasi ajaran islam oleh pemeritah di satu sisi kita sedih, tapi di sisi lain kita bahagia karena boleh jadi ini awal dari kehancuran sistem kufur dan awal pertanda bangkitnya sistem islam. Karena dengan semakin ditekannya umat islam maka akan semakin terseleksi siapa para pejuang islam yang paling mukhlish dan layak diberikan pertolongan dan kemenangan oleh Alla SWT. Sunnatullah para pejuang islam yang lurus di atas manhaj kenabian akan mengalami fase-fase dakwah yang pernah dialami Rasulullah dan para Sahabatnya, tetaplah bersabar dan istiqomah”, pesan beliau

Tepat pukul 12.00, seluruh rangkaian acara ditutup dengan lantunan do’a yang dipimpin oleh Ustad Dimyati dari Parompong.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …