Multaqa Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah Jakarta Barat, Dalam Islam Penghina Nabi Hukumannya Mati

Jakarta, (shautululama) – Ahad, 15 Desember 2019, tak kurang dari 30 undangan yang terdiri dari para ulama, asatidz dan tokoh masyarakat bertemu di Ma’had Daarul Mawahid Srengseng, Jakarta Barat. Acara yang digagas oleh Forum Komunikasi Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Jakarta Barat yaitu Multaqa ulama ahlus sunnah wal jama’ah.

Acara tersebut diselengggarakan menyikapi maraknya penghinaan kepada Nabi dan juga kriminalisasi terhadap simbol-simbol islam. Tampak hadir dalam acara tersebut KH shoffar Mawardi sebagai Khuwaidimul Ma’had Daarul Mawahid yang merupakan shohibul bait. Beliau mengajak kepada semua yang hadir untuk melaksanakan syari’at Allah SWT secara kaffah untuk yang belum terlaksana seperti jihad dan khilafah maka harus ditekadkan untuk dilaksanakan bukan malah dihilangkan dari ajaran islam.

Ditambahkan pula oleh ulama yang eksentrik ustadz Nur Alam (Kyai Jambrong) Khodimul Ma’had Mushab bin Umair Kota Tangerang, dengan gaya yang ceplas ceplos, mengatakan bahwa, “Ka’ab bin Asrof dipenggal kepalanya oleh Muhammad bin Aslamah karena Ka’ab bin Asrof menghina nabi. Begitulah hukuman bagi penghina nabi Muhammad SAW, tegas beliau.

Ustadz Jamhuri tokoh masyarakat dari Slipi juga mengingatkan tentang kewajiban dakwah dan membela Nabi Muhammad SAW, tidak hanya dipundak saja tapi kewajiban seluruh kaum muslimin.

Hal tersebut dikuatkan Ustadz Najib, ustadz di Ma’had Daarul Mawahid, bahwa membela Nabi perlu dibuktikan, yaitu dengan mengikuti dan berjuang menegakan hukum-hukum Allah SWT, agar Nabi Muhammad SAW tidak direndahkan.

Ustadz Aceng Kosasih yang merupakan DKM Masjid Baiturrahman, Kebon Jeruk, mengkritisi adanya mata-mata di masjid. Padahal Allah SWT dan malaikatnya sudah menjadi mata-mata bagi umat islam agar tidak bermaksiat.

Ustadz Muhamad Nur, anggota Bang Japar Jakarta Barat mengingatkan pentingnya bersatu memperjuangkan islam.

Di penghujung acara ditutup oleh Ustadz Syaifuddin Zuhri, dari DKM Masjid Al Muhajirin Kebayoran Lama, mengingatkan bahwa orang yang mengatakan Allah SWT tidak perlu dibela. Peryataan ini bertentangan dengan perintah Allah SWT dalam Surat Muhammad (intansurulloh wa yansurkum).

Acara yang berlangsung khidmat selama 150 menit ini, diakhiri dengan pembacaan peryataan sikap Ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa akar masalah dari maraknya penistaan terhadap Nabi, serta ajaran islam adalah diterapkanya liberalisme di negeri ini, serta ketiadaan khilafah sebagai institusi pelindung kemulyaan islam dan kaum muslimin.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *