Mudzkaroh Ulama ASWAJA Karawang Purwakarta, Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harus Berperan untuk Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Cikampek, (shautululama) – Ahad 16 Desember 2018, terselenggara acara Mudzakaroh Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah se Karawang dan Purwakarta. Mudzakarah ini bertempat di Pondok Pesantren Al Husna, Cikampek. Acara yang diselenggarakan mulai pukul 09.00 -11.30 tersebut, dihadiri lebih dari 30 ulama, tokoh dan para aktivis dakwah. Tema yang diusung adalah “Peranan Politik Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Acara diawali dengan pembicara Kyai Ahmad Zainuddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Al Husna. Beliau menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara Mudzakaroh Ulama di Masjid Pondok Pesantren Al Husna, karena ini adalah acara pertama sejak selesainya pembangunan masjid.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah sholat saja tapi harus menjadi pusat kegiatan dakwah, termasuk aktvitas poilik yakni memberikan kesadaran politik bagi umat untuk mau diatur dengan syariat Islam dalam segala aktifitas kehidupan mereka”, ungkap beliau mengawali sambutan.

Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dalam kondisi rezim yang berkuasa saat ini, kondisi umat Islam lebih bertambah terpuruk. Seperti penghinaan terhadap Al Qur’an, kriminalasasi ulama dan tokoh-tokoh Islam serta Pembubaran Ormas Islam.

Selain itu, hancurnya sendi-sendi kehidupan dalam bidang ekonomi dengan naiknya BBM dan makin mahalnya harga-harga. Dalam bidang hukum dan politik semkakin maraknya korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara baik di pusat maupun daerah.

Pada sesi Kalimah minal Ulama, Ustad Solihin dari Ponpes Baitul Ikhwan Al Munawwar, Wanayasa menyampaikan rasa gembiranya dengan acara Mudzakarah Ulama ini. Karena Ulama mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina umat dalam masalah poilitik.
Selama ini umat hanya dipahamkan bahwa Islam hanya terkait dengan masalah ibadah mahdah semata. Umat Islam tidak usah memikirkan politik yang penting ibadah yang rajin, banyak sholawat. Ada pemahaman yang tidak pas bahwa Ulama Ahlus Sunnah Wal jamaah adalah ulama yang hanya fokus pada masalah ibadah semata.

Beliau menyampaikan pendapat dari Habib Rizik Syihab bahwa, “kalau umat Islam tidak berpolitik maka umat Islam akan menjadi korban politik”.

Menurut beliau acara Mudzakarah Ulama seperti ini telah dicontohkan oleh ulama terdahulu dalam membahas persoalan-persoalan umat.

Kalimah ulama selanjutnya disampaikan oleh Ustad Tatang Tajudin. Beliau menyampaikan bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal jamaah tidak terkait dengan kelompok tertentu dan menjadi milik sekelompok umat Islam saja.
Tapi Ahlus Sunnah Wal jama’ah meliputi semua Umat Islam selama mereka berpegang kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Menurut Ustad Tatang, kepedulian terhadap persoalan politik adalah bagian dari kepedulian terhadap urusan kaum muslimin. Apalagi para ulama harus lebih berperan dalam persoalan politik untuk mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Mereka yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka mereka bukan bagian dari kaum muslimin.

Pengasuh Majelis Taklim Al Barokah, Kecamatan Klari ini, juga menyatakan bahwa maksud peranan politik ulama ahlus sunnah wal jama’ah itu bukan dengan mengikuti politik ala demokrasi seperti saat ini, yakni dengan mengikuti Pileg dan Pilpres untuk meraih kekuasaan. Tapi dengan mengikuti politik yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yakni dengan metode pembinaan terhadap umat, berinteraksi dengan umat menjelaskan kerusakan-kerusakan sistem kufur demokrasi dan talabun nusroh utk mendapatkan kekuasaan tanpa pertumpahan darah sedikit pun.

Beliau juga menyatakan bahwa “Umat Islam adalah umat yang satu yang tidak boleh terpecah belah, secara politik pun demikian. Umat Islam harus bersatu dalam satu kesatuan politik yakni dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah”, tegas beliau.

Kalimah ulama selanjutnya, disampaikan oleh Ustad Dadan Sanusi. Beliau menyatakan bahwa ada dua persoalan politik umat saat ini yakni apakah perjuangan politik akan dilakukan di luar sistem ataukah masuk ke dalam sistem.

Perjuangan di luar sistem saat ini akan berhadapan dengan konsekuensi-konsekuensi yang bisa dikatakan tidak menguntungkan secara politis. Untuk itu menurut beliau yang juga, Sekertaris FPI Kabupaten Purwakarta, menegaskan bahwa
“FPI telah melakukan ijtihad politik dan berusaha supaya umat Islam tidak dikalahkan secara politik yakni dengan mengikut pemilu.Terkait hal ini beliau bertanya bagaimana menyikapinya?”

Menanggapi pertanyaan tersebut Kyai Ahmad Zainuddin, menyampaikan Fatwa Imam Malik bahwa, “Kondisi umat di akhir zaman tidak akan bisa diperbaiki kecuali dengan kembali ke metode Nabi SAW, memperbaiki kondisi awal umat yang rusak. Maknanya menurut beliau bahwa perjuangan politik untuk memperbiaiki umat ini juga harus mengikuti metode Nabi SAW.

Di akhir sesi Ustad Roni Ruslan, selaku pembicara penutup memaparkan bahwa politik adalah sesuatu yang awalnya netral. Tapi akan tergantung pandangan siapa yang menilainya. Bagi kita umat Islam pandangan tentang politik harus dikembalikan seperti pandangan Rasul tentang politik.
Politik adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis.Sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut.

Dalam Politik Islam ada dua komponen, yakni Qiyan Fikri dan Qiyan Tanfizi. Qiyan Fikri dimana peran ulama seperti para Imam mazhab dalam berijtihad terhadap setiap permasalahan baru yang perlu dipecahkan berdasarkan sumber-sumber hukum Islam.
Adapun Qiyan Tanfizi adalah peranan Umara atau penguasa yang menerapkan hukum-hukum Islam yang diadopsi dalam perkara-perkara yang terkait dengan permasalah yang bersifat jama’i atau kolektif.

Pelaksanaan hukum-hukum ini akan selalu mendapatkan pengontrolan oleh individu dan kelompok, sehinggga semua hukum-hukum bisa ditegakkan dengan baik dan membawa kemaslahatan bagi semua umat.

Pengasuh Pondok Pesantren Karyawan dan Profesi yang juga alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo ini, juga mengatakan bahwa sikap kaum mulsimin saat ini adalah harus menolak dan haram memilih pemimpin yang dzalim, pemimpin yang mengkriminalisasi ulama, pemimpin yang membubarkan ormas Islam dan pemimpin yang mengingkari janji-janjinya. Hal ini menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bagaimana sikap kaum muslimin.

Tepat pukul 11.45 acara Mudzakarah Ulama ditutup dengan doa oleh Ustad Ahmad Hariri, Pimpinan Majelis Taklim An Nur Cirejag, Kosambi, Karawang. (red)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *