Mudzakaroh Ulama Karawang: Hanya dengan Khilafah Indonesia Sejahtera

Karawang, (shautululama) – Alhamdulillah biiznillah wa aunillah telah terlaksana Mudzakaroh Ulama ke-3 yang diselenggarakan oleh FORMULA (Forum Mudzakaroh Ulama) Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada hari Ahad, 24/2/2019 di Pondok Pesantren Al Husna Cikampek.

Acara ini dihadiri oleh Kyai, Asatidz, Pengurus Masjid, dan Tokoh Masyarakat dalam suasana silaturahmi penuh hangat.

Sambutan dari shohibul fadhilah Kyai Ahmad Zainuddin selaku pimpinan Ponpes Al Husna Cikampek sekaligus ketua FORMULA. Beliau menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan hadirin dan permohonan maaf atas segala kekurangan.

Beliau juga menyampaikan rasa syukur atas terbentuknya FORMULA yang merupakan kumpulan Kyai, Ulama, Asatidz, dan tokoh yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan umat dan solusinya, ini yang diperlukan umat sekarang. Karena banyak kumpulan serupa namun hanya membahas seputar fiqh dan tasawuf yang belum banyak membawa kesadaran umat untuk menerapkan Syariah Allah secara Kaffah. Saat ini umat sudah kehilangan sosok pemimpin yang bisa dipercaya, hanya ulama saja satu-satunya harapan umat.

Oleh karenanya, peran Ulama sebagai pemimpin umat menjadi penting agar bisa membawa mereka menerapkan Syariat Islam. Dilaksanakannya Mudzakaroh Ulama ini juga merupakah wujud syukur yang begitu besar karena di Ponpes Al Husna telah berdiri masjid yang cukup representatif, sehingga di masjid ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebangkitan kesadaran umat Islam.

Pemaparan materi mudzakaroh pada sesi pemaparan materi disampaikan oleh Al Mukarrom KH. Dr. Azi Ahmad Tadjudin, M.Ag, yang juga sebagai Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI Kabupaten Purwakarta.

Beliau mengawali dengan membahas QS.Ali Imran: 26 bahwa Allah adalah Sang Pemilik Kekuasaan, menciptakan dan memiliki langit dan bumi. Kemudian Allah mewariskannya kepada hamba-Nya yang sholeh. Dalam QS. Al Baqoroh ayat 30 Allah menjelaskan bahwa badan pelaksana untuk menerapkan aturan Allah adalah Khilafah, pemangku jabatannya disebut Kholifah. Khilafah adalah representasi Islam, siapa saja yang tidak senang dengan Khilafah berarti dia tidak senang Islam. Khilafah adalah representasi aqidah dan syariah Islam.

Khilafah juga merupakan tajul furud (mahkota kewajiban) atau A’dzomul waajibat (puncaknya kewajiban), tanpanya banyak sekali Syariat Allah yang tidak bisa dilaksanakan terutama dalam aspek muamalah dan uqubat. Permasalahan Khilafah adalah permasalahan high class, sehingga hambatannya besar dan tentu pahalanya juga besar. Khilafah bukan lagi dalam wilayah individual atau wilayah sekelompok masyarakat, tapi sudah manjadi wilayah kewenangan negara yang menerapkannya. Karena asas Khilafah adalah laa ilaha illalah, maka tidak boleh ada sekecil apapun hukum Islam yang tidak dilaksanakan.

Berdirinya Khilafah yang haq adalah kemenangan Islam, bisyaroh Nubuwah: “Sungguh perkara ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di desa kecuali Allah akan memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang dimuliakan atau kehinaan yang dihinakan: kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran” (HR Ahmad dan al Baihaqi dalam Sunan al Kubra).

Pada akhir penuturannya beliau menceritakan kaum Saba yang makmur dan subur kemudian penduduknya mendustakan Allah sehingga turunlah azab bagi mereka. Indonesia jika tidak ingin diazab seperti kaum Saba maka harus menerapkan Syariah dan Khilafah.

Tanya jawab dan sharing
Setelah pemaparan materi, dilanjutkan diskusi yang berjalan hangat dan santai sambil menikmati hidangan yang telah disediakan panitia.

Tanggapan pertama datang dari Ustad. Hariri Pembina Majelis Taklim An Nur, Klari Karawang yang juga seorang amil. Sebagai seorang amil di desa, tanggungjawabnya besar mulai mengurusi yang hidup sampai mengurusi yang mati. Beliau banyak sekali mendapat keluhan dari masyarakat tentang permasalahan mereka, mulai dari masalah pribadi, keluarga, ekonomi, sosial hingga masalah politik. Permasalahan tersebut banyak yang tidak bisa diselesaikan dengan tuntas. (red)

  1. [contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

    Alhamdulillah dengan adanya forum mudzakaroh ini kita memahami bahwa akar permasalahannya adalah tidak diterapkannya Syariat Islam ditengah masyarakat, sehingga solusinya jelas yaitu harus ada Khilafah. Kemudian beliau bertanya kepada narasumber, apa hakekat dan fungsi kekuasaan dalam Islam?

Narasumber menanggapi. Kekuasaan dalam Islam adalah alat untuk menerapakan Hukum Islam. Ketika Islam diterapkan oleh penguasa maka tercipta keadilan. Kekuasaan yang digunakan untuk menerapkan hukum selain Islam pasti akan menciptakan kedzaliman. Jadi agama jangan dijadikan wasilah untuk kekuasaan harusnya kekuasaanlah yang menjadi wasilah menegakkan agama.

Tanggapan kedua dari ustadz Agung Fatahillah seorang pengajar di ponpes Al Husna. Beliau menuturkan bahwa dahulu sering diberi masukan bahwa dakwah itu harus membawa kedamaian, dakwah yang menyejukkan, namun ketika mendalami Islam ternyata yang didapatkan adalah keresahan, terutama ketika sudah membahas masalah pelaksanaan Syariat Islam. Keresahan itu timbul karena banyak sekali hukum Allah yang tidak diterapkan dan ketika mendakwahkan kondisi ini ke masyarakat ternyata juga menimbulkan keresahan, mereka yang beriman pada Allah pasti akan merasa resah karena syariat yang mulia ini tidak bisa diterpakan sedangkan sebagaian lainnya resah karena merasa terusik dan takut berbagai kenikmatan dunia yang dirasakannya akan hilang jika Syariat Islam diterapkan. Namun jika melihat pada Sirah Rasulullah ternyata dakwah Rasulullah di Mekkah justru menimbulkan keresahan, karena ajaran Islam menyerang kebiasaan dan keyakinan jahiliyah. Pertanyaannya apakah dakwah sekarang seharusnya membuat masyarakat resah atau dakwah yang menyejukkan?

Pertanyaan dijawab oleh narasumber bahwa patokan dakwah adalah QS. An Nahl 125 “Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. Jika merasa resah karena Allah itu yang baik. Tidak perlu terpengaruh opini bahwa dakwah harus menyejukkan. Umar bin Khattab ketika pertama kali dibacakan ayat Al Qur’an hatinya resah, keresahannya diikuti dengan masuk islamnya beliau.

Tanggapan ketiga dari Ustadz Tatang Tadjudin. Pengasuh Majelis Taklim Al Barokah Klari, Karawang ini merasakan keresahan yang sama ketika pertama kali berinteraksi dengan HTI. Namun keresahannya terobati setelah memahami apa maksud dan tujuan HTI dan apa dalil yang mendasarinya. Menurut beliau Syariah Islam tidak akan tegak dalam Demokrasi, kita hidup di alam Demokrasi ibarat hidup di dalam lumpur. Beliau sangat merindukan tegaknya Khilafah dimana keadilan dan kesejahteraan dapat terwujud.

Alhamdulillah tahaddus bi nikmah acara berlangsung dengan khidmat dan diliputi suasana kekeluargaan, semua hadirin yang hadir dengan antusias menyimak penjelasan yang disampaikan oleh Al Muqarom KH. DR. Azi Ahmad Tadjudin Mag. Acara ditutup dengan do’a oleh Ustad Hariri, seorang tokoh, ustadz dan amil yang membawakan doanya penuh dengan khusu’.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *