Mudzakarah Ulama Sumur, Ujung Kulon, Khilafah Wajib Kita Perjuangkan

Sumur, Banten, (shautululama) – Istilah Khilafah saat ini sudah banyak disalahpahami dan diopinikan buruk oleh pihak yang anti terhadap syariat Islam. Mereka menyebut Khilafah dengan ungkapan yang sangat keliru dan jauh dari kebenaran.

Bahkan, organisasi, tokoh, atau siapapun yang menyampaikan tentang Khilafah ini dipandang mereka sebagai bagian dari gerakan fundamentalis, radikalis, bahkan teroris.

Ungkapan keliru mereka bukan tanpa alasan, namun bagian dari upaya menghambat penyadaran umat dalam penerapan syariat Islam. Selain gagal paham tentang Khilafah, mereka sejatinya tidak pernah tahu tentang Khilafah sebenarnya.

“Padahal, Khilafah itu ajaran Islam. Sistem pemerintahan Islam yang dijalankan oleh para sahabat Rasulullah sepeninggal beliau. Banyak tertulis di kitab-kitab yang diajarkan di pesantren. Para ulama semua sudah tahu dan memahaminya,” ungkap KH Ahmad Zainudin, Pimpinan Ponpes Al Husna Purwakarta, Jawa Barat, di hadapan ulama, kyai, ustadz se-Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Sabtu (14/9)

KH Ahmad Zainudin pun mengungkapkan kewajiban kaum muslimin berupaya mewujudkan Khilafah. Salah satunya kisah tentang bersepakatnya para Sahabat Rasulullah SAW untuk membiarkan jenazah Rasulullah selama 3 hari 2 malam hingga dipilihnya pemimpin yang disebut Khalifah, yaitu Abu Bakar Ash Shidiq untuk menjalankan pemerintahan yang bernama Khilafah. Padahal, menguburkan jenazah itu wajib sesegera mungkin.

“Sahabat mulia yang dijamin surga tidak mungkin melanggar syariat. Mereka tidak mungkin mengabaikan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak mungkin ingkar. Hal inilah yang menjadikan salah satu dalil bahwa kaum muslim wajib punya Khalifah yang memimpin Khilafah,” tuturnya.

Banyak ulama atau kyai di pondok pesantren yang di saat mengkaji sejumlah kitab-kitab tidak membahas secara utuh tentang Bab Siyasah atau Bab Imamah atau Bab Khilafah. Padahal, jika mau jujur maka ketika membahas Bab Siyasah di banyak kitab yang bertebaran, Islam memiliki ciri khas kepemimpinan kaum muslimin yang luar biasa.

“Negeri ini mengapa terpuruk? Juga nageri kaum muslimin di berbagai tempat, semua terpuruk. Terusir. Jauh dari kemakmuran. Terbelakang. Bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian dari penguasa. Mengapa? Karena para penguasa tersebut disetir penjajah. Penjajah tersebut berada di balik penguasa,” tuturnya.

“Demi Allah, ketika Khilafah tegak, maka tidak ada ceritanya pertambangan emas di negeri ini dikuasai kafir. Tidak ada ceritanya sumber minyak dikuasai kafir. Tidak ada ceritanya sumber tembaga dikuasai kafir. Bahkan tidak akan terjadi lepas Timor Timur. Jangankan sepulau, se-provinsi saja tidak akan pernah lepas. Sejengkal tanah milik kaum muslimin akan dijaga Khalifah,” lanjutnya.

Kyai yang dikenal tegas ini pun mengulas tentang Tafsir Ibnu Katsir dari Quran Surat Al Isro Ayat 80. Yakni, ketika Rasulullah SAW menginginkan kekuasaan yang menolong agama Allah. “Karena itu kita harus ridho dengan hukum Allah. Berjuang menerapkan hukum Allah. Dan benar-benar istigfar atas diamnya kita melihat hukum Allah diabaikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ia pun mengulas Kitab Kifayatul Akhyar Bab Istisqo. Dijelaskan di dalam kitab tersebut mengenai orang-orang yang memohon ampun kepada Allah namun malah mendapatkan dosa. “Istigfarnya malah berdosa. Mengapa, karena sambil ia beristigfar pada saat yang sama ridho diatur hukum KUHP. Diam saja di saat Al Quran dilecehkan. Ridho tidak diatur hukum Quran. Istighosah mah terus saja, namun malah ridho kehidupannya diatur bukan dengan hukum Quran. Istigfar begini disebut dengan istigfar yang berdosa. Dianggap melecehkan Allah,” jelas seraya mengutip ungkapan Imam Al Ghozali yang menyebut, “Banyak yang baca Quran bahkan menghafalnya, tapi dilaknat. Siapa? Rasulullah SAW mengungkapkan, mereka adalah yang membaca Al Quran tetapi tidak menghalalkan apa yang dihalakan Allah juga tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah. Na’udzubillahimindalik.”

Sejumlah ulama yang hadir menyampaikan respon atas apa yang disampaikan KH Ahmad Zainuddin. Salah satunya KH Ahmad Sobari, pimpinan Majelis Taklim di Ujungjaya. Ia menyampaikan bahwa penerapan syariat Islam adalah harga mati dan tidak bisa ditawarlagi. Bahkan, hukum-hukum kufur yang menyalahi hukum Islam wajib diingkari. “Mengenai apa yang disampaikan Kyai Zainudiin, kami sami’na wa atho’na,” singkatnya.

Lain halnya respon dari KH Ubaidillah, tokoh ulama Kecamatan Sumur. Ia mengaku ingin berjuang agar menjadi orang yang diridhoi Allah SWT dan diakui sebagai umat Muhammad SAW. “Khawatir saya itu adalah mengaku-ngaku Islam namun tidak mau diatur oleh ajaran Islam.”

Sedangkan KH Mulyadi, pimpinan Ponpes Al Afkar, menyatakan bahwa keimanan seseorang salah satunya dibuktikan ridhonya atas eksistensi hukum Allah swt, hukum yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. (*)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *