Mudzakarah Ulama Banjarbaru, Martapura: Kebobrokan dan Krisis Ekonomi Saat ini Karena Penerapan Sistem Kapitalis

Banjarbaru, Kalsel (shautululama) – Tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang sudah mencapai Rp. 15 ribu per USD hari-hari ini disikapi para ulama, asatidz, dan tokoh masyarakat Banjarbaru, Martapura, Kalsel.

Bertempat di Majlis Ta’lim Darul Qalam Banjarbaru asuhan Ustadz H Muhammad Sholeh Abdullah, Sabtu (8/9). Sekitar 50 lebih ulama, asatidz, dan tokoh masyarakat Banjarbaru, Martapura, Kalsel, berkumpul dalam Mudzakarah Ulama.

Mudzakarah ini mengangkat tema “Rupiah Meradang, Bagaimana Islam Memandang”.

Sebagaimana diketahui depresi rupiah akan berdampak pada ekonomi Indonesia. Kekhawatiran krisis moneter yang menjelma menjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 terulang kembali mencuat di tengah masyarakat.

Ustad H Hidayatul Akbar di awal mudzakarah mengungkapkan kebobrokan dan krisis ekonomi saat ini disebabkan penerapan sistem ekonomi kapitalisme di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Ust. H Hidayatul Akbar mengajak agar jernih memandang krisis rupiah saat ini. Krisis yang terus berulang harus diakhiri dengan mengganti sistem bukan saja sebatas rezim.

“Krisis rupiah saat ini bukan hanya kesalahan rezim tetapi kesalahan sistem. Pengamat hanya memandang kulit-kulitnya saja. Yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang”, ujarnya.

“Dalam kitab Nizhom al Iqtishodiy karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani disebutkan krisis moneter bukan saja disebabkan oleh supply and demand mata uang. Tetapi sebenarnya dikarenakan penggunaan fiat money (uang kertas),” lanjutnya.

Bapak Zainal Abdi peserta mudzakarah yang merupakan praktisi pasar saham selama 17 tahun yang turut hadir berpendapat, “Utang Indonesia sebesar Rp 4200an triliun memang masih kecil. Tapi dilihat dari kemampuan membayar yang sangat rendah maka utang itu menjadi berat. Indonesia masih beruntung karena potensi sumner daya alamnya yang begitu besar. Tetapi sayang hampir 70% dikuasai asing”, katanya.

“Benar. Krisis keuangan Indonesia bukan soal rezim tapi juga sistem ekonomi dunia. Seperti permainan bunga oleh The Fed,” ujarnya.

Ustad M taufik memberikan pandangan, “Zaman Barack Obama US Dollar dicetak USD 300 miliar atau senilai sekitar 3300 triliun rupiah. Yang mana biaya tiap lembar dollar hanya sekitar 4 sen. Inilah penjajahan gaya baru,” jelas Ustad M Taufik.

Mudah bagi AS untuk mencetak tapi tidak bagi negara lain.

Ustad Wahyudi Ibnu Yusuf, pengasuh majelis ta’lim Ma’had Darul Maarif turut memberikan pandangan, “Semangat kembali kepada emas dan perak harus didasari karena ittiba’ sunnah Nabi s.a.w. dan kembali kepada Syariat Islam. Karena di balik pelaksanaan syariat akan mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan”, ujarnya.

Banyak data, fakta, dan juga dalil-dalil syariat Islam tentang ekonomi yang diungkapkan pada mudzakarah ini.

Mudzakarah ini menyimpulkan bahwa penerapan Islam kaffah, di bidang ekonomi dengan ekonomi Islam adalah solusi tuntas atas krisis moneter yang sedang terjadi.[] (pn)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *