Mudzakarah Ulama Aswaja DKI Jakarta, Mewaspadai Bahaya Komunisasi dan Kolonialisasi Komunis adalah Kewajiban Kita

Jakarta, (shautululama) – Alhamdulillah, Acara Mudzakarah Ulama Aswaja DKI Jakarta sekaligus Liqa Syawal Ulama telah dilaksanakan dengan lancar pada Ahad pagi, 23 Juni 2019, bertempat di kediaman Habib Khalilullah bin Abu Bakar Al Habsyi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Lebih dari 50 Alim Ulama dan Asatidz dari Jakarta Timur dan sekitarnya hadir memenuhi undangan Habib Khalilullah, dengan disambut langsung oleh shohibul hajat dan para muhibbinnya.

Acara dibuka tepat pada pukul 09.00 WIB oleh MC, Ust Abdurrahman, dan diawali dengan pembacaan dzikir tahlil yang dipimpin oleh Al Mukarram Ust Fakhrur Rozi (Ulama Duren Sawit). Lalu dilanjutkan dengan kalimah iftitah dari Shohibul Hajat Habib Kholilullah.

“Kita membela Islam tidak hanya dengan cara berdoa, tetapi kita bergerak bersama-sama, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Kami mengundang para Alim Ulama dan Asatidz sekalian hadir di sini untuk membahas urusan umat Rasulullah SAW (ihtimam bi amril muslimin). Kalau saat ini kita diam, maka kita akan terus terdzalimi. Kami berharap kepada para Alim Ulama dan Asatidz sekalian, seusainya acara ini, untuk menyampaikan kepada umat Islam tentang apa yang terjadi di negeri ini, dan solusi satu-satunya atas segala problematika umat ini adalah diterapkannya syariat Islam. Kita meyakini bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, sehingga jika Islam diterapkan maka negeri yang kita cintai ini akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur.” ujar Habib Khalilullah dalam sambutan pembukanya.

Selanjutnya, Al Mukarram Ustad Syamsuddin Ramadhan, menyampaikan penjelasan tentang problematika umat Islam di Indonesia yaitu Penjajahan China di Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama, pada tahun 2013, Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengumumkan gagasan One Belt One Road (OBOR) yang merupakan inisiasi strategi geopolitik China dengan memanfaatkan jalur transportasi dunia (darat dan laut) sebagai jalur perdagangan yang tersebar di kawasan Eurasia. Indonesia dan China telah menandatangani 23 MoU di berbagai sektor usaha yang menandai dimulainya proyek OBOR di Indonesia, disaksikan langsung oleh Wapres Jusuf Kalla di sela-sela berlangsungnya KTT ke-2 OBOR tanggal 26 April 2019, di Beijing, China.

Ustad Syamsudin menjelaskan bahwa banyak kaum muslimin yang tidak merasa terjajah dengan implementasi proyek OBOR ini, karena ini adalah bentuk penjajahan gaya baru (neo kolonialisme), yaitu penjajahan yang tidak menggunakan senjata dan kekerasan, tetapi penjajahan ekonomi. Proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah dalam skema OBOR menggunakan mekanisme turnkey proyect, dimana China yang menyediakan semuanya (pendanaan, tenaga kerja asing, teknologi, kontraktor, dsb), sehingga pemerintah hanya tinggal menerima kunci.

Walaupun skema kerjasamanya diklaim Business to Business (B to B), namun dalam banyak kasus, pemerintah tetap memberikan jaminan, sehingga kalau rugi akan ditanggung oleh pemerintah. Terbukti beberapa negara seperti Sri Lanka dan Djibouti telah menjadi korban dari proyek OBOR ini. Karena itu, OBOR harusnya tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga harus dilihat dari sisi politis, yaitu ambisi China untuk menjadi negara adidaya di dunia.

“Sebagai seorang muslim, kita harus menolak proyek OBOR in,i setidak-tidaknya berdasarkan dua hal, yaitu: Pertama, proyek OBOR ini dilaksanakan dengan cara utang ribawi, dimana menurut para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, utang ribawi merupakan minal kabair (dosa besar), bahkan disebut sebagai akbarul kabair (biangnya dosa besar). Kedua, karena proyek OBOR ini memberikan jalan kepada China untuk menguasai kaum muslimin. Padahal Allah SWT sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslimin. Oleh karena itu, para Ulama dan kaum muslimin harus bergerak menyadarkan umat islam atas realita ini, tidak boleh berdiam diri”, demikian penjelasan yang begitu gamblang disampaikan oleh Ust Syamsudin Ramadhan.

Dalam agenda diskusi dan tanya jawab, tampak beberapa alim ulama menyampaikan beberapa pertanyaan dan pernyataan yang semakin menguatkan komitmen para hadirin untuk menolak proyek OBOR ini.

Acara selanjutnya adalah doa yang di pimpin oleh Al Mukarram Ustad H. Irfan, beliau adalah cucu dari KH Marzuki Bin Mirshod, yang terkenal sebagai gurunya Ulama Besar Betawi, dan hidup sezaman dengan Habib Ustman bin Yahya, Mufti Betawi zaman Belanda. Di antara murid-murid KH Marzuki adalah KH Ahmad Zayadi (Ponpes Azziyadah Tanah 80 Klender), KH Mursidi (Yayasan Al Falah Klender), KH. Hasbiallah (Yayasn al Watoniyah Klender), KH Nur Ali (Ponpes at Taqwa Ujung Menteng Bekasi), KH Tohir Rohili (Yayasan Atohiriyah Kampung Melayu), KH Abdullah Syafii (Ponpes as Syafiiyah Jatiwaringin Pondok Gede).

Kemudian pada akhir acara, diadakan sesi foto bersama, ramah tamah dan makan siang dalam nuansa penuh kekeluargaan. Pada saat perbincangan ringan di sela-sela makan siang, tampak komitmen para Alim Ulama untuk terus istiqomah bersama-sama mendakwahkan Islam dan menjelaskan bahayanya proyek OBOR ini di tengah-tengah umat.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *