Mudzakarah Kyai dan Aktifis Islam (MKAI), Isu Radikalisme Rekayasa untuk Melemahkan Umat Islam

Bojonegara, (shautululama) – Sabtu, 16 November 2019 para ulama, kyai, asatidz, dan para aktivis di sekitar Bojonegara, Puloampel dan Cilegon berkumpul kembali dalam acara Mudzakarah Kyai dan Aktivis Islam (MKAI) Edisi ke 4 dengan tema “Bagaimana Islam Menjawab Tudingan Radikalisme” di Masjid Al-Yaqin Puloampel, Bojonegara, Kabupaten Serang. Tema ini sengaja diambil karena rezim saat ini kembali mengembar-menggemborkan tentang radikalisme yang sering diidentikkan dengan Islam.

Forum ini diharapkan bisa mengcounter narasi satu arah yang selama ini mewarnai media mainstream.

Acara dimulai pada pukul 12.45 dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh akhuna Ricky Fauzi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pemantik diskusi oleh Ketua Yayasan Madinatul Ma’arif selaku tuan rumah yaitu Dr. Fadlullah Ma’ruf S.Ag, M.Si.

Beliau mengajak kepada hadirin dalam menguatkan tekad untuk mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil’alamin. Beliau menyinggung QS Ali Imron 104, tentang umat yang meraih kemenangan adalah umat yang mengajak kepada Al-Quran, ulama yang mujahidin.

Beliau juga menyampaikan, kondisi Indonesia sebagai negara muslim terbesar memiliki potensi yang sangat besar untuk kebangkitan Islam bila dibandingkan dengan negara-negara Arab (Kawasan Timur Tengah) karena telah dipisahkan oleh sejarah politik yang diinisiasi oleh Inggris.

Beliau menambahkan, apa yang menyebabkan Indonesia beragam tapi bersatu adalah Islam. Islam adalah jiwa dari Bangsa Indonesia sekaligus umatnya senantiasa menjadi benteng terakhir persatuan Indonesia.

Tanggapan pertama datang dari Abah H. Asmuni. Beliau menyampaikan bahwa kita bersikap biasa saja jika disebut radikal, karena kita mengajak kepada kesempurnaan untuk ber-Islam, juga istiqomah di dalamnya.

Selanjutnya Ust Jufri menanggapi bahwa sebenarnya kaum muslim tidak perlu panik, rendah diri atau was-was selama berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Radikal, menurut beliau adalah singkatan dari “Rakyat Dikadali”. Semuanya adalah rekayasa dengan tujuan untuk melemahkan kaum muslim.

Ustadz Mustain sebagai pemateri menjelaskan bahwa radikalisme muncul setelah isu terorisme tidak laku. Beliau menambahkan, jika radikal itu artinya mendasar atau mendalam, sehingga sebutan Islam Radikal itu bagus.

Radikal dipakai penguasa sebagai senjata untuk diarahkan kepada umat Islam. Dalam hal ini, menurut beliau, kita tidak boleh diam, tapi harus melawan. Melawan tanpa kekerasan (laa unfiyah) dan tanpa senjata (laa madhiyah).

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara untuk melawan propaganda tersebut, diantaranya:

1. Harus berjamaah. Sebagaimana QS Ali Imron 104 menyebutkan bahwa kata “ummat” pada ayat tersebut berarti thaifah (kelompok), atau hizb (partai) yang mengajak kepada al-khayr (Islam), yaitu menyeru orang kafir agar masuk Islam, dan menyeru kaum muslimin untuk menerapkan Islam.

Beliau menambahkan perkataan dari Imam Ghazali, bahwa rusaknya umat, karena rusaknya pemimpin, rusaknya pemimpin karena rusaknya ulama, dan rusaknya ulama karena karena kecintaan terhadap harta dan kedudukan.

Siapa yang menyerahkan cintanya kepada dunia, maka dia tidak akan mengkoreksi hal-hal kecil, apalagi yang besar. Jadi, semua komponen umat bersama-sama melakukan koreksi terhadap tindakan penguasa, dalam hal ini narasi radikalisme yang senantiasa ditujukan kepada umat islam, adalah tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan penguasa kaum muslimin.

2. Menjelaskan bahwa narasi radikalisme adalah upaya penyesatan pemikiran (tadhlilu al-fikri) kepada umat Islam. Pemikiran kaum muslimin dibonsai. Jika pemikiran sudah dangkal, maka umat tidak akan sejahtera, Islam tidak jadi rahmat karena ajaran yang sempurna untuk kehidupan tidak diterapkan.

3. Memahamkan umat dengan pemikiran yang benar. Cara berpikir yang benar tentang realitas harus dibangun dalam diri umat dan tokoh-tokohnya. Dengan ini diharapkan umat beserta tokohnya bisa berpikir cemerlang mengenai realitas di sekitar mereka dan tidak termakan propaganda jahat kaum kafir dan pengikutnya.

Kemudian Ustadz Agus menanggapi bahwa Islam datang dengan argumentasi yang cerdas dan masuk akal. Ketika kita takut pada suatu hal (dunia), maka lambat laun kita akan kehilangan kecerdasan.

Beliau menambahkan narasi negatif kepada Islam, bukan hal yang baru, tapi sudah ada sejak zaman Nabi.

Ustadz Imam menyampaikan bahwa pertentangan antara haq dan bathil akan terus berjalan, bahkan dalam barisan kaum muslim pun ada yang berkhianat dan terkategori munafik.

Beliau menambahkan bahwa kita harus memastikan posisi kita ada dimana, apakah golongan kiri atau kanan, membawa kebenaran atau sebaliknya.

Ustadz Sobri ikut menambahkan agar kaum muslim tetap bersabar dengan tetap melaksanakan tugas utama sebagai hamba Allah, yaitu dengan menunjukkan label khayru ummah, amar maruf nahyi mungkar.

Karena yang dinilai bukanlah berhasil atau tidaknya, tapi upaya agar tetap berada dalam kebenaran dan keistiqomahan.

Diskusi lalu ditutup dengan penyampaian Quran Surat Al-A’raf ayat 96 oleh Ust Mustain, bahwa keberkahan akan terjadi di suatu negri jika penduduknya beriman dan bertakwa, dan jika penduduk negri tersebut mendustakan ayat-ayatNya dengan tidak menerapkannya, maka yang timbul adalah berbagai musibah yang terjadi silih berganti.

Maka dari itu, beliau mengajak kepada yang hadir untuk selalu berjuang bersama untuk menegakkan al-khayr, amar ma’ruf dan nahyi mungkar dengan metode yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga kaum muslimin akan menjadi kuat dan mendapatkan keberkahan tanpa ada lagi fitnah atau tudingan seperti saat ini dengan tuduhan radikal pada umat Islam yang senantiasa berjuang menegakkan kalimatullah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *