Mudzakarah Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat Makassar, Tolak Kriminalisasi Kalimat Tauhid

Makassar, (shauatululama) – Bertempat di Masjid Siti Saerah Kota Makassar, 4 Nopember 2018, telah berlangsung dengan khidmat Mudzakarah Alim Ulama dengan Tema Ulama dan Umat Bangkit Membela Kalimat Tauhid dihadiri oleh sejumlah alim ulama, asatidz dan muballigh.

KH. Sudirman S.Ag, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa Tauhid adalah batas sangat tipis antara iman dan kafir. Sesuatu yang paling bernilai dalam hidup, dan merupakan sumber energi terbesar hidup seorang muslim. Beliau mencontohkan dengan Tauhid yang telah merubah para sahabat Rasulullah, menjadi pejuang. Kalimat Tauhid sendiri perlu ditegaskan ulang bukan hanya bermakna tidak ada Tuhan selain Allah, tetapi bermakna Tidak ada yang diibadahi selain Allah, tidak ada hukum yang diterapkan kecuali hukum Allah SWT.

DR. KH. Mujahid Abdul Jabbar, Lc, dalam tausiyahnya diantaranya menjelaskan tentang fungsi bendera untuk mempersatukan. Sebagaimana group umrah atau haji dipersatukan dengan bendera, agar tidak bercerai berai. Demikian pula ummat Islam dipersatukan dengan bendera Tauhid.

Sedangkan kalimat Tauhid adalah kalimat paling bernilai bahkan timbangannya di akhirat lebih berat dibandingkan dengan tujuh lapis langit dan bumi. Kalimat Tauhid ini wajib dibuktikan dengan amal shaleh, agar pernyataan keimanan tidak menjadi hoax semata.

Almukarram Al Ustadz Barliantah Abdullah dalam pemaparannya menjelaskan seputar pembakaran bendera Tauhid. Fakta menunjukkan bahwa yang dibakar adalah bendera Tauhid, bukan bendera HTI. Bagi yang menganggap bahwa itu adalah bendera HTI, Al ustadz menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter mata.

Alasan dalam rangka untuk memuliakan dengan menukil peristiwa masa Utsman bin Affan juga tidak relevan. Karena tindakan pembakaran bendera Tauhid di Garut disertai dengan pelecehan dan penistaan, sementara tindakan Khalifah Utsman tidak disertai dengan pelecehan dan penistaan.

Di bagian akhir mudzakarah ini dikeluarkan pernyataan sikap bersama sebagai berikut:

  1. Mengutuk keras tindakan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid, apapun alasan yang dikemukakan. Karena hal itu tidak dapat diterima disebabkan sikap yang ditunjukkannya dengan sengaja merampas, sengaja membakar dan sengaja menyebarkannya di media.
  2. Menuntut kepada semua pihak yang terlibat agar bertobat dan meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan tersebut yang sebelumnya harus diawali pengakuan bahwa pembakaran bendera itu adalah pembakaran bendera Tauhid bukan bendera ormas, karena tak ada satu ormaspun yang mengakui sebagai benderanya.
  3. Mengajak kepada seluruh komponen umat untuk bersatu padu demi membela kalimat Tauhid yang telah dinistakan oleh pihak tertentu. Fenomena penistaan agama ini terus mengalami peningkatan dan rezim membiarkan kondisi ini, penistaan secara sistematis terus dilakukan untuk memecah belah umat Islam.
  4. Terjadinya penistaan agama yang terus menerus tanpa ada kendali, menunjukkan tidak adanya penjagaan penguasa terhadap agama yang dianut oleh mayoritas negeri ini. Bahkan terkesan anti terhadap agama sebagaimana telah
    mengkriminalisasi ajaran Islam Khilafah. Oleh karena itu, ke depan #Haram Hukumnya memilih pemimpin pendukung penista agama, #Haram Memilih Pemimpin Anti Islam.
  5. Menyerukan kepada seluruh komponen umat Islam untuk bersatu berjuang demi tegaknya Islam yang menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Dengan tegaknya, rayatul uqab “laa ilaaha illAllah Muhammad Rasulullah” akan berkibar yang melambangkan kembalinya khairu ummah yang akan memimpin umat manusia berada pada derajat yang paling mulia.
    (red/hs).

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *