Meriahkan Lebaran Istimewa dengan Silaturahmi Online

Banjarmasin, (shautululama) – Menyambut lebaran istimewa, Idul Fitri 1441 Hijriyah ketika dunia tengah dilanda pandemi corona, sebuah persembahan menarik berupa perhelatan digital dari ujung Sabang hingga Merauke, disajikan Khilafah Channel dan tim Ramadhankita.com untuk memeriahkan #lebaranistimewa, lebaran di rumah saja, hari Senin (25/5/2020) pagi.

Dipandu Host M Karebet Widjajakusuma, menghadirkan pembicara KH Rokhmad S Labib dan KH M Ismail Yusanto serta gema takbir dan salam lebaran yang disampaikan dari kota-kota di 34 Provinsi, termasuk dari Kalimantan Selatan.

Dari Banjarmasin salam lebaran disampaikan dua warga Banua dengan pakaian adat Banjar, dari depan Menara Pandang Siring Sungai Martapura, seberang masjid Raya Sabilal Muhtadin, seraya menyampaikan pantun:
Banjarmasin Kota Bauntung Batuah
Pasar Tarapung Urang Bacari Nafkah
Mudahan Kita Sabarataan Istiqomah
Bajuang Gasan Syariah wan Khilafah.

Sementara itu, KH Rokhmad S Labib dalam tausiahnya mengingatkan qoul ulama Hasan Al Basri yang memberikan tanda-tanda diterimanya amalan seorang hamba.

“Diterima atau tidaknya amal seorang hamba tentu adalah rahasia Allah Taala, tetapi para ulama memberi alamatul qabul. Al Hasan Al Basri mengatakan, sesungguhnya balasan dari kebaikan itu adalah kebaikan setelahnya,” terangnya.

Seperti haji mabrur, setelah pulang berhaji semakin rajin ibadah dan semakin jauh dari maksiat. Sebaliknya, haji mardud (tertolak) membuat pelakunya tidak lebih baik, bahkan kembali kepada kemaksiatan, sebelumnya membuka aurat, pulang kembali terbuka, makan riba, korupsi, mencuri.
Demikian juga puasa. Apakah selepas ramadan dan lebaran ini, tetap rajin berpuasa sunnah, qiyamul lail dan semakin rajin membaca Alquran, itu adalah diantara tanda diterimanya amalan selama Ramadan.

“Kita berharap dan berdoa, agar tidak termasuk dalam golongan kedua, puasa kita ditolak, karena tidak ada perubahan dari amal sebelumnya. Yang sebelumnya membenci islam, makin membenci, yang sebelumnya mengkriminalisasi syariah, makin menjadi-jadi, itu adalah tanda-tanda puasa tidak diterima,” tambahnya.

Sementara itu, KH Ismail Yusanto memaparkan tentang makna lebaran dalam kehidupan umat Islam di Nusantara.

“Islam masuk dan tersebar di seluruh dunia. Dalam proses itu, terjadilah akulturasi bahasa, budaya, pakaian yang memunculkan kekhasan di masing-masing negeri kaum muslimin. Seperti umat Islam di Indonesia, dikenal dengan sarung dan peci hitamnya,” ujarnya.

Demikian juga lebaran, menurutnya adalah istilah yang khas untuk menyebut hari raya Idulfitri. Diambil dari kata lebar yang maknanya selesai. Karena ada kegiatan di dalamnya, jadi ditambah imbuhan menjadi lebaran. “Sama seperti istilah yasinan, dari aktivitas membaca surah Yasin,” tambahnya.

Sebelum lebaran juga ada tradisi nyadran, mengirim ketan, kolak dan apem. Ternyata ini adalah tinggalan para ulama yang mencoba memasukkan dakwah melalui tradisi lokal. Sehingga ketika memasuki lebaran dengan hati yang bersih dan saling memaafkan, disimbolisasi dengan mengirim makanan.

“Ketan itu diambil dari kata khata’an artinya kesalahan, kolak dari kata khalaf yang sudah lewat dan apem dari kata afwan. Maknanya, kesalahan yang sudah lewat mohon dimaafkan,” terangnya.

Inilah terangnya yang disebut proses akulturasi. Sehingga kalau ada istilah Islam nusantara, inilah yang lebih tepat. Islam di nusantara. Sebab Islam tidak ada versi Arab, versi Nusantara, karena Islam itu satu. Tetapi Islam ketika berkembang di satu tempat, dia bisa menunjukkan karakter atau warna yang berbeda.
Sementara itu, acara ini pun mendapat apresiasi dari warga banua, seperti disampaikan Wahyu dari Barabai. Apa yang dilakukan Khilafah Channel melalui lebaran online, menurutnya sangat bermanfaat dan positif sekali.

“Selain memperkuat ukhwah, silaturahmi sesama muslim, juga syarat nuansa pencerdasan dan penyadaran, untuk mendorong melakukan amal-amal ketaatan kepada Allah setelah selesainya Ramadan dan momen lebaran. Semoga dengan kegiatan ini semakin menjadikan masyarakat mengharapkan agar diatur, diterapkan kepada mereka ajaran Islam di seluruh sendi-sendi kehidupan,” ujarnya. []

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …