MENGHARUKAN, DUKUNGAN PARA KYAI DAN PENGASUH PONDOK PESANTREN DARI BERBAGAI DAERAH DI JATIM KEPADA HTI

Jakarta, (shautululama.com) – Pada kelanjutan sidang di PTUN, Kamis (19/4/2018) yang lalu, gedung PTUN dipenuhi oleh alim ulama dengan pakaian khas mereka. Diantara ratusan ulama tersebut, ada yang datang dari Jawa Timur. Provinsi yang dikenal sebagai lumbung ulama dan pesantren ini, tak mau ketinggalan menjadi saksi keberpihakan beliau pada dakwah Syariah dan Khilafah yang diusung HTI. Berikut ini catatan perjalanan beliau dan kesan beliau terhadap dakwah HTI maupun proses persidangan.

Setelah hampir 24 jam di atas bus, pagi ini 19 April 2018, 45 orang kyai dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur tiba di gedung PTUN Jakarta Timur.

Seperti yang dijadwalkan, agenda sidang hari ini adalah penyerahan berkas kesimpulan dari pihak penggugat dan pemerintah dari pihak tergugat.

Dengan begitu bersemangat para kyai, yang mayoritas tak lagi muda, berjalan mendatangi gedung PTUN seraya melafalkan _shalawatul asyghil_ yang bergantian dengan takbir, yang merupakan kesaksian hanya Allah lah yang Maha Besar. _Taqrir_ yang menegaskan bahwa siapapun tdk ada artinya di sisi Allah Dzat Maha Agung, apakah dia raja, penguasa, presiden, maupun yang lain. Mereka adalah manusia makhluk lemah, kecil dan kerdil di hadapan Nya.

Sungguh hanya hati yang keras dan mati yang tidak bergetar menyaksikan kehadiran ‘makhluk-makhluk terpilih’ ini. Tampak sama sekali tak ada gurat lelah dari raut wajah mukhlis beliau-beliau. Sungguh wajah sejuk yang seharusnya melembutkan hati nurani para hakim, penguasa, untuk kemudian memenangkan para pengemban risalah Islam, dienul Islam tersebut.

Meski sidang sempat tertunda beberapa saat, mereka tetap setia menanti penuh optimisme menjemput kemenangan dakwah. Bahkan saat sidang akhirnya hanya berlangsung tak lebih dari lima menit, sesuatu yang tampak tak sebanding dengan jauhnya jarak yang telah ditempuh, pun tak tersurat kekecewaan dari mimik dan lisan beliau. Bahkan lantang takbir terus tergema terbakar orasi KH Rahmat S. Labib. Tak ada tempat bagi kekecewaan dan penyesalan dalam setiap jejak dakwah, itu adalah keyakinan yang menghujam di dada-dada para pewaris nabi ini. Subhanallah.

Dan bagi HTI, para kyai dan pengasuh pondok dari berbagai daerah tersebut adalah tamu terhormat. Maka menjadi kwajiban syar’i bagi HTI untuk memperlakukan mereka sebagai mana layaknya tamu terhotmat, diminta atau tidak. Alhasil, setelah dari gedung PTIN, para kyai diterima secara resmi oleh KH Rahmad S Labib, KH Achmad Junaidi dan KH Abu Hanifah, dll sebagai _mumats-tsilin_ HTI. Para kyai diterima di Crown Palace nomor 24 Jl Prof Soepomo Tebet Jaksel.

Tidak ada hal istimewa pada pertemuan tersebut. Pertemuan tersebut adl bentuk _ikram adh dhuyuf_ persis seperti yang disyariatkan dalam syariat Islam.

_Bakda_ sambutan ta’dhim dari tuan rumah, beberapa ulama kasepuhan diberi waktu menyampaikan pesan dan kesan baik terkait dengan perkembangan sidang PTUN maupun dakwah syariah dan khilafah secara umum.

Di sesi inilah, luapan semangat bercampur dengan perasaan haru mengalir begitu saja, sebagaimana hati mereka yang ikhlash, dari lisan-lisan mulia ini…

Allahu Akbar! Merinding dan bergetar dada ini menyaksikan dan mendengarkan persaksian sekaligus kesiapan beliau-beliau untuk bersama HTI bahkan berada di depan HTI untuk terus memperjuangkan tegaknya kembali Islam dalam naungan Khilafah.

“Saya siap andai kepala pun harus terpisah dari badan demi dakwah ini!” seru Kyai Muhyidin.

“Jangan takut tuduhan manusia. Benar salah bukan karena omongan manusia. Musa pun disalahkan Fir’aun, Ibrahim disalahkan Namrudz, bahkan Rasul Muhammad pun dipersalahkan oleh Abu Jahal dan Abu Lahab dan kawan-kawanya! Jadi kalau cuma disalahkan rezim dholim jangan mundur!” pekik KH Ahmad Jauhari.

“Khilafah adalah ajaran Islam, kita wajib mendakwahkannya, kita para ulama harus terus mendukung perjuangan HTI”, tambah Abah Qoyyum dari Malang.

“Wahai Ulama!
“Yakinlah…tak akan ada yang mampu mengalahkan perjuangan dakw

ah ini, tidak ada!” Seru ulama sepuh KH Bahron Kamal dari Malang.

“Saudaraku…perpisahan yang kami takutkan bukanlah perpisahan karena kematian, karena perpisahan sesungguhnya adalah saat kita terpisah antara surga dan neraka…naudzubillah. Saya sangat berharap kita tidak terpisah nanti di akhirat, saya ingin berkumpul bersama antum semua di surga…” bergetar suara KH Ahmad Nawawi, Ketua MUI Depok, begitu berharap ridlo Alloh SWT atas dakwah dan para pengembannya.

Betul para Kyai, ulama _lisanul ummah_ … Allah yang menyatukan kita dalam satu barisan perjuangan demi izzul Islam wal muslimin. Allah pula yang akan mengumpulkan kita kelak di telaga Kautsar bersama Kanjeng Nabi di bawah naungan Liwa Rayyahnya.

Dan benar Kyai… tak ada siapapun yang bakal mampu mengalahkan dakwah ini.

Pada kesempatan tersebut, KH Rahmat S. Labib kembali menegaskan bahwa dakwah itu adalah perintah Nya, bukan perintah manusia. Maka Allah sendiri yang menjamin keabsahannya, Allah pulalah yang menjamin kemenangannya. [red]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *