Meluruskan Penguasa adalah Tradisi Para Shahabat dan Ulama

Pontianak, (shautululama) – Ya, penguasa negeri-negeri kaum muslimin saat ini, termasuk Indonesia, belum melaksanakan aturan Allah SWT secara _kaffah_ (totalitas), sehingga harus terus diingatkan, seperti tradisi para sahabat dan ulama zaman dulu, yang terus mengingatkan para pemimpinnya ke jalan yang benar.

Ajakan ini disampaikan Khadim Ma’had Inhadhul Fikri, Pontianak, Kalimantan Barat, Ustadz Muhammad Nunung Binarto Aji, saat menjadi pembicara pertama, di sesi Kalimah Minal Ulama, dalam acara Liqa Syawal Ulama Aswaja (Ahlu Sunnah Wal Jamaah) dan Tokoh se-Kalimantan, Ahad (21/06/20).

Ustadz Nunung menceritakan, bahwa kebiasaan menegur penguasa, juga pernah terjadi saat masa Khalifah Umar bin Khattab, yang dilakukan oleh Salman al-Farisi Ra.

Waktu itu, di tengah pidato kenegaraan, Salman bertanya-tanya tentang pakaian sang pemimpinnya, yang menggunakan kain ghanimah dari Yaman. Karena jika dihitung-hitung dengan tubuh sang Khalifah yang besar, kain tersebut tidak cukup digunakan untuk membuat pakaian Sayyidina Umar Ra, terkecuali menggunakan dua kain sekaligus.

Akhirnya Kepala Daulah Islam ini memberikan jawabannya, bahwa kain tambahan tersebut adalah pemberian dari anaknya, bukan dari pengambilan harta ghanimah secara langsung.

“Peristiwa ini menunjukkan, bahwa Salman al-Farisi Ra pernah mengingatkan penguasa secara terang-terangan,” tegas Ustadz Nunung, yang berarti bukan secara sembunyi-sembunyi, atau berdua-duaan.

Selain para sahabat, menurut Ustadz Nunung, ulama terdahulu juga mempraktekkan hal yang sama di masing-masing masanya. Di antaranya adalah Syeikh Abdul Qodir al-Jailani, bahkan seorang Syeikh Ibnu Taimiyah juga pernah dipenjara akibat aksi beraninya.

Ustadz Nunung menambahkan, bahwa aktivitas seperti di atas nilainya sangat besar, apalagi bila berhadapan dengan penguasa yang zalim.

“Rasulullah SAW memuji bagi siapa saja mengingatkan para penguasanya, akan disamakan dengan penghulu para syuhada, yakni paman beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib Ra”, ujar Ustadz Nunung.

Tentu pahala seorang syuhada sangatlah besar, apalagi penghulu syuhadanya, dan status tersebut, bisa diraih bagi yang berani menasehati penguasanya, dan syahid karenanya.

“Inilah yang perlu kita sampaikan kepada umat, dan juga kita lakukan sebagai ulama, untuk mengingatkan para penguasa dengan pengingatan untuk kembali kepada aturan-aturan Allah, untuk menerapkan seluruh aturan Allah, dan tidak memilih-milih dan tidak memilah-milah,” tegas Ustadz Nunung, kepada ratusan ulama dan tokoh yang berhadir sebagai peserta lewat aplikasi Zoom.

Kegiatan ini merupakan pertemuan regional ke-dua se-pulau Kalimantan, yang juga disiarkan langsung lewat channel youtube ULAMA GURUNDA TV.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …