Maulid Nabi Muhammad SAW 1442H : Rindu Syariah Islam Wujud Mahabbah Kepada Rasulullah SAW

0
166

Pondok Udik, Kemang – Bogor. (shautululama) – Ahad, 29 Rabiul awal 1442 H/ 15 November 2020, Majelis Daarul Fatih (MDF) menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1442 H, bertempat di Majelis MDF Kemang – Kabupaten Bogor.

Suasana malam yang cerah di tengah desa yang penuh keakraban, jama’ah dari berbagai daerah – khususnya kabupaten Bogor – antusias berdatangan menghadiri Maulid, tampak hadir para Ulama, habaib dan asatidz diantaranya KH. Haris Iskandar (Pimp. Majelis MDF), Habib Adnan Baladjam bin Said Baladjam (Kemang, Bogor), Habib Muchsin Al-Athos (Cilangkap, Jakarta), Kyai Dr. Ahmad Sastra, MM (Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Bogor), Ust. Ir. Sukrianto, MA (Dosen, Khodimul Majelis Hadhoroh Islamiy, Bogor) Ust. Khermawan Al-Ayyubi (Pimp. Majlis An – nidzomiyah, Kemang – Bogor), Ust. Eko Buya Yusuf (Khodimul Majelis MDF, Bogor), Ust. Mawardi (Ketua DKM dan Tokoh Ulama, Pondok Udik – Bogor), Ki Sarmili Yahya (Pimp. Majlis Saung Ma’rifat, Parung – Bogor), Ust. Salman (Pimp. Majlis Daarussa’adah, Parung-Bogor), Kyai. Husein (Pimp. Majelis Miftahul Falah, Candali – Bogor), KH. Mirham (Ulama Aswaja, Ciseeng – Bogor), Ust. Budi Santoso, MM (Khodimul Majelis Al-Qobuliyah, Bogor), Ust. Pupu Syarifudin (Ulama Aswaja, Parung, Bogor), Ust. Suwardi (Tokoh Desa Pondok Udik, Kemang – Bogor) para santri, jama’ah ibu-ibu dan Muhibbin lainnya.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI[instagram-feed]

Acara dimulai ba’da Isya diawali dengan pembacaan Maulid Nabi (addiba’i) yang diiringi oleh Tim Hadroh Taajul Muhibbin, prosesi mencium kain Kiswah Rasulullah ﷺ yang diedarkan ke sekeliling hadapan jama’ah dan pembacaan kalam Ilahi yang dibacakan oleh Ust. Helmy.

Sambutan shahibul bayt disampaikan langsung oleh Pimpinan MDF, shahibul fadhilah al-Mukarram KH. Haris Iskandar.

Sebelum menyampaikan sambutannya Kyai Haris Iskandar menyampaikan rasa syukur dan salam ta’dzim kepada para ulama, habaib, asatidz, muhibbin dan seluruh jama’ah yang hadir.

Dalam sambutannya Kyai Haris (sapaan akrabnya) menyampaikan berbagai program kegiatan yang diadakan Majelis, sebagai tahadduts binni’mah berjalannya aktivitas dakwah di desa pondok Udik. Kemudian beliau menyampaikan fadhilah diadakannya Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang bekerjasama dengan warga masyarakat kampung Hambulu, Desa Pondok Udik.

“Sekarang saatnya untuk rajin ngaji, ini maulid semoga menjadi motivasi khususnya bagi warga untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan rajin ngaji ” Tegas Kyai Haris.

Beliau pun menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh warga dan Muhsinin yang telah mendukung program kegiatan yang diselenggarakan oleh majelis MDF dan kepada panitia pelaksana Maulid tahun ini.

 

Adapun penyampaian Kalam minal ulama dipandu langsung oleh shahibul bayt Kyai Haris Iskandar. Kalam pertama disampaikan oleh shahibul fadhilah Al-mukarram al-Ustadz. Khermawan Al-Ayuby (Pimp. Majelis An-Nidzomiyah, Kemang – Bogor).

Beliau membahas tentang hikmah terbesar maulid dan tingginya kemuliaan Sirah Nabawiyah Rasulullah al – Musthafa.

“Apa buah atau hikmah terbesar dari hadirnya kita dalam peringatan Maulid ? Yaitu agar tumbuh di dalam hati dan jiwa kita mahabbah (kecintaan) kepada Baginda Nabi Besar Muhammad ﷺ. Karena semua alam semesta dijadikan oleh Allah ta’ala cinta, patuh, dan tunduk kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kecuali jin dan manusia yang hatinya ditutup oleh Allah SWT. na’udzubillah ” tegas Ustadz Ayub.

Beliu pun menyampaikan bahwa segala sesuatu apa saja yang memiliki kaitan dengan Rasulullah ﷺ adalah mulia.

“Jadi, segala sesuatu yang punya kaitan dengan Baginda nabi itu sesuatu yang mulia, dan Alhamdulillah tadi kita dapat mencium kain kiswahnya baginda Muhammad ﷺ, semoga Allah takdir kita semua dapat ziyaroh langsung ke maqam beliau, Allah SWT tidak haramkan mata kita memandang beliau, mulut kita mampu mencium tangan mulia beliau di akhirat, dan Allah SWT masukkan kita ke surga-Nya bersama Baginda Rasulullah ﷺ ” Ujar ustadz Ayyub disambut dengan Aamin ya rabbal ‘alamiin oleh para jama’ah.

Maka, selayaknya kita bercita-cita menjadi bagian dalam golongan manusia yang cinta, patuh, dan tunduk sepenuhnya pada Nabi beserta syariah Islam yang dibawanya.

Sedangkan Kalam ulama yang kedua disampaikan oleh Al-Mukarram Ustadz. Pupu Saripudin (Ulama Aswaja Parung, Bogor)

“Beragam acara di bulan rabiul awal diadakan oleh kaum muslim untuk mewujudkan cinta, mahabbah kepada Rasulullah ﷺ. yang dikenal dengan peringatan Maulid. Yang jadi pertanyaan apa wujud (bukti) cinta kita kepada Rasulullah ﷺ ? ” ujar Ust. Pupu melontarkan pertanyaan.

Beliau pun mengulas wujud mahabbah (kecintaan) para sahabat nabi, mereka meletakkan cintanya kepada Nabi diatas kecintaan kepada keluarganya, kerabatnya, orang tuanya bahkan kepada dirinya sendiri. Maka, mereka akan cepat tunduk patuh terhadap syariah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Maka klaim pengakuan cinta kepada Nabi tanpa bukti taat kepada syariahnya baginda Nabi, adalah cinta dusta. sebagaimana Ust. Pupu menyitir tafsir dari firman Allah surat Ali – Imran (3) ayat 31.

“Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, barang siapa yang mengklaim dirinya cinta nabi tapi tidak berada pada thariqah muhammadiyah (tidak sejalan dengan syariah yang dibawa baginda nabi ﷺ) maka cintanya dusta “.
pungkas Ust. pupu.

Kalam ketiga disampaikan oleh Al-Mukarram Al-Ustadz. Dr. Ahmad Sastra, MM. (Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa).

Beliau menyampaikan tentang pertanyaan penting yang akan mengarahkan kepada jati diri seorang individu maupun suatu bangsa.

“Darimana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia dan akan kemana setelah mati. pertanyaan pertama terkait pengakuan akan eksistensi Allah sang pencipta, pertanyaan kedua berkaitan erat dengan ketaatan terhadap aturan Allah. Sedang pertanyaan ketiga hubungannya dengan keyakinan adanya hari kiamat ” terang Ust. Ahmad menjelaskan.

Beliau menegaskan jika ketiga pertanyaan tersebut mampu dijawab dengan benar bahkan oleh suatu negara, maka negara tersebut adalah negara yang berakhlak.

“Akhlak erat kaitannya dengan ketaatan. Negara yang berakhlak tahu apa tugas negara, rakyat dan pemimpin. Negara yang berakhlak menegakkan seluruh syariah Allah dalam seluruh aspek kehidupan, tunduk taat totalitas pada hukum Allah SWT ” tegas Ust. Ahmad.

Ust. Ahmad pun berharap agar Allah memberikan keistiqomahan untuk senantiasa memperjuangkan syariah-Nya.

“Oleh karena itu melalui kecintaan kita pada Nabi malam ini semoga kita diberi Istiqomah untuk senantiasa memperjuangkan syariah Allah ini sampai tegak sebagaimana Rasulullah ﷺ menegakkan daulah Madinah ” Pungkasnya.

Kalam ulama keempat disampaikan oleh Al-Mukarram shahibul fadhilah Ust. Ir. Sukrianto, MA. (Khodimul Mejelis Hadhoroh Islamy, Parung-Bogor)

Beliau menyampaikan pernyataan tegas Rasulullah terkait siapa saja yang mengaku telah beriman.

“Rasul mengatakan; tidak beriman seseorang sampai dia itu mengikuti kepada apa yang Aku bawa. Apa yang dibawa oleh Rasulullah ? adalah risalah Islam; Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ ” Ust. Sukri mengawali kalamnya.

Beliau pun mengulas beberapa sikap orang yang kontradiktif dari pengakuan keimanannya.

“Jadi kalau ada diantara kita (kaum muslim) yang mengaku beriman, shalat juga, puasa, zakat, dan haji, tapi ketika mendengar seruan syariah Islam dia katakan syariah Islam itu radikal, gak cocok disini, intoleran, syariah Islam itu akan menimbulkan konflik, Masya Allah, walaupun dia berani katakan ‘saya beriman’ ! (tapi Rasul katakan dia tidak beriman). Maka, beberapa hal ini yang menjadi catatan bagi kita bahwa apa yang Rasul bawa harus kita jadikan pegangan dengan sungguh-sungguh “.

Mengutip surat al-Hasyr ayat 7 dengan satu hadits yang mafhumnya sama, beliau juga menegaskan;

“Apa yang diperintahkan Rasul ambil pegang, apa yang dilarangnya tinggalkan, dan bertakwalah kepada Allah. Bagaimana caranya bertakwa kepada Allah ? Yaitu dengan menjadikan syariah Islam sebagai petunjuk dan aturan dalam kehidupan ”

Ust. Sukri pun menceritakan perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam menegakkan syariah Islam yang penuh tantangan luar biasa, begitu juga kita yang memperjuangkannya tentu akan menghadapi tantangan yang luar biasa. Maka, kita diperintahkan untuk senantiasa bersabar bersama orang – orang yang berdakwah menyeru kepada jalan Allah. Jangan sekali – kali berpaling menginginkan perhiasan dunia.

Adapun Kalam pamungkas disampaikan oleh Shahibul fadhilah al-Habib Muchin al-Athos terkait memuliakan ulama. Dengan mengutip sabda Rasulullah ﷺ.

“Kata Nabi, Muliakanlah ulama karena mereka adalah warasatul anbiya (pewaris para nabi), maka barang siapa yang memuliakan mereka berarti telah memuliakan aku, barang siapa yang telah memuliakan Aku maka sama saja ia telah memuliakan Allah. Siapa saja yang memuliakan Allah, akan masuk surga. Jadi, urutannya jelas. Kalau judulnya hanya sekedar cinta kepada Rasulullah tapi jauh dengan ulama itu rasanya tidak mungkin, gak bisa, gak nyambung. Karena ulama adalah tali yang menghubungkan kita dengan Rasulullah ﷺ ” Papar Habib Muchin Al-Athos.

Beliau pun mengajak para jama’ah yang hadir untuk senantiasa dekat dengan ulama.

“Maka sungguh beruntung kita saat ini bisa berkumpul dengan para ulama. Jangan berhalusinasi minta dikumpulkan bersama Rasulullah, tapi dengan ulama jauh, gak bisa. Untuk langkah pertama, dekatkan dengan ulama, maka insyaAllah kita akan bisa benar. Karena ilmu itu membuat kita pintar tapi agama membuat kita benar. InsyaAllah kita bisa menjadi kebanggaan Baginda Rasulullah ﷺ ” Pungkas Habib Muchsin.

Acara maulid yang dihadiri seratusan lebih hadirin ini berlangsung khidmat dalam suasana penuh keakraban, ditutup dengan doa oleh Shahibul fadhilah Al-Habib Muchsin Al-Athos, dilanjutkan dengan ramah tamah para ulama, habaib, asatidz, muhibbin dan jama’ah majelis dengan sajian nasi kebuli. [Ar/A.Zyd]