Maulid Nabi di Masjid Al Hidayah: Khilafah Ajaran Islam, Perjuangkan dan Dakwahkan

Malang (24/11). “Salah satu warisan Rasulullah adalah Khilafah. Maka ajaran khilafah itu jangan dipersekusi dengan isu radikalisme atau terorisme. Justru sebaiknya kita turut memperjuangkan dan mendakwahkannya”, tegas Ustad Azizi Fathoni, S.Pd., Mudir Kuttab Tahfidz Al Utrujah, kota Malang dalam ta’lim peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441H di Masjid Al Hidayah Kota Malang, pada Ahad ba’da subuh (24/11/2019).

“Cinta Nabi Cinta Syariah” demkian tema yang diambil pada acara yang digelar oleh Majelis Taklim Masjid Al Hidayah ini, untuk bersama menjadikan momen maulid Nabi sebagai penguat kecintaan kepada Nabi Muhammad dan syariatnya.

Setelah membuka dengan kutipan Al Qur’an ayat 59 surat An Nisa, Ustad Azizi mengajak para hadirin untuk kembali mengenang bagaimana Rasulullah Saw dilahirkan dengan kejadian-kejadian yang luar biasa:

“Setidaknya ada 3 kejadian, pertama adalah menjeritnya iblis dengan begitu histeris, kedua padamnya api abadi umat Majusi, dan ketiga saat lahir Rasul tidak menangis, dengan telapak tangan menapak tanah dan kepala mendongak ke atas, muncul cahaya memancar dari tubuh beliau. Bahkan ibunda beliau tidak merasa sakit saat melahirkan dan tidak merasa lelah saat mengandung”, jelasnya.

Ustad Azizi menerangkan bahwa kita harus totalitas mengikuti Rasulullah: “Rasulullah itu ditaati dan diikuti. Ditaati kaitannya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Diikuti kaitan dengan mencontoh, ittiba’, dalam semua hal kecuali yang khusus bagi Nabi. Dan apa-apa yang Rasul bawa meliputi urusan pribadi sampai dengan urusan negara”, pintanya.

Ustad Azizi menerangkan hadits Bukhari Muslim tentang keadaan umat manusia kelak di padang mahsyar. Dimana semua penglihatan begitu terang dan pendengaran begitu tajam. Karena setiap manusia akan ditampakkan amal-amalnya selama di dunia. Terlebih di hamparan yang lapang itu, matahari hanya berjarak sejengkal dari ujung kepala, keadaan yang begitu mencekam:

“Saat itu setiap manusia akan menghinakan dirinya sendiri, mereka yang kafir akan menyesal mengapa mereka ketika di dunia kufur. Mereka yang bermaksiat akan menyesali kemaksiatannya. Dan mereka yang berimanpun akan menyesali amal shalihnya yang masih kurang maksimal”, paparnya.

Ustad Azizi melanjutkan, ketika manusia mencari syafaat kepada Nabi Adam as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan Isa as yang mereka semua memiliki keistimewaan daripada nabi pada umumnya, nabi-nabi itu tidak bisa memberikan syafaatnya dan menyampaikan agar tiap manusia mengurusi dirinya sendiri-sendiri.

“Ketika Nabi Muhammad Saw, diminta syafaat oleh seluruh manusia dengan disampaikan segala keistimewaan yang beliau miliki, maka beliau bersimpuh sujud di bawah ‘arsy Allah. Allahpun menganjarkan pujian dan sanjungan yang tidak pernah diajarkan sebelumnya. Kemudian Allah memberikan kesempatan satu permohonan kepada Nabi Muhammad. Dan Nabi Muhammad mengatakan ummatii, ummatii, ummatii… Beliau begitu sayang kepada kita, sampai mendoakan syafaat khusus untuk kita dari sekian banyak ummat manusia,” terangnya.

Ustad Azizi kemudian menyampaikan bahwa sudah seharusnya umat Islam mencintai Nabi Muhammad Saw. Tidak dikatakan cinta dengan sebenarnya kalau tidak dengan taat. Cinta kepada Rasul berarti taat kepada Rasul, taat kepada apa yang diwariskan beliau Saw.

Di akhir tausiyahnya, ustad Azizi mengajak para hadirin untuk mencintai syariat Islam dalam wujud tafaqquh, terus mempelajari, khususnya dalam perkara kemaslahatan umum.

“Cinta kepada Nabi meniscayakan kepada cinta syariat. Cinta syariat pasti membawa kemaslahatan dunia, juga akhirat. Dengan cinta syariat, insyaAllah kita akan diakui oleh Nabi dan kelak mendapat syafaat saat di akhirat”, pungkasnya.

Taklim yang berakhir hingga waktu thulu’ ini, diikuti para hadirin dengan antusias. Setelah ditutup dengan doa oleh ustad Azizi, majelis diakhiri dengan sesi ramah-tamah yang telah disediakan oleh warga sekitar. [alf/ary]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *