MAULID NABI DI JEMBER: BUKTI CINTA NABI ADALAH MENJALANKAN SYARIAH SECARA KAFFAH

Jember, (shautululama) – Ahad, 17 Nopember 2019. Umat muslim di Jember menggelar Maulid Nabi Muhammad Saw 1441 H di Gedung GOW Jember. Perayaan hari besar Islam yang dihadiri lebih dari 500 jamaah itu mengangkat tema Cinta Nabi Cinta Syariah.

Maulid Nabi merupakan momentum merayakan dan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad Saw. Maulid Nabi yang berlangsung di GOW Jember itu disusun dengan model pengajian.

Penyampai kalam pembuka, Ustadz Abdurrahman Saleh menuturkan, peringatan Maulid Nabi itu dimaksudkan untuk menyatakan kecintaan kepada nabi Muhammad Saw. Selain itu, agenda ini juga bertujuan untuk menapaktilasi perjuangan dakwah nabi dan pesan-pesan politik yang terkandung di dalamnya.

Pengajian itu diisi oleh beberapa penceramah. Penceramah pertama, Ustadz Ahmad Abu Romlah menjelaskan cara membuktikan cinta kepada Nabi Saw. Keimanan ini, kata Ustad Ahmad, tidak cukup diukur dari perkataan namun juga butuh bukti perbuatan. “Banyak yang mengatakan bahwa bukti cinta kepada Nabi yaitu dengan memperbanyak baca sholawat. Apakah itu sudah cukup jadi bukti cinta kepada Nabi? Sedangkan, syariatnya banyak yang dicampakkan,” tuturnya. Sambil membacakan Quran surat an-Nisa ayat 65, dia menjelaskan, bukti keimanan kepada nabi yang sebenarnya yaitu dengan mengikuti dan menerapkan syariat yang dibawanya.

Lebih lanjut, penceramah kedua, al Ustadz Rahmat menuturkan, mencintai Rasulullah berarti juga harus mencintai risalahnya. “Risalah nabi itu syariah Islam. Dan syariah Islam mengatur manusia secara kaffah dalam hal ibadah, akhlak, muamalah, dan aturan lainnya,” ungkapnya. Maka dari itu, sambungnya, mencintai nabi berarti juga harus mencintai dan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, bukan sebagian-sebagian.

Penceramah selanjutnya, Kyai Saiful Hadi menyampaikan, bukti cinta kepada nabi ada tanda-tandanya. “Tanda-tanda orang yang cinta pada nabi yaitu senantiasa tunduk patuh pada apa yang dibawa oleh nabi (syariat),” tutur kyai pengasuh Ponpes Almunawaroh itu. Menurutnya, orang yang gemar baca Quran atau bersholawat kepada nabi namun menolak syariat yang dibawa nabi, maka orang itu tidak benar-benar cinta kepada nabi. Bahkan, lanjut dia, menolak syariat itu justru mendatangkan berbagai problematika umat seperti yang tengah terjadi di negeri ini. “Maka dari itu, solusi tuntas atas masalah-masalah itu yaitu menerapkan syariat Islam secara kaffah,” terangnya.

Di samping itu, penceramah selanjutnya, Ustadz Imron mengungkapkan, pada 12 Rabiul Awal bukan hanya menjadi waktu lahirnya Nabi Muhammad, namun di tanggal itu juga ada dua peristiwa besar lainnya. “Ada dua lagi peristiwa besar di bulan ini, yaitu tibanya nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekkah dan peristiwa selanjutnya yaitu wafatnya nabi,” papar dia.

Secara de facto, lanjut Ustadz Imron, sampainya nabi di Madinah menandakan berdirinya Daulah Islam Madinah yang menerapkan Islam secara totalitas. Sebelum hijrah, terjadi pembaiatan nabi yang kedua kalinya di bukit Aqobah. Peristiwa itu merupakan akad pendirian Daulah Islamiyah.

“Yang terakhir, 12 Rabiul Awal 11 Hijriah, beliau wafat. Sejak saat itu, dimulailah kepemimpinan Daulah Khilafah dengan pemimpin pertama, Abu Bakar, kemudian dilanjutkan Umar, Ustman, Ali, dan khalifah-khalifah setelahnya,” tutur dia.

Penceramah berikutnya, Ustad Muhammad Mashuri menegaskan, cinta kepada nabi harus dibuktikan dengan cinta kepada syariat yang dibawanya. “Meski ibadahe pateng, batuke ireng, meteng-teng, tapi kalau tidak cinta pada syariah, maka dia bukan umat Nabi Muhammad,” jelasnya. Supaya kita dianggap umat Nabi Muhammad, pesan Ustadz Mashuri, mari perbanyak menjalankan ibadah terutama yang hukumnya fardhu, baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah. “Salah satu ibadah yang fardhu kifayah yaitu menegakkan khilafah di bumi ini,” tandasnya.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *