Masa Depan Dunia Pasca Corona, Menyongsong Peradaban Baru Islam

Surabaya, (shautululama) – Sebagai ihtimam terhadap urusan kaum muslimin, khususnya terkait dengan wabah corona, para ulama, kyai, pengasuh ponpes, pengurus majelis taklim serta para ustad mengadakan acara Multaqa Ulama Aswaja Jatim, Ahad, 17 Mei 2020, mulai pukul 09.00 secara online.

Meski dilaksanakan secara online, cukup banyak alim-ulama Jatim yang ikut serta dalam multaqa ulama aswaja Jatim ini. Hadir dalam multaqa ini antara lain:

  1. KH. Rahmad S. Labib Ulama Aswaja Jakarta
  2. KH. KRT. Kamil Sulastito, M.Ag Pengasuh Pondok Pesantren al Kamil Surabaya
  3. KH. dr Muh Amin, Sp MK Ulama Aswaja Ngawi
  4. Kyai Ihsan Abadi, Ulama Aswaja Jatim
  5. Kyai Abah Jupri, Pengasuh Majlis Taklim Al Hikmah Kab. Blitar
  6. KH. Ahmad Jauhari, Pengasuh Kajian Kitab Al Hikam Kab. Kediri Jawa Timur
  7. Kyai Misno Pengasuh, MT Fathul Muin Paron Ngawi
  8. KH. Ridhoi, PP Nurul Hidayah Bantur Kab. Malang
  9. KH. Abdulloh Amroni, PP Kyai Sekar Al Amri Probolinggo Jawa Timur
  10. Kh. Muhammad Yasin, PP Al Fattah Soca Jember Jawa Timur
  11. KH. Ahmad Abu Syamil, Penasehat FKU aswaja mataraman
  12. KH. Muhajir, Pengasuh Majelis Ta’lim Wahdaniyah, Gresik Jatim
  13. KH. Thoha Cholili, PP Al Munthoha, Bangkalan, Madura
  14. KH. Asyofi, PP Darunnajah Genteng Banyuwangi
  15. KH. Muhammad Bahri Ulama dan tokoh masyarakat Jember, dll

Mengawali acara, shahibul hajah, Ustad Fajar Kurniawan, menyampaikan ucapan terima masih atas keikutsertaan para ulama dalam acara Multaqa Ulama Aswaja kali ini, meski tidak bisa bertatap muka secara langsung namun hal ini tidak mengurangi makna acara.

Dalam sambutannya, Ustad Fajar menyampaikan bahwa virus corona telah memporak-porandakan seluruh tatanan dunia, negara-negara kapitalisme yang selama ini nampak kesombongannya, tak nampu menangani pandemi covid-19.

Hal ini membuktikan bahwa dunia saat ini membutuhkan sistem baru, sistem Islam yang akan mengatur dunia dengan syariah Allah SWT. Disinilah peran penting para ulama untuk terus mendakwahkan, menyampaikan kepada umat, membimbing umat untuk menuju kepada Islam. Ulama bertugas menjelaskan kepada umat islam, membimbing umat Islam demi tegaknya Khilafah Islamiyah sebagai institusi pelaksana hukum syara. Kehebatan sistem islam, dengan khilafahnya telah terbukti menghantarkan umat manusia pada posisi yang mulia.

KH. dr. Muhammad Amin, Sp.MK, Ulasa Aswaja Ngawi, sebagai pemateri pertama mengulas secara medis bagaimana virus corona awal mula menyebar dari Wuhan, Obey China. Mereka mengkonsum makanan, yang dilarang dikonsumi oleh manusia, namun bagi orang komunis, tidak mengenal istilah haram. Akibat penangganan yang kurang tepat, maka virus ini menyebar hampir ke seluruh dunia, dan akhirnya sampai juga ke Indonesia, yang awalnya menjadi bahan canda tawa.

Selain itu, sebagai seorang profesional medis, beliau menyoroti kegagalan negara-negara kapitalis dalam menangani pandemi vrius corona ini. Beliau menjelaskan bahwa negara kapitalis tidak mampu mencegah penyebaran virus ini, tidak mampu memberikan penangganan yang baik dalam menanggani pasien covid, terbatasnya APD (Alat Perlindungan Diri) bagi petugas medis, tidak mampu menyediakan pelayanan medis yang memadai bagi perawatan pasien sehingga mengakibatkan jumlah pasien yang meninggal tinggi dan menyebar kemana-mana akibat salah kebijakan.

KH. Rahmad S. Labib, Ulama Aswaja Jakarta, sebagai pemateri kedua menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 mengingatkan bahwa betapa manusia lemah dan tidak berdaya dengan sistem buatan manusia, yaitu kapitalisme, demokrasi. Negara-negara kapitalis demokrasi telah gagal melayani rakyatnya yang menderita covid, kebijakan yang tidak tepat dan cepat, telah menyebabkan banyaknya korban yang berjatuhan dan menyebar kemana-mana.

Virus ini juga telah memporakporandakan ekonomi mereka, menghasilkan banyak pengangguran, tidak jalannya aktifitas ekonomi, kesombongan mereka selama ini, yang selalu mempertontonkan kekuatannya telah nampak berketuk lutut, menghadapi pandemi ini.

Lebih jauh lebih sampaikan, sistem politik kesehatan dalam Islam berbeda dengan sistem kesehatan dalam kapitalisme. Dalam Islam pelayanan kesehatan menjadi tanggung jawab bukan diserahkan kepada swasta, BPJS atas nama asuransi sosial. Dalam Islam, sumber daya alam dikelola negara untuk kepentingan rakyat, sehingga negara memiliki cukup anggaran untuk memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Ini berbeda dengan negara kapitalis, saat diminta memenuhi kewajiban kebutuhan pokok saat rakyat dilockdown, saat tinggal di rumah merasa tidak memiliki uang. Hal ini terjadi karena sumber daya kekayaan alam diserahkan kepada swasta, dan mereka membangun dengan pajak dan hutang.

Islam dengan, sistem Khilafah telah terbukti mampu memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan kebijakan penanganan wabah dengan cepat dan tepat. Hal ini pernah terjadi saat wabah thoun terjadi pada masa Umar.  Kebijakan Khalifah Umar sangat cepat dan tepat dalam mencegah penyebaran wabah waktu itu. Khalifah Umar memisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat, yang sakit diberikan pengobatan, yang sehat dilarang memasuki daerah yang terkena wabah. Khalifah memerintahkan rakya tinggal di rumah, dan Khalifah Umar memberikan semua kebutuhan hidup rakyatnya selama mereka tinggal di rumah. Rakyat pun patuh mengikuti arahan Khalifah karena mereka telah dijamin kebutuhan hidupnya.

Hal ini tentu berbeda dengan kebijakan sistem kapitalisme, dimana rakyat diminta tinggal di rumah sementara kebutuhan pokoknya tidak disediakan, tidak dipenuhi, jelas rakyat tidak mau mendengarkan instruksi ini. Karena setiap mereka butuh makan, butuh bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan banyak rakyat yang kelaparan akibat kebijakan PSBB yang tidak mampu mengendalikan penyebaran penyakit ini. Kebijakan antara pejabat negara membingungkan rakyat, tidak jelas bagaimana perencanaan pengendalian wabah ini.

Acara masih terus berlangsung hingga reportase ini dibuat, banyak ulama dan kyai yang akan menyampaikan pandangan beliau terkait dengan penanganan terhadap bawah corona ini. Acara Multaqa Aswaja Jatim ini disiarkan secara langsung melalui youtube Channel Multaqa Ulama Aswaja TV (MUA TV) dan Youtube Kaffah Channel.

Dari pantuan panitia acara Multaqa Ulama Aswaja Jatim diikuti sangat banyak peserta, bahkan seandainya ditaruh dalam gedung akan menyulitkan panitia. Di Youtube Channel MUA TV total yang melihat 7,1ribu orang. Rata-rata satu orang melihat sekitar 10 menit. Peak viewer yang melihat bersama-sama dalam satu waktu 590 orang. Serta terdapat penambahan subscriber (pelanggan baru) MUA TV bertambah 1000 orang.

Sementara di Youtube Kaffah Channel sebanyak 2000 orang melihat acara in. puncaknya ada 109 orang yang menyaksikan dan mendapatkan subcriber (pelanggan baru) sebanyak 48 orang. (hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Khilafah yang Dirindukan, Siap Memimpin Dunia

Jakarta, (shautululama) – 3 Maret 1924, institusi pelindung dan pelayan umat Islam itu runtuh, Khilafah …