MAJELIS TAQARRUB ILALLAH KEDIRI: “PEMIMPIN YANG MENDAPAT NAUNGAN ALLAH”

Kediri, (shautululama)  – Majelis Taqarrub Ilallah mengadakan kajian bulanan di Masjid Al–Furqon Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Majelis Dzikir sekaligus Majelis Ta’lim ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 09 Maret 2019, dimulai pada pukul 20:00–22:00 WIB.

Dihadiri puluhan Ulama dan tokoh masyarakat se–Kabupaten Kediri serta dihadiri pula oleh pelajar dari Kampung Inggris Pare. Acara diawali dengan dzikir bersama yang dipimpin oleh Habib Naufal dari Malang. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh Ustadz Ahsan sebagai Pengasuh Majelis Taqarrub Ilallah, Kediri.

Majelis Taqarrub Ilallah kali ini mengangkat tema “Pemimpin yang Mendapat Naungan Allah”. Hal ini dilatar belakangi oleh krisis kepemimpinan di Indonesia yakni banyak diantara pemimpin–pemimpin di negeri ini yang kurang mampu dalam memimpin atau tidak memiliki kapabilitas dalam memimpin, ingkar janji kepada rakyat dan tidak mampu menerapkan aturan Allah, terlebih pelaksanaan Pemilu yang tinggal menghitung hari.

Ustadz Ahsan membuka ceramahnya dengan himbauan kepada para peserta bahwa persoalan kepemimpinan bukanlah persoalan yang sepele, persoalan kepemimpinan adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia agar tidak salah dalam memilih pemimpin.

Ustadz Ahsan menjelaskan secara detail karakteristik pemimpin yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat kelak atau pemimpin yang adil. Merujuk kepada berbagai referensi baik Al-Qur’an, hadits maupun kitab para Ulama, Ustadz Ahsan menjelaskan bahwa karakteristik pemimpin yang adil ada 5 yaitu pemimpin yang tidak menipu rakyatnya, pemimpin yang mampu menerapkan hukum Allah, pemimpin yang memiliki kapabilitas sebagai seorang pemimpin, bukan orang bodoh yang mudah diperdaya oleh pihak asing maupun pihak yang berpotensi mengancam negara dan terakhir bukan pemimpin yang sesat lagi menyesatkan.

Pemateri juga menekankan betapa beratnya menjadi seorang pemimpin terlebih pemimpin suatu negara sehingga selain akan merugikan rakyat, kesalahan dalam memilih pemimpin juga merupakan satu dosa yang akan ditanggung seluruh rakyat.

Dalam hal ini persoalan kepemimpinan bukan sekedar persoalan personal pemimpinnya, namun perlu diperhatikan pula apakah seorang pemimpin mampu berlaku adil atau tidak, yang dimaksud adil disini adalah pemimpin yang ta’at dan tunduk terhadap hukum–hukum Allah. _“Jika orang–orang yang berjudi, berzina, mabuk–mabukan dan mencuri oleh Allah disebut sebagai orang–orang fasik, lalu sebutan apa yang pantas untuk seorang pemimpin yang melegalkan perjudian, perzinahan dan pelegalan miras?, tentu lebih dari sekedar fasik”_ papar ustadz Ahsan mewanti-wanti kepada seluruh peserta.

Di penghujung acara Ustadz Ikhwan selaku pembawa acara juga menyeru _“jangan sampai tahun ini rakyat Indoensia memilih pemimpin pembohong yang mengingkari janji-janjinya, mudah–mudahan kelak Indonesia dipimpin oleh orang–orang yang adil yang mampu menerapkan hukum–hukum Allah”.

Usai ceramah dilanjut dengan pembacaan doa oleh Ustadz Ilyas dan diakhiri dengan berphoto bersama seluruh peserta Majelis Taqarrub Ilallah [gus].

About Shautul Ulama

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *