Majelis Taklim (MT) Kitab Bulughul Maram, Tulungagung, Haram Memilih Pemimpin Dzalim!

0
370

Tulungagung, (shautululama) -Berbeda dari biasanya, Majelis Taklim (MT) Kitab Bulughul Maram, Tulungagung, membahas tema khusus, “Haram Memilih Pemimpin Zalim”, Kamis malam (21/2/2019). Puluhan jamaah mengikuti kajian yang digelar rutin mingguan ini.

Sebelum membahas tema khusus itu, para jamaah melantunkan dzikir Ratibul Haddad. Ustadz Abu Inas dari Tabayyun Centre, didaulat sebagai pembicara dalam kajian ini, didampingi dua pembina MT ini, Ustadz Abdul Madjid dan Ustadz Wahyu Widodo.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Mengawali pembahasannya, Abu Inas, menjelaskan dalam sejarah Islam ulama menjadi garda terdepan dalam membela kebenaran. Ulama adalah manusia yang paling bisa dan berani mengingatkan pemimpin. Mereka tak takut dan lemah dengan ancaman juga siksaan saat menyuarakan kebenaran, utamanya amanah yang mesti ditunaikan pemimpin (pemerintah) namun dikhianati. Pemimpin lalai terhadap amanah yang dibebankan padanya.

Namun begitu, menurut Abu Inas, ada saja ulama yang terjerat dan tergelincir dalam godaan kekuasaan yang merusak marwahnya. Kerusakan ulama itu karena harta dan jabatan. Ia menambahkan, jika ulama rusak maka umara juga rusak.

Imam Ali kw., menurut Ibnu Jarir, pernah mengatakan wajib hukumnya bagi seorang pemimpin untuk memberlakukan hukum sesuai dengan yang diturunkan Allah Swt. Inilah amanah yang banyak diingkari oleh pemimpin Muslim hari ini.

Pemimpin dengan amanah kekuasaan dipundaknya sudah semestinya menerapkan apa yg diturunkan Allah. Jika ingkar, maka tak ada kewajiban bagi rakyat untuk mematuhinya.

Mengutip perkataan Imam Al-Mawardi, Abu Inas menambahkan tugas utama pemimpin, yaitu menerapkan hukum Allah sebagai bentuk penjagaannya terhadap agama. Sebab jika ia menerapkan selain itu, pasti akan berujung pada ketidakadilan. Tak ada pilihan bagi pemimpin kecuali menerapkan hukum Allah.

Diakhir tausiah, Abu Inas menegaskan pemimpin dikatakan adil jika ia memberlakukan hukum Allah. Karena untuk tujuan itu ia diangkat sebagai pemimpin oleh kaum Muslim. Itu adalah amanah. Jika ia mengkhianati amanah itu, maka ia adalah pemimpin zalim.

“Jadi, haram memilih pemimpin zalim!” tegas Abu Inas.

Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal: 27)

Pukul 22.00 kajian ini pun diakhiri dan ditutup dengan doa. Lalu, dilanjutkan berfoto bersama antara pembicara dan jamaah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here