Majelis Al Mulk: Teladani Rasulullah Saw, Jangan Meneladani Setan!

Ngawi, (shautululama) – Rabu malam, 21 November 2018, Majelis Al Mulk Geneng, Ngawi memperingati Maulid Nabi Saw. Kali ini selain pengasuh rutin, Gus Hawi, majelis juga mengundang pembicara dari Kecamatan Paron, Romo Kyai Misno. Majelis dimulai ba’da shalat Isya.

Seperti biasa, acara ini diawali dengan membaca Al Qur’an Surat Al Mulk yang dipimpin oleh Al Ustadz Budiyanto.

Romo Kyai Misno, mengawali taushiyahnya dengan mengutip hadist ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Beliau menyampaikannya dalam Bahasa Jawa, bahwa Khilafah pasti akan terwujud. Hal ini dapat dipahami dari penggunaan fiil mudlori’ pada hadits tersebut.

Tanpa adanya negara khilafah maka ilmu yang dipelajari dari kitab-kitab di pondok pesantren hanya akan menjadi pengetahuan tanpa bisa dilaksanakan. Contoh dalam hal ini, dalam kitab Fathul Qorib, ada bab yang membahas hukum riddah. Kitab ini jelas menyebutkan seseorang yang murtad dan tidak mau bertaubat wajib dipancung oleh imam/pemimpin. Tentu yang dimaksud bukan pimpinan jamaah pengajian.

Selanjutnya beliau menyampaikan pendapat para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang persamaan makna antara kata “Imam”, “Amirul mukminin”, serta “Khalifah”. Sedangkan sistem pemerintahannya disebut Khilafah.

Tausiyah berikutnya, Gus Hawi. Kepada para jamaah beliau berpesan agar jangan sekali-kali kita mangambil teladan dari setan, meskipun mereka mempunyai sifat yang gigih. Kegigihan setan itu hanya untuk menjerumuskan manusia. Maka kita mencari teladan yang terbaik (uswah hasanah). Teladan terbaik itu ada pada diri Rasulullah Muhammad Saw.

Dengan belajar dan memahami perjalanan hidup Rassulullah SAW, maka kita akan mengetahui besarnya kecintaan beliau SAW kepada kita umatnya. Wajib bagi kita untuk membalas kecintaan itu tanpa syarat. Hal itu bisa kita wujudkan dengan selalu bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Selain itu, bentuk kecintaan haruslah kita wujudkan dengan meneladani seluruh ajaran yang telah disampaikan, mulai dari bagaimana beliau menjadi kepala keluarga sampai sebagai kepala negara. Tidaklah elok menyatakan kecintaan kepada Rasulullah SAW kalau dalam menjalan ekonomi kita meneladani Adam Smith, tidaklah pantas mengatur Umat kita meneladani Aristoteles.

Di hadapan puluhan jamaah, Gus Hawi memberitahukan bahwa bendera Tauhid, pasca pertemuan mediasi lintas ormas Islam dengan Menkopolhukam di Jakarta tidak dilarang. Janganlah kita takut untuk mengibarkannya.

Majelis ditutup dengan pembacaan shalawat nabi oleh ustad Abu Karimah. (hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *