LIQO SYAWAL 1440 H MAJELIS CINTA QUR’AN BOJONEGORO, “NEGERI KITA TERCINTA JAUH DARI KATA BERDAULAT”

Bojonegoro, Jatim (shautululama) – Lebih dari 200 Jamaah Majelis Cinta Qur’an Bojonegoro dari berbagai daerah di Kabupaten Bojonegoro berkumpul dalam Liqo Syawal Majelis Cinta Qur’an Bojonegoro dengan tema “Rajut Ukhuwah, Tegakkan Syariah dan Tolak Proyek OBOR”.

Hadir pada acara ini diantaranya KH. Suparno Efendy Hamdani (Ketua Forum Tokoh Masyarakat Peduli Ummat Bojonegoro), Kyai Hadi Sucipto (Tokoh Masyarakat Banjarrejo), Ustadz Lutfi A.E. Yulianto (Pengasuh Majelis Cinta Qur’an Bojonegoro), Ustadz Rahmat Maulana (Alumni Pondok Pesantren At-Tanwir, Talun, Bojonegoro), Ustadz Wahyu Kurniawan (Alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo), Ustadz Didik Abdurrahman (Takmir Masjid Pacul, Bojonegoro), Ustadz Parto (Tokoh Muhammadiyah Soko), Ustadz Zaenal Abidin (Madrasah Politik Ummat Bojonegoro), Ustadz Imam Abdul Azis (Dai Baureno), Ustadz Sugeng Waras (aktivis dan pengusaha).

Acara ini dimaksudkan untuk menyadarkan Umat Islam yang saat ini mengalami keterpurukan di berbagai bidang kehidupan, baik bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, agar Umat Islam kembali menjadikan Al-Qur’an dan Assunah sebagai pedoman hidup.

Acara Liqo Syawal 1440H ini dibuka oleh Ustadz Rahmat Ridho Rillahi, beliau menjelaskan latar belakang acara liqa syawal. Berkumpulnya para Ulama, Ustadz, dan tokoh masyarakat, sebagai ikhtiar mencari solusi berbagai persolan yang mendera Umat Islam khususnya di Indonesia.

Di bidang ekonomi misalnya, saat ini Indonesia terjebak pada perjanjian dengan China melalui proyek One Bealt One Road (OBOR), atau dikenal juga dengan nama Belt Road Initiative (BRI), yang merupakan ambisi China untuk menguasai Indonesia, bahkan termasuk negeri-negeri muslim lain.

Pada acara inti, Ustadz Imam Abdul Azis selaku pembicara utama menyampaikan pandangannya. Di awal pertemuan beliau menjelaskan 5 fase atau jaman yang akan dilalui umat Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang digambarkan dalam HR.Ahmad dan Al-Bazar yaitu jaman Kenabian, jaman Khilafah Manhaj Kenabian, jaman Mulkan Adhon, jaman Mulkan Jabriyan dan jaman Khilafah Manhaj Kenabian.

Beliau menegaskan bahwa saat ini Umat Islam masuk di era Mulkan Jabriyan (Penguasa Diktaktor), sehingga kita mendapati di berbagai belahan dunia Umat Islam mengalami penderitaan dan keterpurukan yang luar biasa.

Era Mulkan Jabriyan (Penguasa Diktaktor) memiliki ciri yang sangat jelas diantaranya, saat ini rezim anti ulama dan Islam, mengunakan politik belah bambu untuk memecah belah antar satu elemen umat Islam satu dengan yang lain, bahkan mereka khianat terhadap umat Islam.

Beliau juga mengingatkan bahwa saat ini Indonesia juga dalam cengkeraman proyek OBOR China, Indonesia sudah masuk dalam jebakan hutang (debt trap) dari China. Hasil pertemuan BRI / OBOR Beijing pada tanggal 25 – 28 April 2019 kemarin sebanyak 23 proyek ditanda tangani dengan nilai bisnis mencapai Rp 1.296 triliun telah disepakati antara pemerintah RI dengan China.

Bahkan di Indonesia, sudah ada 13 proyek OBOR tersebar di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Diantaranya, proyek Kuala Tanjung International Hub Port, Kuala Tanjung Industrial Estate, Sei Mangkei Special Economic Zone, New Kuala Namu Aerocity di Sumatera, proyek Hydropower, Aluminium and Steel Alloy Smelter, Pindada International Port, Inalum Port di Klimantan Utara, Lembeh International Airport, Likupang Tourist Estate, Bitung Industrial Estate, dan proyek Bali Mandara Toll Road dan Kura-kura Island Tech Park di Bali.

Proyek OBOR ini merupakan bukti kemaksiatan yang dilakukan pemimpin negeri, yaitu membuka jalan untuk mereka menguasai ummat Islam, berbagai proyek China sama sekali tidak menguntungkan masyarakat Indonesia, melainkan hanya untuk kepentingan mereka kembali.

Di akhir pertemuan Ustadz Lutfi Antok Yulianto selaku Pengasuh Majelis Cinta Qur’an Bojonegoro mengingatkan bahwa berbagai ujian yang dihadapi Para Pengemban dakwah saat ini, merupakan tahap seleksi para pejuang Islam.

Oleh karena itu para pengemban dakwah harus mengasah keberanian dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar, menguji kesabaran dalam menghadapi gelombang kehidupan, dan menakar keikhlasan dalam mengemban dakwah. Semua itu bisa dijalankan dengan sempurna manakala pondasi Iman dan Istiqomah dengan Jalan Syariat Islam, dan InsyaAllah itu menjadi syarat turunnya pertolongan Allah SWT.

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan terakhir acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustadz Lutfi A.E Yulianto.

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *