Laporan Pandangan Mata IKCKL 2017 Malaysia: Demokrasi Sistem Gagal, Khilafah Solusi Tunggal

Kuala Lumpur, (shautululama.com). Alhamdulillah, penulis berkesempatan hadir dalam lawatan dan hajatan akbar gelaran Hizbut Tahrir Malaysia berupa International Khilafah Conference di Kuala Lumpur (IKCKL) pada Sabtu 9 Desember 2017.

Tak kurang dari 15 orang delegasi dari Jawa Timur hadir dalam pertemuan akbar internasional tersebut. Tak hanya dari Indonesia, peserta dari negara lain: Singapura, Turki, Australia, Amerika juga hadir dalam Internasional Khilafah Conference tersebut.

Penulis bersama 12 orang delegasi dari Surabaya berangkat lebih dulu, disusul delegasi berikutnya dari Malang dan kota lain. Kehadiran delegasi dari Jawa Timur ini untuk memberikan dukungan dan khidmat pada Islam, khususnya agenda dakwah super penting ini. Selain itu, juga untuk memberikan edukasi kepada ummat bahwa persoalan Khilafah adalah persoalan penting, khilafah ajaran Islam yang harus diperjuangkan. Terlebih di tengah derasnya serangan media negara-negara asing, bersama anteknya yang melakukan kriminalisasi pada ajaran Islam ini beserta para pengembannya.

Delegasi dari Jatim, atas izin Allah Swt berkesempatan menjalin silah ukhuwah dengan saudara dari Jakarta, Padang, Denpasar, luar negeri dan tentu saja peserta dari seluruh wilayah Malaysia.

Hotel Le Quedri Taman Connaught Cheras Kuala Lumpur menjadi saksi perhelatan akbar ini. Tak kurang dari 2000 kursi yang disediakan panitia di hall tersebut penuh terisi peserta, dari terdiri dari tuan dan puan (Ikhwan/akhwat). Nampak pula, mubaligah Ustadzah Irene Handono bersama rombongannya dari Jakarta juga hadir dalam acara ini.

Ada pemandangan yang menarik saat peserta keluar dari lift lantai 11, mereka langsung disambut 12 delegasi dari Jawa Timur dengan kaos yang dikenankan bertuliskan KHILAFAH YES!. Delegasi Jatim ini sengaja menyiapkan konstum khusus untuk mengikuti perhelatan akbar ini, dan panitia memberikan kehormatan untuk menempati deretan kursi terdepan.

Menurut panitia, acara awalnya akan diselenggarakan di Hotel de Palma Ampang Point. Namun, beberapa hari sebelum acara dilaksanakan, panitia mendapatkan tekanan dari pihak otoritas intel kepolisian setempat untuk membatalkan acara.

Panitia tidak menyerah begitu saja, justru ini menjadi tantangan bagi mereka untuk bisa menggelar International Khilafah Conference di Kuala Lumpur (IKCKL). Alhamdulillah atas ijin Allah Swt, Hotel Le Quedri Taman Connaught Cheras Kuala Lumpur, yang lebih megah dan lebih besar bersedia ditempati acara ini. Peserta yang hadir pun membludak jumlahnya di luar perkiraan panitia.

Penulis merasakan atmosfir ukhuwah dan dakwah merindukan kembali hadirnya institusi payung hukum syariah Islam –Khilafah- begitu kuat. Terlihat dari antusias peserta yang hadir dan saat sesi tanya jawab.

Perwakilan dari Komunitas Peduli Rohingya menanyakan, apa tindak lanjut nyata dari konferensi ini? Juru Cakap (Jubir) HT Malaysia Ust. Abdul Hakim Othman menjelaskan bahwa konferensi memang bukanlah jalan untuk menegakkan khilafah. Namun merupakan sarana penting untuk penyadaran dan edukasi umat sehingga memunculkan sikap untuk mengambil langkah bersama berjuang menegakkannya. Hizbut Tahrir telah memiliki roadmap yang jelas dan melakukan aktifitas politik untuk menuju ke arah sana.

Seorang peserta dari Padang, Ust Ardi Muluk, mempertanyakan bagaimana bisa ada, mulai dari yang awam hingga elit penguasa muslim menolak bahkan menyerang ide khilafah? Jika yang melakukan orang kafir, itu normal dan bisa dipahami, namun ini muslim tentu itu tidak normal.

Syaikh Isham Ameera, ulama dari Masjidil Aqsha Palestina, memberikan penjelasan atas pertanyaan ini, “Sesungguhnya sistem pemerintahan lah yang menjadi musibah terbesar yang menimpa kita”.

Sungguh konferensi ini menjadi gelaran acara yang sangat penting untuk disimak dan disuarakan bersama agar diketahui masyarakat dunia. Karena kondisi nyata dunia saat ini membutuhkan solusi atas berbagai persoalan yang tak kunjung usai. Sistem demokrasi kapitalis terbukti korup dan membahayakan tatanan peradaban manusia di dunia.

Konferensi ini berlangsung setengah hari, dibuka pukul 09.00 hingga berakhir pukul 13.00 waktu setempat. Secara bergiliran, masing-masing pembicara menyampaikan materinya.

Pembicara dari HT Malaysia menyampaikan materi “Hakikat Demokrasi dalam Pandangan Hizbut Tahrir & Islam”. Dilanjutkan dengan materi “Kegagalan Demokrasi Secara Global” oleh Mahmut Kar (Turki) dengan berbahasa Turki. Berikutnya, “Demokrasi Senjata Barat Menghancurkan Islam” oleh Wassim Doureihi (Australia) dan terakhir, paparan Brother Haitham (Amerika Serikat).

Saat rehat dilakukan press conference antara pembicara bersama awak media selama 30 menit. Melalui layar LED ukuran ekstra besar (sekitar 15m X 3m) diputar film dokumenter mengenal Hizbut Tahrir.

Saat rehat dimanfaatkan delegasi dari Surabaya, yang mengenakan kaos orange dengan tulisan 1 huruf per orang, maju berjajar membentuk formasi tulisan KHILAFAH YES ! Aksi ini pun diabadikan oleh panitia.

Setelah rehat, forum dilanjutkan dengan Pemateri Syaikh Issam Amira, Imam Masjidil Aqsha Palestina dengan tema “Khilafah adalah Solusi.” Lalu dilanjutkan dengan materi “Thariqah Hizbut Tahrir Menegakkan Khilafah” oleh Ust Abd Hakim Othman (Malaysia). Pemateri terakhir, Dr. Osman Bakhach (CMO HT pusat), yang memaparkan materi “Bagaimana Hizbut Tahrir Bersedia untuk Khilafah”

Saat Syaikh Issam Amira dan Dr. Osman Bakhach, menyinggung pernyataan Donald Trump, atas tanah Al Quds Palestina, ini merupakan tantangan terbuka kepada seluruh umat Islam di dunia. Khususnya para pemimpin negara dunia Islam, tantangan yang harus dijawab secara nyata sebagai bentuk pembelaan pada Islam. Bukan sekedar retorika dalam konferensi dan perundingan yang tidak masuk akal antar sesama mereka.

Umat Islam harus menjawabnya dengan tegas dan bersungguh-sungguh berjuang bersama menegakkan khilafah yang akan membebaskan tanah Palestina yang diberkahi. Dengan menggirimkan pasukan militer yang ikhlas dan taat pada syariat.

Syaikh Issam juga menyampaikan pertanyaan retoris, “Manakah yang akan menang dalam pergulatan, pernyataan Trump kafir ataukah pernyataan Rasulullah Saw atas tanah Palestina?
Sungguh pertemuan yang Insya Allah Mubarak.

Setelah pembacaan do’a, hadirin dikejutkan dengan acara penutupan berupa tayangan nasyid bil khilafah. MC menyeru hadirin untuk bersama-sama mengibarkan Royah Liwa’ yang menjadi bagian dari suvenir conference kits.
Sejalan kemudian, MC menarasikan hadirnya Royah Liwa’ raksasa legendaris yang langsung dikirim dari Indonesia. Royah dan Liwa yang telah dibentangkan dan diperjalankan jutaan muslim saat aksi 212 di Monas yang lalu. Satu Royah dan Liwa lagi, telah diperjalankan dari berbagai gunung dan lembah di pulau Jawa.

Dengan penuh gegap gempita semua peserta pun menyambut, memperjalankan 2 bendera Islam tersebut di dalam ruangan konferensi.

Sungguh menakjubkan dan membuat ruangan bergetar bergemuruh luar biasa. Insya Allah Khilafah akan tegak sebentar lagi. Khilafah janji Allah Swt dan Rasul-Nya akan menjadi solusi tunggal atas berbegai bencana dan kedzaliman yang terjadi di dunia akibat sistem demokrasi.
Kuala Lumpur, 9 Desember 2017
(faz)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *