Kyai Ihsan Machmudi, Ingin Berkah Terapkan Syariah Kaffah

Lumajang, Jatim (shautululama) – Musibah yang dialami oleh umat ini, seharusnya bisa menjadi cambuk untuk bisa kembali ke jalan yang benar, bertaubat dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta Alam Semesta, taat pada syariat yang diturunkan kepada Baginda Rosululloh Muhammad SAW. Demikian penjelasan Kyai Ihsan Machmudi (Tokoh Masyarakat Kabupaten Lumajang ) dalam acara Multaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda. Dengan tajuk “Peran Strategis Ulama Cinta Negeri, Selamatkan Umat Dari Bencana Melanda Negeri, Waspada Adu Domba Umat, Tolak Kedzaliman, Terapkan Islam Kaffah”, ( Selasa, 9 Februari 2021) yang disiarkan secara Live streaming di Channel Youtube Bromo Bermartabat.

Kyai Ihsan mengawali tausiyahnya dengan menyampaikan berbagai fakta dan kejadian bencana yang terjadi seperti “Musibah banjir yang sering terjadi ketika musim hujan tiba, dimana banjir telah menyusahkan banyak korban, merepotkan banyak petugas, menghancurkan banyak infrastruktur, dan banyak kerugian yang ditimbulkan” Ujar kyai Ihsan.

Kerugian akibat banjir memang besar, tetapi ada akibat buruk yang yang lebih besar dari musibah banjir, yaitu banjir musibah yang menimpa kita semuanya. Hal inilah yang harus menjadi keprihatinan kita bersama.

Beliau kemudian melanjutkan bahwa “Banjir musibah yaitu musibah yang beragam dan datang secara beruntun, silih berganti, bisa jadi berupa musibah bencana alam, seperti tanah longsor, erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, dan lain lain. Selain bencana alam, kita juga sering ditimpa musibah teknis, seperti jatuhnya pesawat, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kereta, kapal laut, termasuk pandemi covid 19 yang sampai saat ini belum mereda juga. Selain bencana alam, bencana teknis, kita juga mengalami bencana politik, seperti kasus korupsi, korupsi Bansos covid, korupsi jiwasraya, dan lain lain”.

Selama ini kalau kita perhatikan kata beliau, “Upaya pencegahan yang telah dilakukan, dengan menangkap pelakunya kemudian dihukum, dibentuknya KPK, dilakukan kampanye masif anti korupsi, akan tetapi usaha ini tidak mampu mengurangi korupsi di negeri ini, korupsi sepertinya dianggap bukan musibah besar, tetapi hanya dianggap sebagai hal yang lumrah dan sudah membudaya. Padahal sejatinya korupsi ini adalah musibah besar yang telah memporak porandakan tatanan berbangsa dan bernegara”

Beliau Menambahkan “Selain korupsi, musibah politik lain adalah adanya ketimpangan ekonomi, jurang pemisah kaya dan miskin, minusnya pertumbuhan ekonomi nasional, kriminalisasi ulama, kedholiman dalam bentuk kebijakan berupa undang undang, seperti UU Minerba, Omnibus low, RUU BPIP, inilah musibah politik yang kita alami saat ini.

“Musibah yang dialami oleh umat ini seharusnya bisa menjadi cambuk untuk bisa kembali ke jalan yang benar, bertaubat dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta Alam Semesta, taat pada syariat yang diturunkan pada Baginda Rosululloh Muhammad Saw.” tegas Beliau.

Sebagai contoh, “Ketika terjadi musibah gempa pada masa Kholifah Umar Bin Khottob r.a. penguasa pada waktu itu menyerukan kepada rakyat untuk bertaubat dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat”

Maka Menurut beliau, “Musibah yang terjadi seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi rakyat dan penguasa untuk melihat, menengok, mempelajari dan pada akhirnya mendakwahkan serta menerapkan petunjuk dari Sang Pencipta Manusia, yang berupa syariat yang di bawa oleh Baginda Rasululloh saw. Jika saja hal ini dilakukan, maka Allah SWT. akan memenuhi janjinya untuk menurunkan Barokah dari langit dan memunculkannya dari dalam bumi. Sehingga negeri ini menjadi negeri yang “Baldatun Thoyyibatun wa robbun ghofur”.

Mengakhiri pernyataannya, beliau menyampaikan “Ingin berkah maka terapkan syariah Kaffah”.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …