Koreksi Singkat Atas Kesalahan Penggunaan Fatwa Berbilangnya Imam (Khalifah) dalam Satu Masa

Catatan Irfan Abu Naveed al-Atsari
(Penulis Buku “Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Qur’aniyyah & Hadits-Hadits Nabawiyyah”)

Menyoal ramainya diskusi soal hukum berbilangnya Imam/Khalifah dalam satu masa, dimana ada segolongan kecil ulama terdahulu yang memperbolehkan berbilangnya tersebut dalam satu masa, dalam konteks meluasnya wilayah kaum Muslim, dalam jarak yang berjauhan. Ironisnya fatwa ini dibawa oleh sebagian orang zaman sekarang untuk menjustifikasi konsep nation states.

Tanggapan al-faqir:

Pertama, Konteks pembicaraan para ulama terdahulu ini dalam turats mereka dalam topik al-Imamah al-‘Uzhma/al-Khilafah yang menjadikan kedaulatan di tangan Al-Syari’, al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai landasan, bukan konsep nation states yang tersekat-sekat oleh sekat semu.

Kedua, Coba buka kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah dan Adab al-Dunya wa al-Din (dengan penjelasan lebih lengkap terkait permasalahan ini) karya ulama mu’tabar: Imam al-Mawardi al-Syafi’i (w. 450 H) yang merajihkan wajibnya satu imam/khalifah dalam satu masa, sama saja meluas atau tidak berdasarkan kejelasan dalil al-sunnah, dan menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama).
Bahkan Imam al-Mawardi dalam Adab al-Din wa al-Dunya menegaskannya sebagai ijma’ (konsensus umum ulama) dalam konteks satu wilayah:

فَأَمَّا إقَامَةُ إمَامَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، وَبَلَدٍ وَاحِدٍ فَلاَ يَجُوزُ إجْمَاعًا

“Adapun mengangkat dua orang penguasa atau tiga orang (atau lebih) dalam satu masa dan satu negeri maka tidak diperbolehkan secara ijma’.” (Abu al-Hasan al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Din, Dar Maktabat al-Hayah, 1986, hlm. 136)

Dimana dahulu meluasnya wilayah tersebut dianggap oleh sebagian kecil ulama sebagai masyaqqah (faktor kesulitan yang nyata), yang dijadikan alasan kebolehan berbilangnya khalifah dalam satu masa, demi kemaslahatan kaum Muslim, hal ini sebagaimana pesan yang tersirat dalam penjelasan Imam al-Mawardi yang lalu mengoreksi pendapat kelompok yang disebutnya syadz tersebut (طَائِفَةٌ شَاذَّةٌ), dengan catatan dalam jarak yang berjauhan, bukan tetanggaan seperti Indonesia dan Malaysia.

Mereka yang mengerti ilmu ushul fiqh dan konsisten dengan ilmunya, tak sulit menentukan pendapat mana yang lebih rajih dan mana yang marjuh di antara dua pendapat ini. Lebih jauh lagi, tidak dibawa kepada pembahasan konsep Nation States yang ushul pembahasannya berbeda dengan pembahasan al-Khilafah. Jadi darimana korelasinya dibawa ke ranah konsep Nation States?!

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Ijtima’ Ulama dan Masyarakat Gresik: Khilafah Pasti Tegak, Ingatlah Terorisme Itu Agenda Penjajah dan Anteknya

Ijtima’ Ulama dan Masyarakat Gresik: Khilafah Pasti Tegak, Ingatlah Terorisme Itu Agenda Penjajah dan Anteknya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *