Khilafah yang Dirindukan, Siap Memimpin Dunia

Jakarta, (shautululama) – 3 Maret 1924, institusi pelindung dan pelayan umat Islam itu runtuh, Khilafah Islam Turki Utsmaniyah. Sejak saat itu hingga saat ini kaum muslimin hidup terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa di dunia, dimana setiap negara dipimpin oleh seorang kepala negara, dengan sebutan presiden atau raja.

Sejak saat itu pula masing-masing kepala negara mengatur urusan mereka dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara dengan aturan selain Islam. Sebagian besar penguasa negeri muslim menerapkan aturan kapitalisme demokrasi sekuler untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan dan melayani rakyatnya.

Namun faktanya, rakyat hanya dijadikan komoditas bagi para polisi untuk meraih kekuasaan. Rakyat hanya dimanfaatkan suaranya saat pemilihan kepala negara atau daerah digelar. Setelah itu rakyat dicampakkan, para pemimpin terpilih disibukkan untuk melayani kepentingan bisnis para cukong, para pemilik modal, yang telah membiayai mereka berkuasa. Akibatnya semua kebijakan dan keputusan hukum harus berpihak kepada kepentingan para pengusaha, oligarki.

Terbukti sistem demokrasi yang berbiaya mahal, telah menghasilkan pemimpin yang dholim terhadap rakyat yang memilihnya, melalui undang-undang dan kebijakan yang dihasilkan.

Sebagian pemimpin negeri Islam lainnya, mengadopsi sistem komunisme sosialisme, untuk mengelola negaranya. Hasilnya setali tiga uang, alias tidak ada bedanya dengan kapitalisme. Kesejahteraan dan keamanan menjadi barang mahal bagi umat Islam.

Selama masa Khilafah Islam berjaya tidak pernah mereka mengalami hal yang demikian. Khalifah sepanjang sejarahnya lebih dari 13 abad telah menggelola negara dan melayani rakyatnya dengan syariat Islam, hingga mereka hidup aman dan sejahtera meski beragam keyakinan, budaya dan ras.

Setelah 100 tahun institusi Khilafah sirna dari muka bumi ini. Selama itu pula umat Islam kehilangan tempat berlindungnya. Barat dan antek-anteknya kian hari kian menampakkan kezaliman dan permusuhannya terhadap kaum muslimin.

Pengusiran, penindasan, pembantaian juga diskriminasi dialami oleh kaum muslimin, para ulama yang berusaha membiming umatnya untuk hidup secara islami, dan ini terjadi di seluruh penjuru dunia.

Kini, kesadaran atas kebangkitan kaum muslimin kian pesat meningkat. Mereka sadar bahwa hanya hidup yang diatur dengan syariah di bawah naungan khilafah mereka akan aman sentosa dan sejahtera.

Semakin banyak umat yang merindukan kebangkitan Khilafah. Para ulama dengan ilmunya, sebagai pewaris nabi harus berada di garda terdepan memimpin umat menuju kebangkitan yang sesungguhnya.

Komunitas Literasi Islam menggelar peringatan 100 tahun runtuhnya khilafah secara online dan disaksikan lebih dari 50 ribu penonton di seluruh Indonesia.

Tampil sebagai nara sumber dalam kegiatan online kolosal ini antara lain:
1. KH. Muhammad Ismail Yusanto, Cendikiawan Muslim, Ulama Aswaja Jakarta
2. KH. Rachmat S Labib, Ulama Aswaja Jakarta
3. Ustad Farid Wajdi, Pengamat Politik Internasional

Mari bergabung bersama ulama Aswaja, berdakwah membina umat menyosong tegaknya Khilafah ala minhajin nubuwwah yang telah dijanjikan Allah SWT dan kabarnya gembira Rasulullah Saw. Literasi Islam menggelar peringatan 100 tahun runtuhnya khilafah secara online dan disaksikan lebih dari 50 ribu penonton di seluruh Indonesia.

Tampil sebagai Nara sumber dalam kegiatan online kolosal ini antara lain:
1. KH. Muhammad Ismail Yusanto, Cendikiawan Muslim, Ulama Aswaja Jakarta
2. KH. Rachmat S Labib, Ulama Aswaja Jakarta
3. Ustad Farid Wajdi, Pengamat Politik Internasional

Mari bergabung bersama ulama Aswaja, berdakwah membina umat menyosong tegaknya Khilafah ala minhajin nubuwwah yang telah dijanjikan Allah SWT dan kabarnya gembira Rasulullah Saw.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Nasehat dan Pernyataan Sikap Ulama Pada Multaqa Ulama Aswaja Regional Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, Terapkan Islam Kaffah Sebagai Ganti Sistem Gagal Kapitalisme Demokrasi

Melayu, (shautululama) Dalam forum Multaqa Ulama Aswaja Akbar Rajab 1442H yang diselenggarakan di regional Sumatra, …