Khilafah Tegak Tanpa Pertumpahan Darah, Rasulullah Telah Mencontohkan

Jogjakarta (shautululama.com) – “Khilafah adalah Ajaran Islam. Ditegakan dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah, tanpa kekerasan”, itulah pernyataan tegas ulama, kyai, dan tokoh Jogjakarta. Ahad (25/3/2018), pendopo utama Pondok Pesantren Taruna Panatagama dipadati pegiat dakwah di Jogyakarta.

Meskipun Jogja tengah diguyur hujan deras, cuaca tidak menyurutkan semangat para peserta menghadiri forum Jalsah ‘Ammah dengan tema “Metode Dakwah Rasulullah dan Sejarah Islam di Nusantara” ini.

Jalsah ‘ammah ini merupakan forum pencerdasan umat. Terlebih umat Islam dan para ulamanya menginginkan perubahan Indonesia yang lebih baik, dengan mengajukan Islam sebagai solusi.

“Rasulullah SAW mendirikan negara di Madinah dengan dakwah tanpa pemberontakan dan sedikit pun pertumpahan darah. Negara yang dipimpin oleh Rasulullah SAW kemudian menerapkan seluruh syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT”, papar Ustadz Junaidi at-Thayyibiy dari Jakarta.

Pertemuan Ulama dan Tokoh ini juga memaparkan keterkaitan antara kerajaan-kerajaan di nusantara, terutama Demak dan Mataram, dengan kekhilafahan Turki Utsmaniyah.

“Dakwah dan perubahan ke arah Islam pastinya wajib mengikuti metode Rasulullah. Oleh karena itu, semestinya berlangsung damai tanpa kekerasan. Perubahan bisa terjadi karena kekuasaan pada dasarnya ditopang oleh umat. Maka ketika umat mengalihkan kepercayaannya dari sistem sekuler demokrasi yang rusak, dan beralih kepada Islam, melalui para ulama dan para pengemban dakwah, maka saat itulah akan terjadi perubahan secara damai, sehingga tak terjadi pemberontakan apalagi peperangan”, papar Gus Jun.

Pernyataan Gus Jun ini, diaminkan oleh ustadz Edi Subroto.
“Pemimpin umat yang sebenarnya adalah mereka yang berkhidmat pada umat, bukan pemimpin yang sekedar formalitas dipilih melalui mekanisme demokrasi tetapi kenyataannya berkhidmat kepada pemilik modal, dan bukan kepada rakyat”, terang ustad Edi.

Sementara Ustadz HM. Rosyid Supriyadi menyatakan bahwa Islam harusnya memang disampaikan apa adanya. Ketika dituding keras dan radikal, itu hanyalah persepsi obyek dakwah yang belum terbiasa karena memang sudah saking lamanya bergelimang kerusakan, kurangnya informasi tentang Islam, bahkan provokasi dari pihak pembenci Islam memperparah kondisi ini.

Ustad Rosyid mencontoh, kewajiban sholat pada masyarakat yang tidak pernah sholat, maka sekedar ajakan sholat pun akan dikatakan sebagai garis keras. Demikian juga ketika menyampaikan dakwah khilafah sering dituduh garis keras. Padahal sejatinya khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana halnya sholat,” tandasnya.

Dalam forum yang penuh keakraban ini, Abah Narko Abu Fikri, pengasuh Ponpes Nurul Qowiy Sleman menyampaikan keprihatinan sekaligus kritik, tentang pandangan miring terhadap negara Islam.

“Jika Islam dijadikan negara maka agama Islam akan menjadi sekepal tangan alias kerdil”.
Pernyataan ini tidak benar, tegas Abah Narko.

“Justru negara harus berfungsi mengemban Islam! Maka Islam akan menjadi besar dan mendunia, bukan malah menjadi sekepal tangan, sehingga Islam bisa terwujud secara nyata sebagai Rahmatan Lil Alamin.”. [hn]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *