Khilafah Islamiyyah adalah Kewajiban dan Janji Allah

Bogor, (shautululama) – Sabtu, 29 Februari bertempat di Majlis PPNY (Ponpes Nurul Yakin), Kalong Karees-Nanggung, Pimpinan Kyai Dudi mengadakan Daurah Rajab, dengan menghadirkan pemateri KH. Muhyiddin (Forum Aswaja Kab. Bogor). Dalam kata sambutannya, Kyai Dudi menjelaskan bahwa acara ini adalah sebagai bagian dari peringatan di Isra dan di mi’rajkan nya Nabi Muhammad Saw, sekaligus bagian dari syiar Islam, dan berharap Allah memberikan keberkahan dan maghfirah kepada kita semua, ungkapnya.

Kemudian, Al Mukarram KH. Muhyiddin diawal materinya mengangkat persoalan terkini yakni kasus Muslim India yang digunakan oleh orang Hindu dan penguasa kafir musyrik India. Jikalau kaum Muslim memiliki Amirul Mukminin atau Khilafah sebagaimana dulu ketika kaum Muslim hidup di bawah sistem Islam, maka yakinlah bahwa Khalifah akan menggumandangkan perang terhadap negara kafir India, karena pembelaannya terhadap Muslim India, tegas beliau.

Di dalam Al Qur’an surah Al Isra ayat:32 Allah telah mengatakan bahwa akan dijadikan Khalifah di muka bumi, yang ditafsirkan oleh para Mufassirin seperti Ali Ash-Shabuni ialah sebagai wakil Allah di muka bumi, untuk menerapkan hukum Allah yang diturunkankan melalui Utusan-Nya yakni Rasulullah Muhammad Saw, sebagai pembawa Rahmat bagi seluruh Alam.

Khilafah atau Amirul Mukminin atau juga terkadang disebut dengan Imam adalah kewajiban bagi kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah Saw, yang dimana kepemimpinan itu dalam rangka menjalankan pemerintahan untuk diterapkan oleh Khalifah menggantikan Rasulullah pasca wafatnya beliau.

Begitu pula, janji Allah dalam Al-Quran surat an-Nuur ayat 55, Allah telah berjanji bagi orang-orang beriman akan menjadikan kembali kekuasaan kepada orang beriman sebagaimana dulu ketika kaum Muslim berkuasa.

Di dalam hadits-hadits yang banyak diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dan lain sebagainya, bahwa kekuasan kaum Muslimin akan menguasai dari Masyriq sampai Maghrib. Dan ini adalah kabar gembira (basyirah) dari Rasullullah Saw. Walaupun secara fakta bahwa saat ini kaum Muslim terpecah belah sampai dengan 50 negeri Islam, yang tidak lagi dipimpin oleh seorang Khalifah.

Begitu pula di dalam kitab-kitab para Ulama, diantaranya Fathul Qarib, Fathin Mu’in, Kifayatul Akhyar semuanya jelas bahwa pembahasan Imamah dan Khilafah sepakat para Imam Madzhab tidak ada perselisihan, kecuali Al a’shom. Singkat Kyai Mumuh.

Ketika kaum muslimin hidup diatur oleh sistem Islam, yang langsung menjadi Kepala Negaranya Rasulullah Muhammad Saw, di dalam Sirrah Nabawiyah, bagaimana Rasul mengutus para delegasinya untuk mendakwahkan Islam dengan jihad dan futuhat, kepada para penguasa negara-negara kafir. Dan itu pun berlanjut kepada para Khalifah setelah Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali RadhiyaLlaahu anhum.

Di dalam Hadits Riwayat Ahmad, masa kepemimpinan itu ada 5, yang pertama adalah Masa Kenabian, yang langsung dipimpin Nabi Muhammad Saw. Setelah Rasulullah wafat, lalu diganti oleh Masa Khilafah ala Minhaji Nubuwwah, yakni Khulafaur Rasyidin. Yang setiap Ramadhan kita sering bacakan. Dan dilanjut masa ketiga dengan Pemimpin/Raja yang menggigit (Mulkan ‘Adhan). Dan dilanjut masa keempat dengan Pemimpin yang dzalim (Mulkan Jabriyyan) yang semua sistem Islam dibuang dan simbol simbol Islam ditinggalkan. Dan itu ketika negara-negara bangsa dideklarasikan, saat Kemal Attaturk menggantikan Khilafah Utsmaniyah di Turki. Dan masa kelima adalah masa penutup, akan kembali masa Ke Khilafahan ala Minhaji Nubuwwah yang tidak akan lama lagi dengan izin Allah di peirode saat ini. Dan setelah itu Rasulullah terdiam. Tegas Kyai Mumuh.

Dan ini semua adalah bisyarah Nubuwwah yang harus kita sambut, untuk itu maka para Ulama para Kyai serta para Asaatidz ini adalah kewajiban kita bersama, untuk kita perjuangkan agar kita termasuk orang-orang yang menjadi saksi dan terlibat dalam perjuangan mulia ini.

Acara diakhiri dengan pembacaan doa dan ramah tamah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …