Ketika Ulama Madura Bicara tentang Covid 19, Kriminalisasi Ulama dan Pejuang Islam, serta Sumbangsih terhadap Perjuangan Tegaknya Khilafah

Madura, Jatim (shautululama) (10/01/2021). “Pandemi Covid 19 merupakan ujian, khususnya bagi Umat Islam. Sedangkan bagi orang kafir (dari golongan ahlu kitab dan orang-orang musyrik), wabah ini bisa jadi merupakan azab dari Sang Khaliq, Allah SWT. Semoga dengan adanya pandemi covid 19 ini mampu menyadarkan penguasa di negeri-negeri Kaum Muslimin, khususnya penguasa di negeri ini, untuk tidak lagi mengkriminalisasi ulama dan aktivis Islam.

Sebab, itu merupakan bentuk makar untuk memadamkan cahaya Allah,” ujar KH Thoha Cholili, Pengasuh PP Al-Muntaha Bangkalan, dalam acara Mulaqa Ulama Aswaja Madura, pada Ahad, 10 Januari 2021.

Acara yang dilaksanakan secara online dan diikuti para ulama dan aktivis Islam dari berbagai wilayah di Madura tersebut mengambil tema Kiprah Ulama Cinta Negeri, Jaga Keutuhan Negeri, Tolak Pemimpin Dzalim Terapkan Islam kaffah.

Di tengah kehidupan serba sulit yang menimpa rakyat di negeri berpenduduk 269 juta jiwa dan lebih dari 80% adalah Muslim, sebagai dampak amburadulnya penanganan penyakit yang disebabkan virus dari Wuhan China, rezim masih saja terus melakukan intimidasi dan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam.

Padahal, ulama dan aktivis Islam berdakwah karena memang mencintai negeri ini dan tidak ingin negeri ini hancur. Sayang, penguasa justru menganggap ulama dan aktivis Islam yang kritis sebagai sumber problematika negeri ini. Kyai Thoha tentu menyayangkan hal ini.

Kata beliau, “Penguasa negeri ini mempertontonkan secara terang-terangan intimidasi mereka terhadap rakyat. Sebaliknya mereka menuduh Kaum Muslimin yang mencintai negeri ini sebagai kaum radikalis, fundamentalis, teroris dll. Mereka lempar batu sembunyi tangan. Lebih parahnya lagi, mereka melempar batu tapi tidak mau ngaku. Sebagian strategi mereka, mereka menggunakan saudara kita, sesama Kaum Muslimin, untuk memukul kita. Sedih sekali.”

Mengapa sejak merdeka secara fisik tahun 1945 hingga sekarang cita-cita dan tujuan berdirinya Indonesia makin jauh panggang dari api? Itu disebabkan karena sejak awal Islam dan syariat-Nya tidak digunakan untuk mengatur kehidupan, meski penduduknya mayoritas Muslim.

Justru penguasa negeri ini lebih memilih menggunakan hukum dan sistem warisan penjajah dan buatan manusia. “Hukum dan sistem buatan manusia, mereka buat dan mereka langgar sendiri. Hukum dan sistem seperti itu dipakai untuk mengintimidasi orang lain yang menjadi rakyatnya.

Nampak mereka tidak menyukai Kaum Muslimin dan berupaya mematikan nur Allah. Bukan hanya menginginkan agar Kaum Muslimin mengikuti Yahudi dan Nashrani, mereka yang dzalim juga berupaya sekuat tenaga agar Kaum Muslimin ikut kedzaliman mereka,” tambahnya.

Acara Multaqa Ulama Aswaja Madura yang diikuti puluhan ulama dan aktivis Islam dari berbagai wilayah di Pulau Madura dan sekitarnya tersebut juga dihadiri oleh KH Ali Fadlil, Pengasuh PP AT-Taufik Pamekasan.

Dalam kesempatan tersebut selain mengingatkan agar Kaum Muslimin berhati-hati dan cerdas dalam menjalani kehidupan sehingga bisa membedakan mana ulama akhirat yang harus diikuti dan mana ulama Su’ yang harus dijauhi.

Beliau juga mengajak dan memberikan resep agar masa keemasan Islam bisa kembali hadir di kehidupan kita sebagaimana pernah terjadi di masa Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin.

Kata Beliau, “Ulama adalah pewaris Nabi. Nabi Saw mewariskan ilmu dan syariah. Termasuk di dalamnya adalah syariat jihad, sebagai upaya mempertahankan dan memperluas cahaya Islam. Inilah tanggungjawab ulama untuk menjadi garda terdepan dalam berjuang dan berjihad demi Islam.”

“Ulama itu ada dua, yaitu: (1) Ulama akhirat, yakni ulama yang jiwa, raga, dan hartanya untuk mencari ridho Allah, (2) Ulama Su’, yakni ulama yang orientasinya adalah harta dan dunia. Mereka cenderung menjadi penjilat, pendukung kedzaliman, dan kejahatan. Yang pertama diganjar surga, yang kedua diganjar neraka,” dawuh Kyai.

Generasi terbaik yang pernah dilahirkan di kehidupan manusia di bumi adalah masa di mana Nabi Saw dan Sahabat hidup. Yakni abad 6/7 Masehi. Itulah masa keemasan Islam.

Oleh karena itu, wajar jika kemudian Kyai Ali mengajak agar kita kembali kepada syariat Islam secara kaffah dan mengcopas metode/thariqah yang diajarkan Nabi dan Shahabat untuk mewujudkannya. “Kapan era kegemilangan Islam? Jawabannya ada di masa Nabi saw dan Khulafaur rasyidin.

Oleh karena itu, jika kita ingin kembali meraih masa keemasan Islam, solusinya ya kembali ke sistem warisan Nabi, yakni Al Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah.

Bagaimana metodenya? Ya dengan mengcopas metode/thariqah dakwah Nabi Saw dan Shahabat,” ujar beliau.

Hal ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Imam Ahmad bin Hambal. Sang Imam menyampaikan bahwa, “Umat ini tidak akan pernah baik kecuali ia diperbaiki sebagaimana mulanya (yakni di masa Nabi dan Shahabat).”

Kaum Muslimin diharapkan menggunakan kemampuan yang dimiliki masing-masing untuk memprjuangkan Islam. Menyumbang ‘pasir’ untuk membangun peradaban gemilang masa depan dalam bingkai Khilafah sebagaimana janji Allah dan bisyarah Rasulullah. Sekecil apapun peran dan amal yang bisa kita lakukan.

Oleh karena itu, Kyai Ali juga berpesan agar Kaum Muslimin, terutama ulama, untuk berani menggunakan keulamaannya demi memperjuangkan Islam. Hidup dan mati untuk Islam. “Hidup ini kalau sudah terbingkai ridho Allah maka itulah kesuksesan dan kemuliaan. Siapa yang ikut Allah dan utusan-Nya maka dialah yang menang dengan kemenangan yang besar.

Ulama akhirat itu pewaris Nabi dan insyaallah matinya syahid. Tapi ulama Su’ matinya mati sangit. Nah, kenapa tidak kita gunakan keulamaan kita untuk berjuang demi Islam?”

Mari berdoa agar Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah segera hadir di tengah-tengah kita. Dengan itu, insyaallah seluruh aneka problematika kehidupan, termasuk pandemi covid 19, bisa segera diatasi. (AA)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …