Ketakwaan Kolektif Bisa Terlaksana Dengan Khilafah

Bogor Barat, (shautululama) – Lebih dari seribu umat Islam Bogor Barat dan sekitarnya hadiri sholat Idul Fitri 1440 H di Ponpes Al-Ihsan Baron Cijahe Bogor Barat, pada hari Selasa (4/6).

Acara ini diselenggarakan pihak Ponpes sebagai respon atas permintaan jamaah yang ingin ber Idul Fitri Selasa 4 Juni, sebagaimana informasi yang beredar berdasarkan rukyat global.  Hilal telah terlihat di beberapa belahan dunia, juga sebagaimana sejumlah negara sudah berlebaran pada hari selasa, termasuk negara-negara Teluk dan Arab Saudi.

Bertindak sebagai khotib Kyai Arif B. Iskandar S.S sebagai Pembina Yayasan An Nahdhoh Al- Islamiyah Bogor. Adapun Imam dipimpin oleh Ust Yusup, S. E. I, Mudir Ponpes Al- Ihsan Baron Bogor.

Dalam khutbahnya khatib mengingatkan bahwa yang tersisa dari bulan Ramadan adalah ketaqwaan. Idul Fitri yang dirayakan umat islam saat ini masih dirundung oleh berbagai ujian baik berupa persaingan dan perselisihan kekuasaaan. Nasib rakyat yang makin terlupakan, terpolarisasinya rakyat akibat “pesta demokrasi” yang diwarnai kecurangan dan terjadinya tragedi kematian petugas pemilu, juga kerusuhan.

Begitu pula kondisi umat islam di luar negeri jauh lebih parah, seperti di Suriah, Palestina, Rohingya dan Uighur dan Yaman, yang mereka berada dalam kondisi terdzolimi dan tidak aman serta terusir dari negerinya. Kondisi tersebut sangat ironis dengan perayaan Idul Firti yang sukacita dan penuh kemenangan.

Selain itu, khatib juga mengingatkan tentang makna taqwa yaitu tawqa yang memiliki empat unsur yaitu: Pertama, Al Khawf min jalil, yakni memiliki rasa takut kepada Alloh SWT. Kedua, Al-‘Amal bi al-Tanzil, yakni mengamalkan seluruh isi Al-Quran dengan melaksanakan dan menjalankan syariatnya dengan kaffah yang hanya bisa diwujudkan melalui sistem pemerintahan yang para ulama menyebut Khilafah ar-Rasyidah.

 

 

Ketiga, Al-Qana’ah bi al-qolil, yakni merasa puas/Ridho dengan karunia yang sedikit sehingga melahirkan sifat wara’. Keempat Isti’dad[an] li yawm ar –rahil, Yakni menyiapkan bekal untuk hari akhir.

Takwa tentu harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga dalam ranah masyarakat dan negara. Inilah yang disebut sebagai ketakwaan kolektif yang hanya mungkin diwujudkan dalam institusi Negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah, institisi itu tidak lain adalah khilafah ala minhaj an-nubuwah yang pernah dipraktikkan secara nyata oleh Khulafaur Rasyidin dulu. [rid]

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *