Kemerdekaan dan Kemerdekaan Hakiki dalam Islam

Banjarbaru, (shautululama) – Guru Abdul Hafiz, Ulama Aswaja Kota Banjarbaru mengatakan kemerdekaan jiwa jauh lebih penting daripada kemerdekaan raga. Jiwa yang merdeka tidak bisa dihentikan aktivitas perjuangannya walaupun raga tersandera. Sebaliknya, jiwa yang tersandera maka kekuatan fisik tidak berati apa-apa.

Hal ini dapat dilihat pada sejarah perjuangan Sahabat Bilal bin Rabbah. Iman beliau tetap kokoh meski dihimpit batu besar ditengah terik matahari. Beliau menolak untuk menyekutukan ALLAH SWT.

Begitu juga Sahabat Habib bin Zaid Al Anshori ketika beliau ditahan oleh Musailamah Al Kadzab, beliau tetap kokoh dan tegas dengan kesaksian beliau bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah dan dengan tegas mengingkari perkataan Musailamah.

“Penjajah telah pergi dari negeri ini, secara fisik yang memimpin negeri ini adalah anak negeri itu sendiri, namun sudahkah para penguasa memiliki jiwa yang merdeka?” tutur Guru Abdul Hafiz dalam acara Multaqo Ulama Aswaja Kalimantan Selatan: Muharram Momentum Perubahan Umat Menuju Kemuliaan Dan Kemerdekaan Hakiki, Tinggalkan Demokrasi- Sekulerisme, Kapitalisme Dan Komunisme. Ahad (12/9/2021) langsung di kanal Youtube UlamaGurunda TV.

Beranikah penguasa negeri ini menolak hegemoni asing? Faktanya sungguh menyedihkan ujar beliau. Fisik penajajah memang telah pergi dari negeri ini, akan tetapi aturan dan pola pikir penjajah masih digunakan di negeri ini. Atas nama investasi, lebih dari 70% kekayaan negeri ini dikuasai oleh penjajah.

Secara ekonomi, dimana ekonomi kita berbasis kapitalis kita dipaksa untuk mengikuti aturan ekonomi mereka yang berbasis riba. padahal riba itu telah jelas dan nyata diharamkan dalam Islam. Sehingga yang terjadi adalah utang negeri ini yang mencapai ribuan triliun. “Sehingga utang inilah yang memuluskan penguasaan sumberdaya alam Indonesia ini” papar beliau.

Disegi hukum, negeri ini masih menggunakan hukum peninggalan penjajah. Hukum yang berpihak kepada penguasa dan pemilik modal. Pada saat ini juga nampak hukum dipermainkan. Orang-orang yang mengkritik penguasa ditahan, padahal itu bukti sayang mereka kepada penguasa dengan kritik dan nasehat mereka.

“Ingatlah bahwa para Ulama yang berjuang karena ALLAH SWT boleh jadi fisiknya dibelenggu namun jiwa mereka tetap merdeka. Pemikiran mereka tidak bisa dibelenggu” pungkas Guru Abdul Hafiz.

Kita akan benar-benar merdeka bila kita tidak menghamba kepada hawa nafsu, tidak menghamba kepada makhluk. Kita benar-benar merdeka jika kita hanya menghamba kepada ALLAH Maha Perkasa. Penghambaan yang terwujud dengan ketaqwaan, tunduk kepada Hukum ALLAH dengan menerapkan Syariat-Nya secara kaffah.

Beliau mengutip perkataan Umar bin Khattab “Sesungguhnya dahulu kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian ALLAH muliakan kita dengan Islam. Maka bilamana kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang telah ALLAH muliakan kita, ALLAH akan hinakan kita”. Oleh karena itu kemulian hanya ada pada Islam dan Syariatnya. “bisakah Syariat Islam secara menyeluruh diterapkan pada sistem Demokrasi – Kapitalis saat ini? Jawabannya, jelas tidak akan mungkin” pungkas beliau.

Syariat Islam hanya bisa diterapkan secara sempurna dengan institusi yang telah ada pada Kitab-Kitab Fiqih yakni Khilafah ‘Ala Minhaj Nubuwwah. “Mari kita rapatkan barisan berjuang bersama umat untuk menerapkan Hukum Allah SWT untuk mencapai ridho-Nya” ajak beliau.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Nasehat Ulama Pada Multaqa Ulama Aswaja Karawang-Purwakarta Jabar: Waspadai, Tolak Bahaya Laten Komunisme

Karawang, Jabar (shautululama) – Sabtu, 16 Oktoberber 2021, 9 Rabiul Awwal 1443 H, Alhamdulillah berkumpul …