Kebatilan Pasti Terkalahkan oleh Kebenaran

Kepanjen, Malang (shautululama) – Ahad, 3 February 2019. Suatu kebiasaan menarik yang dilakukan oleh pengasuh majelis dzikir wa taklim ihyaul quluub Singosari, Malang, Kyai Bahron Kamal yaitu silaturrahim dakwah dengan mengunjungi ulama, kyai di pondok-pondok pesantren atau majelis taklim mereka.

Suatu tradisi yang menurut beliau menjadi amalan para ulama dan kyai dahulu namun sudah sangat langka dilakukan oleh ulama dan kyai zaman now.

Beliau ingin menghidupkan lagi tradisi itu dengan menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan para ulama dan tokoh umat. Itu hal yang penting untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah dan merajut persatuan.

Lebih dari itu ulama dan kyai sebagai penyuluh umat dapat berdialog mempertemukan persepsi atas masalah-masalah bahkan bahaya-bahaya yang mengancam umat lalu mencari solusi secara islami. Itulah harapan beliau seperti yang kerap diutarakan kepada ulama atau tokoh yang diziarahinya.

‌Ahad siang hingga malam itu Kyai Bahron Kamal beranjangsana berturut-turut dengan tiga orang kyai, yaitu KH. Dhomiri yang akrab dipanggil Gus Dhomiri, ustadz Maryono, dan Kyai Umar Said.

‌Gus Dhomiri adalah ulama pengasuh majelis manakib di dusun Sanan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Di samping itu beliau juga mengasuh majelis yang sama di beberapa kota di luar Malang. Perbincangan antara dua kyai itu tampak begitu akrab dan gayeng. Kiranya kedua tokoh itu sudah cukup lama saling mengenal. Pembicaraan yang sering diselingi dengan gurauan itu berkisar tentang tantangan bagi ulama dalam menyampaikan kebenaran.
“Dari dulu musuh ulama itu sama saja. Penentang kebenaran dari dulu selalu datang dari kalangan penguasa tiran dan golongan orang-orang yang melampaui batas dari para pendukung dan pemujanya. Di masa Ibrahim As ada Namrud dan kroninya, di masa Musa As ada Firaun, Haman, dan Qorun; setiap zaman ada tokohnya,” urai Gus Dhomir.

“Namun akhir dari perseteruan itu selalu sama, yaitu kebatilan pasti terkalahkan oleh kebenaran.” Lalu beliau menyitir QS. Al-Isra’:81. Kyai Bahron mencerna dengan baik penuturan Gus Dhomiri sembari menguatkannya dengan contoh kasus lain yang menimpa para imam salafus shalih.

‌Dari dusun Sanan meneruskan muhibbah ke Dusun Sendang masih di kecamatan yang sama. Kyai Bahron mengunjungi Ustadz Maryono yang ternyata beliau merasa sangat kangen dan ingin bertemu dengan Kyai Bahron Kamal karena sudah lama tidak bertemu katanya. Ustadz Maryono banyak berbincang soal Pancasila.

‌Tokoh panutan Dusun Sendang ini merasa heran kalau ada orang yang menuduh dirinya sebagai Anti-Pancasila hanya karena beliau sering menghadiri acara yang diselenggarakan oleh ormas yang dicap radikal. Padahal beliau dulu salah seorang penatar Pancasila atau P4.

“Dulu kamu yang menatar Pancasila kan saya, kenapa sekarang kamu menganggap saya Anti-Pancasila dan orang yang radikal?” Ustadz Maryono berkisah dengan kesal tentang seorang yang dulu menjadi anak buahnya dan pernah ditatar oleh beliau tapi kini menuduhnya sebagai kelompok garis keras dan radikal.

Ustadz yang pernah aktif sebagai wartawan dan lama berdinas sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ngajum itu pun menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi penatar. Beliau mengupas sedikit tentang Sila Ketuhanan Yang Mahaesa, makna dan implementasinya. Tetapi penerapannya seperti yang ia pahami oleh rezim sekarang dianggap tidak pancasilais, karena hanya sang rezimlah pemilik tafsir yang benar terhadap ideologi negara.

Atas penuturan itu Kyai Bahron tersenyum simpul seraya berkomentar pendek. “Pancasila yang panjenengan pahami tidak sama dengan yang dipahami rezim sekarang, karena yang menjadi pedoman mereka adalah Pancasila 1 Juni 1945 yang akomodatif dengan ajaran Nasakom,” pungkas beliau.

‌Silaturrahim ke Kyai Umar Said dan putranya Gus Mahfudz
‌di Dusun Barisan baru pertama kali ini dilakukan Kyai Bahron. Kyai sepuh yang tinggal di dekat Bendungan Karangkates itu adalah tokoh agama yang sangat disegani di desa tersebut. Meski secara formal tidak membuka pondok pesantren namun sudah puluhan tahun Kyai Umar mengasuh Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) yang memadukannya dengan pembelajaran kitab-kitab pesantren.

‌Kyai Bahron sangat mengapresiasi keberadaan TPQ di desa-desa karena kehadiran mereka bagai benteng yang melindungi anak-anak kita dari gempuran budaya asing yang merusak.
Dalam suasa kekeluargaan yang hangat kedua kyai itu berbincang tentang pendidikan anak dan tantangan pengaruh negatif dan merusak generasi masa depan seperti pergaulan bebas, narkoba, LGBT, dan sebagainya.

‌Ada satu pesan yang selalu Kyai Bahron sampaikan kepada ulama atau kyai yang dikunjunginya hari itu. Beliau mengingatkan adanya ancaman serius yang tengah dihadapi umat Islam saat ini. Kaum Muslim harus waspada dan siaga akan kebangkitan kembali neokomunisme yang berkonspirasi dengan China komunis dan tengah dikondisikan oleh rezim. Kyai juga mengingatkan agar dalam pemilihan pemimpin tidak memilih pemimpin yang tidak peduli kepada umat dan cenderung anti-Islam. (red)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *