Kapitalisme-Demokrasi dan Komunisme, Ideologi Buatan Manusia

0
286

Madura, (shautululama) – KH Dr. M Afif Hasan, M.Pd., Pengasuh MT Riyadhus Sholihin Sumenep Madura, Jawa Timur adalah perwakilan ulama dari tanah Madura yang didaulat panitia multaqa ulama Aswaja Jatim, Jateng dan DIY untuk menyampaikan aqwalnya.

Meski dalam perjalanan beliau bisa mengikuti multaqa ulama yang diselenggarakan secara daring ini. Beliau berkenan menyampaikan aqwal minal ulama karena ihtimam beliau terhadap persoalan penting umat islam ini. Dari dalam mobil beliau sampaikan bahwa Ideologi yang berkembang sampai sekarang ada Kapitalisme, Komunisme dan hanya ada satu milah yaitu milah Ibrahim hanifah. Inilah satu-satunya milah yang benar. Milah yang diawali dengan kalimat tauhid, yang hanya mengakui satu tuhan, Allah SWT dan membuang tuhan-tuhan yang lain.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Lanjut beliau, dari sinilah terlahir sistem-sistem, misal dalam ahklak membenci apa saja yang tidak berasal dari sistem yang syari dan mencintai apa saja yang berasal dari hukum syari. Dalam siyasah (politik) bebas dari segala sistem yang tidak syari dan loyal kepada sistem yang syari.

Tentang demokrasi, beliau menyampaikan pandangannya bahwa demokrasi ini mengikuti suara terbanyak, suara manusia terbanyak. Siapa yang banyak bisa membuat hukum. Di negara-negara yang menganut demokrasi mengikuti suara terbanyak. Hukum dibuat mengikuti suara terbanyak. Kalau suara terbanyak dari ulama, ya hukumnya bagus, tapi kalau para maling pasti pro para maling.

“Di dalam islam, membuat hukum hak Allah SWT, hukum syari yang diterapkan untuk manusia bukan hukum produk manusia,” tandas beliau.

Beliau menyoroti produk hukum demokrasi, misalnya dalam pencurian. “Di dalam produk hukum demokrasi, jika ada orang yang mencuri, misalnya dihukum satu tahun penjara, maka pencuri ini rugi dua kali mengapa? Pertama di dunia dia sudah dihukum penjara, namun di ahkerat dia tetap akan dihukum karena belum tertunaikan hukum syari atasnya mencuri. Jadi kalau ada orang dihukum dengan produk hukum demokrasi adalah ekstra ordinary crime. Karena yang berhak membuat hukum adalah Allah SWT dan belum tertunaikan di dunia”, tutup beliau.

Multaqa yang dilaksanakan Ahad, (9/08/2020) lalu diikuti oleh habaib, ulama dan kyai pengasuh pondok pesantren maupun pengasuh majlis taklim dari kawasan Jatim, Jateng dan DIY dengan mengangkat tema menatap masa depan menuju Islam, tinggalkan kapitalisme, demokrasi dan komunisme.