Kapitalisme-Demokrasi dan Komunisme Gagal Total Atasi Pandemi Covid-19

Palembang, (shautululama) – Agenda Liqa Syawal Ulama Aswaja Se Sumatra Selatan yang diselenggarakan oleh Forum Ulama Rindu Kebangkitan Islam (FURKI), Ahad (21/6/2020), diikuti ratusan peserta dari kalangan ulama, kyai, pengasuh ponpes, ustad pengasuh majlis taklim.  Meski diselenggarakan lewat daring tak menyurut niat peserta untuk mengikutinya hingga acara berakhir.

Ustadz Dr. Diding Suhandy sebagai pemateri berikutnya, dengan lugas memaparkan bahwa kapitalisme ini gagal dalam mengatasi pandemi covid 19.

“Planet kapitalisme ini tidak kekurangan kaum intelektual, terlebih para ahli dibidang virus banyak sekali, akan tetapi kapitalisme gagal melawan pandemi. Sebenarnya titik permasalahannya bukan pada sainsnya akan tetapi siapa yang memanfaatkan sains tersebut, “ tegas beliau.

Lantas siapakah yang memanfaatkan teknologi dan para ilmuwan tersebut ?

“ Para ilmuwan itu tetap tunduk pada sistem kapitalisme, sangat jelas sistem tersebut hanya melayani para kapitalis yang melihat sesuatu dari sudut pandang bisnis, untung atau rugi, pada faktanya alat tes covid 19 yaitu PCR itu harganya sangat mahal, tidak kompatibel dengan sistem kapitalis, sehingga negara menggunakan alat tes dengan biaya murah akan tetapi akurasi minim, “ kata beliau.

“ Negara kapitalisme memandang kematian hanyalah sebuah angka, sedangkan dalam Islam hilangnya dunia masih lebih ringan dibandingkan kehilangan satu nyawa yang bukan haq, “ pungkas beliau.

Bukan hanya Islam yang ingin memimpin peradaban dunia, akan tetapi komunisme-sosialisme juga melihat momentum kebangkitan mereka, patut diduga di negeri kita salah satu pintu kebangkitan mereka adalah RUU HIP.

“Rakyat sedang sibuk melawan virus corona, seharusnya pemerintah lebih sibuk lagi dari rakyat, akan tetapi sayang sekali mereka malah sibuk membahas RUU HIP ditengah pandemi, umat Islam harus curiga, “ kata Ustadz Abu Umar pada sesi ini.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa umat Islam tidak cukup hanya waspada terhadap bangkitnya neo-komunisme akan tetapi harus melawan dengan acuan ajaran Islam.

“Jika sudah menggunakan ajaran Islam sebagai asas perjuangan, umat Islam jangan tanya lagi siapa presidennya di 2024 ?, akan tetapi jawab dengan tegas sebentar lagi presiden akan diganti dengan Khalifah, titik !, ‘ ungkap Ustadz Syahru Musta’in yang disambut gelombang takbir dari para peserta forum.

Lanjut sesi Kyai Haris Supriono, beliau bertutur bahwa agar carut marut di negeri kita ini  tidak berlanjut maka bertobatlah, kembali pada aturan Allah jangan tunduk pada undang-undang manusia.

Mulkan Jahilun, bukan bodoh karena tidak bisa baca tulis, akan tetapi  bodoh karena memilih sistem penjajah, “ pungkas beliau.

Ustadz Ahmad Abdul Ghaniy mengajak untuk bergerak melakukan amal untuk umat terbaik yaitu amar ma’ruf nahi munkar.

“Penguasa bodoh nampak didepan mata, jadi kita sebagai umat islam wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu muhasabah lil hukam, mengoreksi penguasa secara terang-terangan, “ tegas beliau.

Lebih lanjut beliau mengatakan agar mengoreksi penguasa agar berlaku adil, sedangkan adil itu harus menerapkan hukum Allah secara menyeluruh.

Setelah umat paham tentang zalimnya penguasa, bobrok sistem politiknya, dan rapuh sistem ekonominya, umat harus paham cara menegakkan Khilafah yang tentunya mengikuti Rasulullah SAW.

“Rasulullah SAW tidak pernah mengikuti sistem politik demokrasi ala pemerintah mekah, tidak pernah melalui jalur ekonomi seperti unit usaha, tidak pernah dengan perbaikan individu-individu saja karena masyarakat itu tidak bisa dipisahkan dari pemikiran, perasaan, lalu peraturan , kemudian beliau tidak pernah melakukan people power, dan terakhir beliau tidak pernah melakukan kudeta, “ papar Ustadz Taufiq Nizham.

Lalu beliau memaparkan metode dakwah Rasulullah SAW adalah pembinaan para sahabat agar Aqidahnya kuat, kemudian terbentuknya kutlah organisasi yang telah matang untuk berinteraksi yang sempurna dengan ummat untuk melakukan dakwah secara terangan-terangan membongkar kerusakan kehidupan jahililah di Mekkah dengan segala konsekuensinya, “ lanjut beliau.

Terakhir beliau menjelaskan jalur thalabun nusroh yang ditujukan untuk para penguasa agar kekuasaannya diberikan kepada Rasulullah SAW, jalur itu pun menuai keberhasilan ketika Ahlul Quwwah dari suku Aus dan Khazraj memberikan nusrohnya agar Rasulullah SAW menjadi pemimpin Madinah, lalu tahap akhir adalah penerapan hukum Islam secara kaffah.

Begitulah metode penegakan Khilafah yang sesuai syariat Islam, terbukti jika menggunakan metode selain Islam, maka tidak akan menemukan jalan apapaun kecuali kegagalan.

“Kita pasti menang, karena Khilafah sedang diperjuangkan oleh orang-orang yang beriman pada Allah, “ pungkas K.H. Muhammad Sulthon, Lc mengakhiri sesi tausiyah pada forum ini.

Kemudian acara tiba pada pembacaan pernyataan sikap Ulama dan Tokoh ASWAJA yang dibacakan K.H. Komarudin Hasan yang secara garis besar berisi penolakan terhadap kapitalisme-demokrasi dan sosialis-komunisme lalu siap menyambut Islam dan Khilafah.

Sebelum acara berakhir – Ustadz Mahmud Jamhur, menyampaikan pantun

“Pempek telor, pempek lenggang
Dibawa ke Tanjung Karang
Jangan kendor terus berjuang
Hingga Allah memberikan kemenangan”,

Pembacaan doa dipanjatkan oleh Ustadz Ahmad Rofiq, setelah pantun berakhir kemudian dilanjutkan dengan doa kifaratul majelis. [rr]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …