Jangan Tutupi Carut-Marut Penanganan Pandemi dan Ketidaksiapan Hadapi Resesi dengan Program Sertifikasi Dai

0
153

Depok, (shautululam) – Lebih dari 40 tokoh alim ulama, kyai, habaib dan asatidz se-Depok mengikuti langsung via Zoom Multaqa Ulama Ahlussunah wal Jamaah Kota Depok yang kali ini yang bertajuk, “Tolak Sertifikasi Dai: Upaya Mengkambinghitamkan Islam dan Dakwah Islam untuk Tutupi Carut Marut Penanganan Pandemi Covid-19 dan Ketidaksiapan Hadapi Resesi” pada Sabtu 19 September 2020.

Multaqa ulama Aswaja ini diselenggarakan oleh Majelis Dirasah Islamiah Kota Depok. Forum para alim ulama yang dipandu KH. Amir Maruf ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh ustadz Budi Rahmatullah alumni Ponpes Al-Quran Al-Furqon, Bogor.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Selanjutnya Kyai Dede Wahyudin selaku penggagas acara menyampaikan mukadimah forum multaqa. “Multaqa ulama ini merupakan bentuk ihtimam (kepedulian alim ulama terhadap Islam dan kaum Muslimin,” urainya.

Beliau pun menyebut wacana sertifikasi dai hanya menimbulkan kegaduhan. Karena rencana ini muncul di tengah merebaknya pandemi Covid-19 yang makin tak terkendali serta ancaman resesi, sejumlah pihak menduga ini hanya upaya rezim untuk tutupi ketidakmampuan mengatasi pandemi serta ancaman resesi.

Menyinggung kampanye jejak Khilafah melalui film dokumenter JKDN, beliau juga memberikan dukungan. Sebab wilayah nusantara memang bagian dari wilayah kekhilafahan yaitu ketika dakwah Islam masuk dengan jalan damai, maka nusantara ini terkategori wilayah usyriah. Sehingga adanya bukti-bukti sejarah dalam tayangan JKDN makin mengokohkan hubungan nusantara dengan Khilafah.

Selanjutnya tampil Gus Ali Fatoni (Ma`had Syaraful Haramain) menyampaikan kalimah minal ulama dengan tema, “Tahun Baru Islam, Mengingatkan Negeri kita Bagian yang Tak Terpisahkan dari Kekhilafahan Global”. Dalam uraiannya menegaskan relasi negeri ini sebagai bagian dari kekhilafahan. Yaitu umat Islam nusantara merasa mempunyai hubungan emosional maupun struktural ke pusat Khilafah.

Kalimah minal ulama berikutnya oleh KH. Abdul Hakim dari Rumah Quran. Beliau menyampaikan tentang “Kewajiban Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. “Mestinya ulama berani berdakwah secara terbuka mendakwahkan Islam kafah dalam naungan Khilafah. Termasuk mendakwahi penguasa. Bahkan itulah aktivitas jihad yang paling utama!” tegasnya.

Setelah itu ulama menyimak kalimah minal ulama dengan tema, “Kewajiban dan Keutamaan Muhasabah Lil Hukam dan Haramnya Berwali Kepada Penguasa Yang Menjalankan Hukum Kufur”. Ustadz Ishak, MEc pengasuh Majelis Dirasah Islamiah mengungkap urgensi mengoreksi penguasa melalui muhasabah dan amar makruf nahi munkar. Sedangkan bagi umat hukumnya haram memberikan loyalitas terhadap penguasa yang menjalankan selain hukum Allah SWT.

Berikutnya tampil ustadz Mahyudin (Irtifaul Fikri Institute) yang menyampaikan kalimah minal ulama bertema, “Kebangkitan yang hakiki dari kemerosotan sistem kehidupan sistem kufur menuju kebangkitan Islam, Sistem Islam”. Beliau menunjukkan jalan kebangkitan harus bermuara kepada sistem Islam Khilafah. Tidak boleh perjuangan umat dibajak dan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politisi maupun partai sekuler yang hanya berkhimat kepada kepentingan cukong semata. Akibatnya umat berkali-kali hanya jadi pendorong mobil mogok.

Adapun Ustadz sekaligus ekonom Dr. Erwin Jundi dalam kalimah minal ulama, menyingkap kebobrokan rezim atasi Covid-19 serta antisipasi resesi dalam paparannya bertajuk, “Kebobrokan Dan Ketidakmampuan Rezim Melindungi Rakyat Dari Wabah Covid 19 Dan Resesi Ekonomi yang menghadang di depan mata”. Intinya rakyat saat ini dihantui resesi ekonomi di samping wabah Corona karena identifikasi masalah maupun solusi yang dijalankan tampak tidak terkoordinasi dengan baik. Terlebih paradigma solusi tidak beranjak dari sistem sekuler kapitalisme yang sejatinya adalah sumber krisis dan petaka di Dunia Islam bahkan di seleuruh dunia.

Berdasarkan realitas pahit umat tersebut, maka solusi yang seharusnya diperjuangkan adalah solusi yang digali dari aqidah Islam yaitu Khilafah. Demikian penegasan ustadz Ujang Furqon (Pimpinan Majelis Diarasah Islamiah kota Depok). Beliau pun menggarisbawahi posisi ulama dalam membangkitkan umat dari keterpurukan dalam kalimah minal ulama yang bertema, “Ulama menjadi garda terdepan dalam perjuangan menegakkan Khilafah di Nusantara ini, Ajakan kepada ulama yang lain agar bergabung dalam hizbus siyasi al-mabda’i al-Islami.”

Rangkaian kalimah minal ulama selanjutnya dari KH. Fahmi Shadri (Majelis Quranic Celestial Enterpreneur). Beliau memaparkan tema, “Waspada Pilkada 2020 dan Pilpres 2024 Umat tidak boleh tidak tertipu dan tidak boleh ditipu lagi”. Diingatkan kepada umat Islam agar jeli dan tidak terperosok ke dalam lubang demokrasi. Apalagi sampai berkali-kali.

Umat mestinya memiliki agenda perjuangan tersendiri tidak boleh hanya menjadi obyek penlengkap dan penderita dalam hiruk-pikuk pesta demokrasi yang hakikatnya adalah pesta cukong yang diperankan oleh para politisi dan partai. Sehingga umat wajib fokus pada agenda perjuangan tegaknya sistem Islam dengan mengikuti metode perjuangan Rasulullah Saw.

Pada akhir acara dibacakan Pernyataan Sikap Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Kota Depok oleh KH. Hasyim Musthafa (MT. Baitul Khoir) lalu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Slamet, MM (MT. Ikhwanul Muslimin Ps. Agung).

Acara Multaqa Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Kota Depok ini juga disaksikan lebih dari 200 orang yang menyimak secara live streaming melalui chanel Majelis Dirasah Islamiah.