Jalsah Ammah Ulama, Kyai Mojokerto bersama Masyarakat, Dakwah untuk Menyampaikan Ajaran Agama Dijamin Undang undang, Tidak Boleh Dilarang

Mojokerto, (shautululama) – Kajian rutin Jalsah Ammah bersama ulama dan kyai Mojokerto dilaksanakan, Ahad 4 Nopember 2018. Kali ini tema yang diangkat “Menjaga Kalimat Tauuhid Hingga Kematian”

Acara diawali dengan istighosah yang dipimpin Gus Sam dari Gayaman Mojokerto. Lalu dilanjutkan tilawah oleh ustad Irhas dari Mojosari.

Selanjutnya, Moderator Ustad Izzudin, mempersilahkan para ulama untuk duduk di panggung. Ulama yang hadir diantaranya: Kyai Abdurahman Salam dari Ponpes Al Anwar Balong Lombok, Kyai Mashudi dari Ponpes Basmallah Peterongan, Kyai Joko Santoso dari Ponpes Al Mukhlisin Wonoploso, Kyai Elyasa dari Ponpes Al Anwar sekaligus sahibul bait.

Ulama lain: Kyai Maslikhan, Pengasuh Jamaah Pengajian Duratun Nashihin Trawas, Kyai Thoif dari Gondang, Ustad Fathoni dari Kediri, dan Gus Sam dari Gayaman

Turut hadir pula 2 Lawyer dari LBH Pelita Umat Jatim, Satya Darma SH, dan Nur Rahmat SH.

Pemaparan materi pertama disampaikan Satya Darma SH, dari LBH Pelita Umat.

Beliau memberikan padangan dari segi hukum bahwa tidak diperbolehkan melihat suatu persoalan dengan pendekatan tuduhan.

Jika ada suatu permasalahan harus melewati mekanisme yang ada, pemeriksaan, pembuktian dsb. Tidak boleh menafsirkan sendiri tanpa pembuktian.

“Jika ada bendera dengan kalimat Tauhid maka tidak boleh menafsirkan lebih dari itu”

Beliau mengutip asas hukum “nullum dilectum nulla poena sine praevia lege” atau “tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan perundang-undangan”

Lebih lanjut, seorang kyai menyampaikan dakwah yang tercantum dalam ajaran agama dijamin undang-undang tidak boleh dilarang.

Selanjutnya, pembicara kedua Ustad Fathoni. Beliau mengutip 3 hadist shahih tentang bendera Tauhid.
1. Hadist Bukhori tentang diberikannya bendera tauhid hitam arroya pada Ali pada perang Khaibar.
2. Hadist tentang warna dan tulisan bendera tauhid
3. Hadist perang mu’tah dimana 3 sahabat komandan perang yang ketiganya syahid mempertahankan bendera tauhid.

Pembicara ketiga Kyai Maslikhan menyampaikan bahwa, “Saat ini banyak umat islam tidak PD dengan bendera Tauhid karena framing bahwa itu bendera radikal, ISIS dsb. Banyak juga beredar berita hoax. Ingin menutup aurat dengan cadar karena ada opini radikal tidak jadi. Ini adalah perang opini”, tandas beliau.

Sesungguhnya semua orang yang bersyahadat itu saudara. Kalau ada pembakaran bendera Tauhid itu fakta jangan ditambah berita hoax.

Pembicara berikutnya Kyai Abdurahman. Beliau menyampaikan apakah kalimat Tauhid cukup dihati saja? Tidak! Iman itu harus diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Salah satunya adalah mengibarkan berdera Tauhid adalah bagian syiar islam.

“Dakwah kalimat Tauhid diancam. Tidak dakwah Tauhid juga diancam. Bedanya dakwah kalimat Tauhid ancamannya dari manusia, dipersekusi maksimal dibunuh. Tapi kalau tidak mendakwahkan Tauhid yang mengancam Allah yaitu dimasukkan neraka”, ungkap Kyai Abdurrahman

Pembicara kelima Kyai Mashudi memaparkan, “Saya ini Mursyid 6 tharikot semua dzikirnya itu lailahailallah muhammadurosululloh“. Keyakinan pada Allah tidak hanya dalam hati tapi dhohiran wa batinan. Pokoknya orang yang memegang teguh kalimat Tauhid akan sakti tanpa aji aji“, pungkas beliau.

Pembicara ke enam kyai Elyasa. Menyampaikan, ancaman konflik dalam umat islam tidak hanya terjadi saat ini. Di masa Rasulullah juga terjadi konflik antara suku aus dan khazraj. Padahal kedua suku ini memiliki jasa besar sebagai ahlun nusrah terbentuknya daulah Islam Madinah.

Beliau mengutip surat Al imron 103,
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”. (QS Ali Imran:103)

Ibnu Jarir Ath Thabari berkata tentang tafsir ayat ini: Allah Ta’ala menghendaki dengan ayat ini, dan berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan, dan (berpeganglah kamu semuanya) kepada janji-Nya yang Dia (Allah) telah mengadakan perjanjian atas kamu di dalam kitab-Nya, yang berupa persatuan dan kesepakatan di atas kalimat yang haq dan berserah diri terhadap perintah Allah. (Jam/hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *