Jalsah Ammah Ulama dan Kyai Kab. Mojokerto: “Persekusi Terhadap Ulama, Ajaran Islam dan SimbUl Islam, Harus dihentikan”

Mojokerto, (shautululama) – Ahad, 7 Oktober 2018 bertempat di RM Pungging, Mojokerto berlangsung Jalsah Ammah Ulama dan Kyai Kab. Mojokerto. Acara rutin bulanan ini dihadiri puluhan kyai dan ulama Jawa Timur serta lebih dari 400 jamaah putra dan putri dari daerah sekitar.

Diantara ulama yang nampak di panggung, Abah Qoyyum dari Malang, KH. Bahron Kamal dari Singosari, Abah Kholiq, Ketua FUIB Surabaya, KH Jupri Ali Blitar, KH. Ahmad Jauhari Kediri, Kyai Luqman Haris Rahman, Sumenep, Madura, Kyai Joko Santoso, Mojokerto, Kyai Masyhudi Bangsal, Mojokerto, KH. Nizar Jombang, KH. Misbah Halimi, Jombang, dll.

Sebagai mana biasa, acara diawali dengan istighasah, dan pembacaan ayat suci Al-Quran.
Acara Jalsah Ammah kali ini spesial karena dihadiri oleh LBH Pelita Umat Jawa Timur beserta timnya. Mereka hadir dipimpin langsung oleh Ketua LBH Pelita Umat Jatim, Budihardjo, SH.

Mengawali acara, Budihardjo, SH dari LBH Pelita Umat, menyampaikan pandangannya kepada para jamaah tentang kiprah LBH Pelita Umat yang berdiri khusus untuk memberikan perlindungan hukum, jikalau para ulama, kyai dan ustad mengawali persekusi dalam berdakwah.

“Silakan para ualama, para kyai terus berdakwah, menyampaikan ajaran Islam karena itu bukan ujaran kebencian, kami dari LBH Pelita Umat akan mengawal”, terang Budihardjo, SH.

Kyai Abdurrahman, mengawali acara dengan testimoni tentang persekusi yang beliau alami beberapa waktu yang lalu.

Beliau berkelakar, “Sejak kapan aparat mengurusi tongkat khutbah Jumat? Malam-malam lagi datangnya, pakai gedor-gedor pintu, bawa banyak orang segala. Kalau tanya tongkat apa tidak bisa besuk pagi”.

Lalu acara dilanjutkan dengan pemaparan kalimah minal ulama. Kesempatan pertama oleh KH. Jupri Ali (Abah Jupri) dari Blitar.

Abah Jupri, beliau biasa dipanggil, menyampaikan cerita mengapa Anshor berdiri di Blitar. Sebagai mantan Komandan Anshor Blitar, yang usianya kini sudah lebih dari 70 tahun, tahu betul, karena beliau ikut serta membidani lahirnya Anshor.
Pemberontakan PKI di Blitar yang telah membunuh kyai dan santri melatarbelakangi didirikannya Anshor.

KH. Abdul Qoyyum, biasa dipanggil Abah Qoyyum, dari Malang, menyampaikan kalimah minal ulama yang kedua.
Beliau mengawali ceramahnya, kaum muslimin harus bersatu, jangan mau diadu domba. Waspada dengan mental PKI, tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, serta suka berbohong.

“Terlebih di tahun politik ini, banyak oknum-oknum yang mengatasnamakan rakyat, berjuang untuk rakyat, tapi pada hakekatnya untuk memetik kepentingannya sendiri dan kelompoknya”, ingat Abah Qoyyum.

Sementara Kyai Masyhudi, menyoroti bencana yang terus menimpa negeri ini.
Beliau membacakan hadis yang artinya, “Apabila zina dan riba sudah merajalela di bumi, maka pada hakekatnya mereka telah menghalalkan ahzab Allah”
Untuk mencegah berlanjutnya bencana ini, maka harus kembali kepada aturan Allah.

Sebagai pemateri terakhir, Kyai Luqman Haris Rahman dari Sumenep, Madura, menyampaikan kaum muslimin telah berikrar dengan kalimat tauhid, bahwa hidup, mati hanya untuk Allah, dan Rasulullah adalah utusan Allah.

Beliau pun heran, jika ada yang mempersekusi kalimat tauhid, simbol Islam, ajaran Islam. Itu harus dihentikan, kaum muslimin harus bersatu agar kuat.

Sebelum acara diakhiri dibacakan pernyataan sikap Forum Komunikasi Ulama Aswaja (FKU Aswaja), terhadap anggotanya yang mengalami persekusi.  Ini merupakan persoalan serius yang bisa merendahkan martabat dan kedudukan ulama, karenanya harus ditangani secara profesional, tidak serampangan, agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, demikian isi salah satu pernyataannya yang dibacakan oleh KH. Ahmad Jauhari.

Tepat pukul 09.30 acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh KH. Bahron Kamal. (hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Nasehat Ulama Pada Multaqa Ulama Aswaja Karawang-Purwakarta Jabar: Waspadai, Tolak Bahaya Laten Komunisme

Karawang, Jabar (shautululama) – Sabtu, 16 Oktoberber 2021, 9 Rabiul Awwal 1443 H, Alhamdulillah berkumpul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *