Ijtima’ Ulama Aswaja DKI Jakarta Bela Kalimat Tauhid

Jakarta, (shautululama) – Sabtu, 27 Oktober 2018 menjelang maghrib, tampak beberapa Alim Ulama disertai 200-an muhibbinnya berdatangan ke kediaman Al Habib Kholilullah bin Abu Bakar Al Habsyi (Pembina Majelis Dzikir Rotibul Haddad) di Duren Sawit Jakarta Timur.

Mereka dengan penuh antusias menghadiri acara Ijtima’ Ulama Aswaja Bela Kalimat Tauhid yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Ulama Aswaja DKI Jakarta. Acara pada malam itu diawali sholat maghrib berjamaah, dilanjutkan pembacaan dzikir rotibul haddad dan asma’ul husna, yang dipimpin langsung oleh Habib Kholilullah Al Habsyi.

Para jamaah mengikuti pembacaan dzikir tersebut dengan penuh kekhusyu’an, dan selanjutnya dilakukan sholat Isya berjamaah yang diimami oleh KH Muhammad Asrori Muzakki.

Selepas sholat Isya, acara yang ditunggu-tunggu oleh para Alim Ulama dan kaum muslimin yang hadir itupun dimulai. Dalam sambutannya selaku sohibul bayt, Habib Kholilullah Al Habsyi menyampaikan bahwa kaum muslimin sangat mencintai kalimat tauhid, yang dengannya umat Islam hidup dan mati. Pembakaran bendera tauhid oleh beberapa anggota Banser di Garut adalah tindakan biadab yang sangat melukai hati seluruh kaum muslimin. Selaku tuan rumah, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran para Alim Ulama dan kaum muslimin di kediamannya dalam rangka membela kalimat tauhid.

Al Mukarram KH Muhammad Asrori Muzakki, dalam sambutannya selaku Ketua Koordinator Forum Komunikasi Ulama Aswaja DKI Jakarta, menyampaikan bahwa umat Islam adalah khoiru ummah yang telah tertulis di lauhil mahfudz. Namun kondisi saat ini menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana Islam dan kaum muslimin terus dilecehkan dan dihinakan.

Kasus pembakaran bendera tauhid di Garut yang diiringi dengan nyanyian sangat mirip dengan apa yang dilakukan PKI. Tindakan tersebut adalah kemaksiatan besar yang bisa menjatuhkan pelakunya pada kekufuran. Para alim ulama dan kaum muslimin harus menunjukkan kemarahannya, karena seperti qoul Imam Syafii kalau kita dibuat marah tetapi tidak marah maka kita seperti keledai, bahkan orang yang diam ketika Islam di hinakan dapat diumpamakan seperti setan bisu. Beliau mengajak Ulama untuk berada di garda terdepan dalam memperjuangkan tegaknya khilafah, karena khilafah lah yang akan memuliakan Islam dan kaum muslimin.

Di tengah guyuran hujan yang penuh barakah, tampak para alim ulama dan jamaah tetap antusias mengikuti mau’idzotul hasanah yang disampaikan oleh Al Mukarram KH Abu Hanifah dari Ciracas Jakarta Timur. Beliau menceritakan kronologis pembakaran bendera tauhid di Garut Jawa Barat oleh anggota Banser. Kelihatan dengan jelas dalam video yang viral, bahwa anggota Banser begitu menghinakan bendera tauhid dan tidak ada rasa penghormatan sama sekali terhadapnya.

Beliau mengingatkan bahwa hal itu dapat membuat pelaku pembakaran terjerumus dalam kekufuran. Mereka berdalih bahwa hadis tentang al liwa dan ar royah derajatnya dhoif, padahal banyak Ulama Aswaja yang lain berpandangan bahwa para perowinya tsiqqoh. Aparat keamanan yang seharusnya bertindak adil, justru terlihat mempermainkan hukum sehingga menjadi olok-olokan di tengah masyarakat. Pelaku pembakaran malah dibebaskan tetapi pembawa bendera dijadikan tersangka.

Hal itu menunjukkan ketidakadilan aparat kepada kaum muslimin. KH Abu Hanifah juga menyampaikan bahwa diamnya kaum muslimin dalam perkara ini merupakan bentuk memberikan pertolongan pada perbuatan dzalim, diam sama dengan ridho, na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Selanjutnya beliau menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di tengah masyarakat, bahwa salah satu Ormas yang dicabut BHP nya oleh Pemerintah (HTI), bukanlah ormas yang terlarang, akan tetapi hanya dicabut BHP nya. Beliau mengajak Ulama dan kaum muslimin untuk terus berjuang membela kalimat tauhid, tidak diam saja, seperti setan bisu.

Selanjutnya, Ust Ahmad Khozinudin dari LBH Pelita Umat menjelaskan kepada para alim ulama dan hadirin tentang aspek legal al liwa dan ar royah. Terbukti secara hukum bahwa kain persegi empat berwarna dasar hitam bertuliskan kalimat tauhid yang di bakar oleh anggota Banser adalah bendera Rosulullah SAW, bukan bendera HTI. Mengibarkan bendera al liwa dan ar rayah adalah bagian dari syiar Islam yang harus terus disampaikan kepada umat.

Beliau juga menjelaskan bahwa HTI hanya dicabut status BHP nya, dan tetap sah sebagai ormas sesuai UU Ormas, bukan organisasi yang dibubarkan dan bukan pula organisasi yang terlarang sebagaimana PKI. Khilafah juga tidak pernah disebut dalam Undang-undang/keputusan pengadilan sebagai ajaran terlarang, sehingga dakwah syariah dan khilafah harus terus digemakan. Kaum muslimin harus bersatu dan berani memperjuangkan kebenaran, karena kalau kaum muslimin berani maka musuh pasti akan gentar.

Kalimah minal ulama yang pertama disampaikan oleh Ust Andi Salman dari Majelis Taklim Nurul Iman Jakarta Utara. Beliau menyampaikan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat yang agung dan mulia, yang mulai kita dengar sejak lahir dikumandangkan oleh kedua orang tua kita, yang menentukan apakah kita termasuk muslim atau kafir, yang akan menentukan posisi kita di akhirat nanti di surga dan neraka, dan merupakan simbol keagungan dan syiar islam.

Kalau kita takut kepada Allah, pasti kita tidak akan berani menghinakan kalimat tauhid. Kalau kalimat tauhid di nistakan, tentu kita tidak ridho dan meminta agar aparat memproses sesuai peraturan hukum yang ada. Ketika ada kemungkaran maka kita harus mengubahnya sesuai peran dan kemampuan optimal kita. Karena sesuai janji Allah SWT, kalau kita menolong agama Allah maka Allah pasti akan menolong kita.

Selanjutnya kalimah minal ulama dari Ustad Zainal Afwan dari Cipayung Jakarta Timur. Beliau menyampaikan bahwa kalimat laa ilaaha illallah muhammadurrosulullah adalah dua kalimat yang akan memuliakan manusia di dunia dan akhirat. Setiap orang yang merendahkan kalimat tauhid akan menjadi manusia yang rendah dan setiap orang yang menghinakan kalimat tauhid pasti akan terhina dan di kutuk oleh semua makhluk Allah di alam semesta ini. Karena alam semesta dan seisinya ini tunduk kepada Allah karena kalimat tauhid.

Tauhid adalah ruh umat Islam, karena kalau kita tidak yakin kita bisa disebut “mati” dari keimanan. Al Quran dan seluruh kitab yang diturunkan Allah SWT membahas kalimat Tauhid. Para Nabi dan Rosul seluruhnya diutus untuk menyampaikan kalimat tauhid. Kalimat tauhid adalah dua kalimat yang dijadikan satu, tidak ada keimanan kepada Allah kalau tidak iman kepada Rosulullah SAW. Begitulah keistimewaan kalimat tauhid bagi Umat Islam.

Kalimah Ikhtitam pada malam itu disampaikan oleh Al Mukarram Ust Tisna As Syirbuni. Beliau menyampaikan bahwa setiap orang dalam menolong agama Allah akan dilihat sesuai jenis amalnya masing-masing, maka kita harus seoptimal mungkin menolong agama Allah SWT, dalam hal ini adalah pembelaan yang optimal terhadap kalimah tauhid yang dihinakan oleh anggota Banser di Garut.

Hadis tentang al liwa dan ar rayah berdasarkan kajian para ulama ahli hadis berstatus minimal hasan, dan banyak yang statusnya hadis shohih. Khilafah dalam sejarahnya telah berhasil mewujudkan kemuliaan umat Islam, seperti peristiwa Khalifah Al Muktashim Billah yang menolong muslimah di amuria yang dilecehkan oleh penduduk Romawi.

Bahkan Khalifah Abdul Hamid kedua berhasil menggagalkan pementasan drama yang menghina Nabi Muhammad SAW di Eropa. Maka dalam menghadapi permasalahan ini, tidak cukup diselesaikan oleh orang baik, akan tetapi perlu aturan yang baik, yang datang dari Allah SWT. Kedzoliman yang terjadi di negeri in harus diakhiri dengan menerapkan syariah dan khilafah, pungkasnya. (red)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *