Gelar Tabligh Akbar 1441 Hijriyah, Ratusan Warga Madura Inginkan Penerapan Syariah Islam Kaffah

Pamekasan, Madura (shautululama) – Dalam rangka memperingati moment bersejarah terkait hijrahnya Nabi dan Sahabat pada 1441 tahun silam,  Sabtu,  1 Muharram 1441H yang bertepatan dengan 31 Agustus 2019M. Lebih dari 500 kaum muslim/muslimat dari 4 Kabupaten di Pulau Madura berbondong-bondong mendatangi Tabligh Akbar 1441 H yang digelar oleh PP At-Taufik Jungcangcang Pamekasan.

KH Thoha Kholili dari PP Al Muntaha Keleyan Bangkalan yang ikut hadir pada acara tersebut menegaskan, “Mari jadikan Muharram untuk momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang diridloi Allah SWT. Bagaimana caranya? Yakni dengan penerapan syariah Islam Kaffah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan juga bernegara.”

Ustadz Asmawi, SPd, Ketua Forum Kajian Islam Madura (Forkisma), yang juga turut hadir pada acara tersebut mengisahkan moment hijrah yang dilakukan Nabi dan Sahabat. Beliau menyatakan, “Di saat tekanan dakwah yang dilakukan orang-orang kafir Makkah kepada Rasulullah dan orang-orang mukmin semakin menguat, maka Rasulullah Saw memerintahkan Sahabatnya untuk hijrah. Hijrah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa dan mempertahankan keyakinan bahwa tiada Ilah Kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

Maka, Rasul memerintahkan Sahabatnya untuk berhijrah ke Negeri Habasyah (Baca: Ethiophia dan Somalia Modern) yang berada di bawah kekuasaan Raja Najasyi. Hijrah Kloter pertama dipimpin oleh Utsman Bin Affan. Sedangkan Hijrah Kloter kedua dipimpin Jakfar Bin Abi Thalib.”

“Pasca wafatnya pamanda Rasulullah saw, yakni Abu Thalib, yang senantiasa memberikan pertolongan dan perlindungan dakwah kepada Baginda Nabi, serta kembalinya Ibunda Ummul Mukminin, Khadijah ra, kehadirat Allah SWT, maka Nabi beserta Sahabatnya diperintahkan untuk berhijrah ke Madinal Al Munawwarah.

Sebelum pelaksanaan hijrah kloter 3 ini maka Nabi mengirimkan duta Islam yang perawakannya mirip Nabi dan dikenal sebagai bangsawan rupawan yang tutur katanya lembut, berperangai tenang dan jago retorika. Lelaki tersebut disebut-sebut sebagai artisnya kota Makkah. Siapa dia? Beliau adalah Mushab Bin Umair. Maka lewat dakwah Mushab Bin Umair inilah petinggi Suku Aus dan Khazraj, yang diikuti hampir semua pengikutnya, menjadi orang-orang beriman. Hijrah menjadi kondusif dan daulah Islam Madinah tegak.” Tambahnya.

Sebelumnya, tampil juga KH Nuruddin, Pengasuh Majelis Taklim (MT) Ar Royyan Lenteng Sumenep. Dengan nada menggelegar karena terbakar semangat Badar, maka beliau mengajak hadirin untuk berdakwah mengembalikan penerapan Syariat Islam Kaffah di bumi nusantara dan dunia.

“Pada kesempatan ini, saya mengajak panjenengan semua yang hadir di tempat ini untuk ikut secara aktif berdakwah demi melanjutkan kembali kehidupan Islam kaffah lewat tegaknya Syariah Islam secara totalitas. Jangan sampai umat Islam yang mayoritas di negeri ini, yang oleh Allah dilabel sebagai umat terbaik yang dilahirkan di kalangan manusia, terus menerus menjadi budak di negeri sendiri. Jangan sampai Umat Islam menjadi umat yang lemah dan terpinggirkan di bawah kendali musuh-musuh Islam. Kita harus bangkit.”

Lora In’am Anis, Ketua Majelis Cinta Quran (MCA) Sampang yang tampil setelah KH Ali Fadlil, Pengasuh PP At Taufik sebagai shohibul bait menyampaikan sambutannya, menyampaikan fakta bahwa meski Umat Islam di Indonesia menempati posisi mayoritas (Sensus 2010: Umat Islam sebesar 85,2% dari jumlah penduduk). Namun ternyata hukum-hukum Islam hanya sebagian yang diterima dan diterapkan di bumi nusantara. Sedangkan hukum Islam sebagian lainnya tak diindahkan bahkan dicitraburukkan dan dilabelisasi dengan label yang tak seharusnya.

Beliau menyebutkan contoh labelisasi dan kriminalisasi Islam dan Umat Islam yang dilakukan Barat melalui penguasa antek di negeri-negeri Muslim. “Saat ini siapa yang dilabel teroris? Siapa saat ini yang dilabel radikalis? Fundamentalis? Ekstrimis? Semuanya diarahkan ke Islam dan kaum muslimin yang menginginkan penerapan syariat Islam Kaffah. Labeling tersebut selalu ditujukan kepada orang-orang mukmin yang menginginkan penerapan syariat Islam Kaffah lewat tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Sungguh war on terrorism sejatinya adalah war on Islam. Perang melawan terorisme sejatinya adalah perang melawan Islam. Nah, apakah kita akan diam saja? Ataukah kita perlu melawan?”

Di sela acara Tabligh Akbar tersebut yang bertema “Hijrah Menuju Islam Kaffah”, panitia dan peserta melakukan aksi bentang poster dengan mengangkat lima tagar untuk menggoncang jagat media social (Twitter, Instagram, Facebook, dll). Opini bertagar tersebut dilakukan untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa Islam sebagai solusi dan penerapan syariat Islam sebagai jawaban atas seluruh persoalan kehidupan yang dialami manusia.

Acara Tabligh Akbar ditutup dengan doa yang disampaikan oleh KH Achmad Danniji, Pengasuh Majelis Taklim (MT) Taqarrub Ilallah Sumenep.

Terakhir, yuk, kita jadikan peringatan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1441 Hijriyah sebagai momentum untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan penerapan Syariat Islam Kaffah dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Semoga impian ini segera terwujud di tengah-tengah kita. Aamiin (AR)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *