Forum Simpul Ummat Bantul: Istilah Terorisme dan Radikalisme adalah Bagian dari “Millah” Yahudi dan Nasrani

Forum Simpul Ummat Bantul: Istilah Terorisme dan Radikalisme adalah Bagian dari “Millah” Yahudi dan Nasrani

Bantul, (shautululama.com) – Ahad malam 10/06/18, bertepatan dengan malam ke 26 Ramadhan, sejumlah ulama, asatidz, aktivis dan tokoh umat di Bantul dan sekitarnya mengadakan pertemuan dalam rangka bersilaturahmi dan mudzakarah membahas tema “Mewaspadai Terorisme”. Sebagaimana diketahui bersama, momen menjelang Ramadhan tahun ini diwarnai dengan berita tentang aksi terorisme. Aksi tersebut berdampak secara luas dan menimbulkan keresahan di kalangan pengemban dakwah.

Dalam kesempatan tersebut, habib Muhammad Nahl, selaku tuan rumah memberi sambutan dan pandangan seputar terkait persoalan yang diangkat. Menurut beliau, nikmat iman Islam bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat di Indonesia sungguh patut disyukuri. Rakyat Indonesia yang mayoritas muslim adalah berkat dakwah para Walisongo yang diutus oleh kekhilafahan di masa lalu, dan mereka berdakwah dengan damai tanpa memaksa apalagi melakukan penjajahan. Maka sungguh aneh jika kini dakwah kepada khilafah yang juga tanpa paksaan dan kekerasan, dituduh sebagai radikalisme yang mengarah pada terorisme.

Mengawali pembahasan ustadz Abu Hanif, memberi landasan normatif bahwasanya Islam tidak membenarkan aksi terorisme dengan banyak argumentasi baik dari Quran maupun Hadits.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”, jelas beliau mengutip QS. Al Maidah ayat 32.

Lebih dari itu, pembunuhan itu dilakukan dengan dibarengi aksi bunuh diri, yang notabene jelas-jelas merupakan suatu dosa besar di dalam Islam.

Ustadz Supomo, tokoh mubaligh muda dari Kulonprogo menambahkan,

“Di mana ada pelaksanaan syariah, di situ ada maslahat,” ucapnya. “Maka jangankan bom, menyalakan mercon pun sebenarnya dilarang dalam Islam!”, tandasnya menyindir fenomena kebanyakan pemuda muslim yang senang menyalakan petasan di tengah Ramadhan.

Betapa tidak, menurutnya, selain mengganggu orang, petasan juga merupakan penghamburan uang berujung kesia-siaan. Lebih berfaedah uang untuk membeli petasan digunakan untuk membayar zakat.

“Nah, kalau mercon saja sebenarnya dilarang, apalagi bom! Mercon marak saat Ramadhan, padahal Ramadhan dan mercon, ga ada hubungannya. Begitu juga Khilafah dan bom, tak ada hubungannya!”, pungkasnya.

Dari kalangan akademisi, ustadz Dhuha Gufron mewanti-wanti dengan menyitir Al-Baqarah 120. Bahwasanya Yahudi dan nasrani tidak akan ridho kecuali kamu mengikuti ‘milah’ mereka. Menurutnya, munculnya istilah terorisme dan radikalisme itu juga sebenarnya bagian dari milah mereka. Yaitu istilah-istilah yang dimunculkan untuk membagi-bagi Islam dan umatnya. Mereka membagi Islam moderat, radikal, tradisionalis, fundamentalis, dan seterusnya, itu cara mereka.

Tidak ada dasarnya sama sekali dan tidak pernah disebut-sebut secuil pun istilah-istilah itu di dalam Islam. Maka jangan mau mengikuti milah mereka, meskipun hanya selangkah. Terakhir beliau berpesan,
“Kalau dipersekusi akibat tidak mau mengikuti milah mereka, itu biasa. Maka bersandarlah hanya pada Allah. InsyaAllah, Allah akan menolong kita.”

Ustadz Agung dari Gunungkidul, menyampaikan curhatan banyak pengemban dakwah di wilayahnya. Akibat isu terorisme, para pengemban dakwah dicurigai dan dituduh akan mengajarkan terorisme dan kekerasan. Walaupun sekedar mengajarkan Iqro saja, tetap diwaspadai. Para orang tua justru khawatir ketika anak-anak mereka ngaji, akan jadi radikal.

Fenomena ini patut menjadi keprihatinan bersama. Beliau berkesimpulan dengan logika dasar teori konspirasi, untuk mengetahui dalang dari sebuah peristiwa, lihatlah siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan.
“Ketika yang paling dirugikan dalam isu terorisme adalah Islam, maka mustahil kalau di balik terorisme adalah Islam!”, tegasnya.

Ustadz Ikhsan, pimpinan Majlis al-Ghuroba dari Banguntapan Bantul, menyampaikan takzim kepada para ulama. Di antara hamba-hambaNya, yang paling takut pada Allah adalah para ulama. Wujudnya adalah keberadaan ulama pada garda terdepan perjuangan syariat Islam, apapun konsekuensi yang menghadang. Hingga berhadapan dengan rezim yang sebrutal apapun, tak ada secuilpun rasa takut, karena ketakutannya pada Allah menjadikan segala sesuatu lainnya kecil di hadapan kekuasaan Allah.

Ustadz Kintoko, dari kalangan akademisi, turut memberikan pandangannya bahwa terorisme adalah proyek. Senada dengan ustadz Agung, beliau menyatakan di balik proyek itu tidak mungkin jika ‘aktor’nya adalah dari kaum muslimin. Betapa besar dana yang digelontorkan untuk penanggulangan teroris, yang kemudian korbannya adalah dari kaum muslim sendiri.

Maka sungguh menyakiti hati umat jika terorisme itu malah kemudian diidentikkan dengan islam. Bom bunuh diri disebut-sebut sebagai jihad dalam rangka memerangi musuh islam, padahal korbannya adalah masyarakat sipil, itu semua jelas-jelas tidak ada dasarnya sama sekali di dalam Islam.

Pada kesempatan terakhir, ustadz Yusuf Mustaqim dari Bantul memberikan wejangan. Umat islam harus senantiasa bermuhasabah dalam perjuangannya. Berkaca dari perjuangan para Nabi terdahulu, semakin keras penentangan terhadap dakwah sesungguhnya semakin mengantarkan kita pada tujuan, yaitu kemenangan dakwah, tegaknya Islam. Maka jangan justru melemah di saat-saat seperti ini.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *