Dr. Zuly Qodir, Ahli Kemenkumham di PTUN, Tidak Bisa Menunjukkan Dalil Haramnya Khilafah

Jakarta, (shautululama) – Kehadiran ahli dari Kemenkumham, Zuly Qodir, pada persidangan di PTUN Kamis 5 April 2018 kemarin mendapatkan tanggapan dari banyak ulama. Apa pasalnya, karena pernyataannya sebagai seorang ahli kurang bertanggung jawab, saat melontarkan statemennya di persidangan, dia tidak bisa menjelaskan alasannya.

Dalam persidangan kemarin, Dr Zuly Qodir, ahli yang dihadirkan Kemenkumham, ketika menjelaskan tentang khilafah, dia menuduh HTI telah memperkosa ide khilafah.

Dalam sesi tanya jawab, Jubir HTI Ustadz Ismail Yusanto menyampaikan beberapa pertanyaan kepadanya.
“Apa hukum menegakkan khilafah di Indonesia?” tanya Ustdaz Ismail. “Tidak perlu. Juga tidak boleh,” kata Zuli Qodir.
Ustadz melanjutkan pertanyaannya, “Apa maksud tidak perlu?”
Dia jawab, “Ya, tidak boleh.”
Ustadz Ismail bertanya lagi, “Apa maksud tidak boleh itu, apa haram?” Zuli Qodir pun menjawab, “Ya, haram. Begitulah menurut istilah Anda”

Setelah itu Jubir HTI menyampaikan pendapat para ulama yang menjelaskan tentang wajibnya khilafah, seperti Imam al-Nawawi, Abdurrahman al-Jaziri, Ibnu Khaldun, Wahbah al-Zuhaili, KH Sulaiman Rosyid, KH Munawar Cholil, dan lain-lain. “Mereka semua menyatakan wajibnya khilafah. Bagaimana menurut Anda?” tanya Jubir HTI.
Dia pun menjawab, “Ada juga ulama lain yang tidak mewajibkannya.” Tanpa menyebut satu orang pun ulama yang dikatakannya tidak mewajibkan khilafah.

Jubir meneruskan pertanyaan, “Jika Anda katakan haram, apa dalilnya?” Mendapatkan pertanyaan tersebut, dia tidak segera memberikan jawaban. Hakim kemudian berkata kepada Ustadz Ismail, “Pertanyaan disesuaikan dengan keahliannya.” Lalu dijawab, “Saya menanyakan apa yang tadi dikatakan.”

Mendengar perkataan tersebut, Zuli Qodir pun berkata, “Ya, biarkan saja dia bertanya. Ini kan hanya lucu-lucuan. Ini hiburan saja, kan?” sambil tertawa-tawa merasa tak bersalah.

Hakim pun berkata kepadanya, “Kalau itu di luar keahlian Saudara, Saudara tidak perlu menjawabnya. Sebab, kalau Saudara menjawab, akan terus ditanya,”

Mendengar pernyataan hakim itu, Zuli Qodir pun berkata, “Ya, itu bukan keahlian saya. Saya tidak harus menjawabnya.”

“Sungguh ironis dan parah. Kalau tidak ahli, semestinya tahu diri. Tidak akan menyampaikan sesuatu yang tidak diketahuinya, apalagi menentang pendapat para ulama fiqh mu’tabar. Menjadi lebih parah ketika dia berkata, “Itu hanya lucu-lucuan, hiburan saja”, komentar seorang ulama dari Jakarta yang mengikuti persidangan.

Menurut para ulama yang mengikuti langsung persidangan, dari pagi hingga berakhir, tidak selayaknya dia disebut sebagai ahli.
Saat redaksi shautululama meminta tanggapan dari seorang ulama dari Bogor menyatakan:
“Dia tidak layak disebut sebagai ahli, tidak kapabel, ketika mengatakan khilafah itu tidak perlu, haram. Sementara ulama muktabar mewajibkan dalam kitab-kitab fiqhnya. Namun, ketika ditanyakan mana dalilnya, saya bukan ahlinya. Ini ahli macam apa”, komentar seorang ulama yang mengikuti sidang di luar gedung.

Sungguh ironis, berani bicara tentang hukum syara’, menyatakan khilafah haram, namun tidak bisa menunjukkan dalil keharamannya. Sementara ulama-ulama muktabar dari kitab-kitab fiqhnya banyak mengulas pembahasan khilafah. (hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *