Despianoor, Pemuda Baik, Shaleh, Cerdas, Tidak Maksiat, Tidak Pernah Berbuat Onar

0
218

Kotabaru, (shautululama)  – Kerinduan Nourhidayah, ibunda Despianoor Wardani tak terbendung lagi. Begitu Despi keluar dari ruang sidang Pengadilan Negeri Kotabaru, ia langsung menyambut putranya dengan pelukan. Suasana haru menyeruak ke hadapan pengunjung sidang, para ulama, ustaz dan muhibbinnya yang sengaja datang untuk menghadiri sidang Despi.

Sayang, kebersamaan ibu dan anak ini tidak punya waktu lama, petugas bergegas membawa Despi yang tangan kirinya terborgol dengan tangan kanan Rusdi, masuk ke dalam mobil tahanan untuk dikembalikan ke Rumah Tahanan Polres Kotabaru.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dan ahli dalam kasus Despianoor Wardani, aktivis dakwah yang dijerat dengan ‘pasal karet’ UU ITE pada Kamis (1/10/2020) berlangsung hampir seharian, sejak pukul 11.00 – 17.00 Wita, walau sempat beberapa kali diskors oleh majelis.

Walau terlihat lelah, ibu Despianoor tetap semangat mengikuti persidangan putranya, ia didampingi putranya Septiannoor Wiranata, adik Despi yang setia menghadiri setiap agenda sidang sang kakak. Septiannoor juga yang menggalang petisi di situs www.change.org agar pengadilan membebaskan saudaranya, petisi yang hingga saat ini sudah didukung 5100 lebih tanda tangan.

“Dari kecil sampai dia sekolah, dari SD sampai SMP, SMA, sifatnya pendiam, tidak pernah bertengkar, menurut sama orang tua. Jadi kalau masalah merugikan orang lain tidak ada, dia sekolah rangking satu rangking dua. Sama teman-temannya tak pernah bermasalah,” ujar Nourhidayah berbicara kepada media usai sidang.

Terkait apa yang dihadapi Despi ia mengisahkan, anaknya tersebut sempat bebas, tidak ada masalah selama dua hari di rumah. Ternyata dijemput lagi sama Polres.

“Yang itu biarlah kami jalani. Tapi harapan kami, sekeluarga, saudara-saudaranya, paman-pamannya, ini tidak diperpanjang, Despi bebas dan berkumpul bersama keluarga, sama ibu,” ujarnya lirih.

Sementara itu, dalam persidangan Kamis (1/10/2020) juga dihadirkan saksi seorang teman Despi yang menceritakan, tentang teman satu kelasnya saat di SMA tersebut kepada media.

“Saya tahu betul karakternya. Dia anak baik, soleh, cerdas, berprestasi, rangking kelas, tidak pacaran, tidak maksiat, tidak pernah buat onar. Postingannya di sosmed saya pahami dia menyampaikan dakwah, menyampaikan kebaikan,” terangnya.

Teguh pun berharap agar sahabatnya tersebut diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi perkara ini. “Harapan saya semoga Despianoor bisa kembali bebas dan dapat melakukan aktivitas dalam kesehariannya,” tandasnya.

Despianoor Contoh Pemuda Berahlak Mulia

Sementara itu, meski tidak sempat berkata-kata, Despianoor tampak lebih bersemangat usai sidang Kamis (1/10/2020). Selain kehadiran ibunda, ia juga menyaksikan langsung dukungan terhadapnya dari para ulama dan tokoh agama yang datang dari berbagai penjuru Banua. Maklum saja, dalam tiga agenda sidang sebelumnya, Despiannoor hanya mengikuti sidang secara daring.

“Despianoor ini berdakwah tentang materi Islam secara kaffah, mengikuti jalan dakwah Nabi Muhammad SAW. Hati- hati bagi siapapun yang menzolimi orang yang melaksanakan perintah Allah. Despi hanya orang kecil, tapi dia punya Allah,” ujar Ustadz Syarif, Pimpinan Majelis Ashabul Quran, pengunjung sidang dari Banjarmasin menyampaikan alasan kehadirannya untuk memberi dukungan kepada Despi.

Senada, Pimpinan Majelis Taklim Riayatul Ummah Kota Banjarbaru, Ustadz Maqsum mengatakan, bahwa dakwah adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dan Despiannoor hanya melaksanakan kewajibanya yaitu berdakwah jadi sepantasnya lah dia dibebaskan.

Sementara itu, Kuasa Hukum Despianoor dari Lembaga Bantuan Hukum Pelita Umat, Janif Zulfiqar SH SIP MSi berkesimpulan, dari persidangan dan keterangan saksi-saksi mengungkap fakta, bahwa yang disampaikan kliennya bukanlah ujaran kebencian, tapi konten-konten ajaran Islam.

“Fakta persidangan juga mengungkap bahwa Despianoor banyak memberikan pengaruh positif, malah dia adalah contoh pemuda berahlak mulia,” ujarnya. (tik/hs)