Demokrasi Imporan Amerika, Syariah Khilafah Kewajiban Allah dan Rasul-Nya

Banten, (Shautululama) —“Demokrasi itu imporan dari Amerika. Anggota DPR tidak lagi menjadi wakil rakyat tapi Dewan Perwakilan Rezim,” ungkap KH Mamak Zamakhsyari (Ulama ASWAJA Pandegelang Banten) di Multaqa Ulama Aswaja Nusantara, Ahad (30/8/2020). Beliau pun memberikan semangat kepada para ulama untuk menonton film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN).

Buya Rozy Saferi (Ulama Aswaja Minangkabau Sumatera) mendetailkan pembahasan bahwa mengangkat seorang imam dan khalifah untuk merealisasikan kepentingan (Islam) hukumnya wajib. Karena Islam berkaitan dengan urusan agama, sosial, dan kehidupan.

“Maka esensi dari penegakkan khilfah itu bukan ala madzhab Imam Syafi’i. Jadi jejak khilafah dalam fiqh itu fakta dan bukan fiktif.”

Pengakuan mengejutkan datang dari Tengku Ferdyansah Sofyan (Ulama Aswaja Aceh Darussalam). Beliau membeberkan bukti dan fakta sejarah hubungan khilafah dengan nusantara, khususnya di Aceh.

“Hari-hari ini kita menyaksikan baik dalam bentuk makam prajurit yang sampai sekarang terlihat nyata. Ratusan mereka syahid. Sudah menjadi takdir Allah Aceh menjadi bagian dari khilafah,” tandasnya.

Aceh merupakan kejayaan di Selat Malaka. Kekuatan adidaya bukan karena bangsa Aceh, bukan karena suku Aceh, karena kami masyarakat Aceh umat Islam dibantu Khilafah Utsmaniyah. Aceh besar sampai Malaysia.

“Bahwa nanti Allah akan mempergilirkan kekuasaan kepada umat Islam akan terwujud mampu kita wujudkan. Wahai ulama, sejarah Aceh adalah bukti mampu mengangkat kita dan mampu menjadi kekuatan yang disegani penjajah kafir. Jika anda ingin dihormati di dunia dan akhirat maka kembali khilafah ala min hajinnubuwwah,” serunya jelas.

Pesan beliau mengingatkan bahwa umat Islam terikat oleh aqidah Islam. Khilafah Utsmaniyah juga turut melatih tentara di Aceh. Indonesia akan menjadi kuat di saat ulama berada di garis terdepan.

“Umat Islam memiliki agenda tersendiri yaitu penegakkan hukum Allah di muka bumi tidak terseret arus politik yang ada,” sambung KH Ainul Yaqin (Ulama Aswaja Semarang Jawa Tengah)

Berkaitan dengan standar yang benar beliau menjelaskan bahwa “Menjadikan tolok ukur kebenaran bukan suara yang banyak. Demokrasi sesat karenat tegak di atas sekularisme. Kalau kita mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi akan tersesat.”

Tambahnya, “Bagaimana berpolitik? Mengikuti Allah dan Rasul tuntunkan. Harus menapaki generasi sebelumnya dengan menempuh jalan nabi. Tidak boleh terjerumus ke jalan yang sama.”

“Oleh karena itu, harus istiqomah pada jalan berjuang untuk mengembalikan kehidupan dengan khilafah ala minhajin nubuwwah. Malam semakin pekat berarti fajar menyingsing. Ini pertanda kembalinya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Hendak menjadi kaum muslim cerdas karena kita berjuang semata-mata untuk akhirat,” pungkasnya.

Multaqa ini diikuti ulama dari seluruh Indonesia. Tampak begitu semangat peserta ulama Aswaja dengan terus bertakbir dan bershalawat. Semoga Allah meneguhkan perjuangan ulama di garda terdepan penegakkan syariah dan khilafah.[hn]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Demi Menjaga dan Menyelamatkan Generasi Muda Bangsa Kita Dari Perilaku Amoral, Ulama Aswaja Surabaya Raya Bermultaqa

Surabaya, (shautululama) – Maraknya kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan melatarbelakangi lahirnya Permendikbud Nomor 30 …