Baru 12 Menit Berjalan, Majelis Hakim Menghilang di Persidangan Despi

0
197

Kotabaru, (shautululama) – Sidang Despianoor Wardani, aktivis dakwah yang ditahan kepolisian, memasuki agenda pemeriksaan 2 saksi ahli dari jaksa penuntut umum. Baru 12 menit berjalan, tiba-tiba majelis hakim menghilang dari pandangan, Senin (05/10/2020).

Setelah hampir 20 menit berlangsung, jaksa baru sadar ada yang tidak biasa dari persidangan kali ini, dan akhirnya menelpon ke Pengadilan Kelas II Kotabaru. Akibat kendala jaringan, majelis hakim pun menskors agenda ini hingga pukul 14.00 WITA.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Jadwal yang dijanjikan pun molor hingga 3 jam, dan baru disambung sekitar hampir pukul setengah 5 sore, ketika sebagian pegawai pengadilan berangsur pulang.

Sering Gangguan dan Kurang Manusiawi

Kejadian berulang ini sangat disayangkan kuasa hukum Despianoor, Janif Zulfiqar, S.H., S.I.P., M.Si. Karena sejak dilangsungkan secara virtual, gangguan seringkali terjadi, mulai dari audio yang tidak jelas, sehingga kesulitan berinteraksi.

“Kami sangat menginginkan sidang ini dilangsungkan secara luring, tapi permintaan kami tidak disetujui, tidak mengapa,” ucap Janif pasrah, saat diwawancarai usai persidangan.

Ia juga mengharapkan persidangan berikutnya bisa berlangsung kondusif, karena setiap kali mendampingi kliennya di rumah tahanan (rutan) Markas Kepolisian Resor Kotabaru, kondisinya selalu tidak menguntungkan.

“Kami mengikuti persidangan virtual ini dari dalam rutan, bukan di pelataran, bukan di samping, bukan pula di teras, tapi di dalam rutan! Suasananya panas, pengap, tidak ada kipas angin, tidak bersahabat, tidak representatif,” ucap Janif kesal.

Suasana tersebut tidak hanya dirasakannya, melainkan juga para kru kejaksaan yang mempersiapkan sambungan sidang daring dari dalam rutan.

Dengan berbagai kendala ini, Janif berharap, pihak aparat penegak hukum bisa memfasilitasi tempat yang lebih memadai bagi kliennya. Agar suasana sidang dapat berjalan lebih kondusif.

Seperti diketahui, persidangan ini dilangsungkan virtual, dengan alasan mencegah penularan Covid-19, yang sempat menjangkiti sebagian tahanan.