Aksi Bela Tauhid 212, Hanya Aqidah Islam Telah Menyatukan Umat Islam

0
617

Makassar, (shautululama) – Durus al Masjid, Kajian rutin bulanan, Kajian Islam Kaffah di Masjid Baiturrahman Perumahan Sudiang Makassar, pada edisi bulan Desember mengangkat topik “Merawat Spirit Bela Tauhid”.  Al Ustadz Muh. Kemal Idris, selaku pengasuh menyampaikan bahwa misi dari semua Nabi dan Rasul Allah adalah untuk mentauhidkan Allah.

“Ini merupakan inti dari semua ajaran yang dibawa oleh para utusan Allah”, tutur beliau.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Beliau mengutip QS. Al Anbiya’: 25.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan bahwa, “Apa yang  telah kita saksikan pada peristiwa Bela Tauhid 212 yang lalu, mampu menghadirkan 13,4 juta manusia di Monas adalah bukti kekuatan kalimat tauhid yang merupakan prinsip utama bagi kehidupan umat Islam”.

Aksi Bela tauhid 212 ini, merupakan cerminan umat Islam sesungguhnya yang menginginkan persatuan di bawah kalimat tauhid.

Salah satu peserta kajian, al mukarram ustadz Borahima, muballigh sekaligus Imam Masjid Baiturrahman, menanggapi apakah spirit bela tauhid ini bisa juga dilaksanakan di daerah, khususnya terkait Pemilihan Umum, untuk kemenangan umat Islam.

Menanggapi pertanyaan ini, Ustadz Kemal, mengatakan bahwa Aksi Bela Tauhid ini adalah murni dorongan aqidah tanpa tendensi lain, meski ada yang memanfaatkan.  Namun yang dominan adalah karena mereka demi menunjukkan pembelaan pada kalimat tauhid yang telah dinistakan, menyatukan perasaan umat Islam.

Kalau Aksi 212 tahun 2016 itu karena Al Quran dihinakan, sekarang Aksi 212 tahun 2018 karena kalimat tauhid dinistakan. Jadi faktor pemersatunya adalah Islam, Al Quran dan kalimat tauhid.

Beliau juga tambahkan bahwa kesukseaan Aksi Bela Tauhid 212 ini, terhimpun tiga faktor, yaitu adanya sarana komunikasi (medsos), issu dan musuh bersama. Issunya adalah Bela Islam, Bela Kalimat Tauhid. Ini murni tanpa tendensi, sedangkan bila dicampuri perkara lain sulit terwujud.

“Makanya tidak ada yang bisa mengklaim dan merasa paling berjasa mengumpulkan orang sebanyak itu, karena semua digerakkan oleh Allah, karena getaran yang sama yakni simbol persatuan umat pada kalimat tauhid tersebut”, jelas Ustads Kamal (hs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here